
[Sumber gambar: https://google.com]
Penulis: Heri Isnaini
Pada tahun 1990-an, foto bukan sesuatu yang instan. Ia adalah peristiwa yang ditunda. Setiap kali tombol kamera ditekan, yang dihasilkan bukan gambar, melainkan harapan. Tidak ada layar untuk mengecek ulang. Tidak ada opsi menghapus. Yang ada hanya keyakinan sekaligus keraguan bahwa momen itu benar-benar tertangkap.
Kamera saku dengan roll film 24 atau 36 menjadi benda yang diperlakukan dengan hati-hati. Tidak semua momen layak difoto. Ulang tahun, kelulusan, atau kunjungan keluarga besar adalah peristiwa yang dianggap pantas mengorbankan satu frame. Selebihnya disimpan dalam ingatan. Mungkin karena itu, kenangan terasa lebih tajam karena tidak semua hal bisa didokumentasikan.
Menunggu cuci film adalah pengalaman tersendiri. Datang ke studio foto kecil di pinggir jalan, menyerahkan roll film dengan perasaan waswas, lalu menerima janji “Tiga hari lagi.” Tiga hari yang dipenuhi spekulasi. Apakah gambarnya terlalu gelap? Apakah kepala terpotong? Apakah jari menutup lensa? Semua kemungkinan itu hidup bersamaan, tanpa bisa diperiksa.
Ketika amplop cokelat itu akhirnya diterima, membukanya terasa seperti membuka rahasia. Foto-foto keluar satu per satu, sedikit melengkung, berbau khas kertas kimia. Ada yang buram. Ada yang terlalu terang. Ada yang justru menjadi favorit tanpa alasan yang jelas. Di sanalah saya belajar bahwa foto tidak selalu soal ketepatan teknis, melainkan rasa yang tertinggal.
Album foto di rumah bukan sekadar tempat menyimpan gambar. Ia adalah arsip keluarga. Foto-foto diselipkan dalam plastik bening, disusun tidak selalu kronologis, dan sering kali ditemani keterangan lisan “Ini waktu kamu masih kecil,” atau “Yang ini sudah almarhum.” Album menjadi ruang narasi, tempat cerita bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada ritual membuka album itu—biasanya saat lebaran, hujan panjang, atau ketika listrik padam. Kami duduk berdekatan, membalik halaman pelan-pelan. Foto menjadi pemicu cerita, tawa, dan kadang hening. Beberapa wajah tidak lagi hadir di dunia nyata, tetapi tetap hidup dalam ukuran 3×4 atau 4R.
Hari ini, foto menjadi berlimpah. Ribuan gambar tersimpan di gawai, tetapi jarang benar-benar dilihat ulang. Tidak ada lagi proses menunggu, tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi seleksi. Semua bisa direkam, dan justru karena itu, banyak yang terlewat.
Foto cetak tahun 1990-an mengajarkan saya satu hal penting bawa “kenangan membutuhkan jarak”. Jarak waktu untuk menunggu. Jarak emosi untuk menerima hasil apa adanya. Dan jarak fisik untuk menyentuh, menyimpan, dan membuka kembali.
Barangkali itulah sebabnya, hingga hari ini, satu foto cetak yang sedikit buram terasa lebih hidup daripada seribu gambar digital yang tidak pernah dibuka. Karena di dalamnya tersimpan bukan hanya wajah dan latar, tetapi juga kesabaran, harapan, dan rasa ingin tahu yang dulu kami rawat bersama.
4 Februari 2026











Tinggalkan Balasan