
[Sumber gambar: https://www.detik.com/]
Penulis: Heri Isnaini
Sore itu hujan baru saja reda. Saya dan istri memutuskan menonton film Alas Roban di salah satu mal di Kota Bandung. Pilihan film horor, sebenarnya, bukan sesuatu yang kami rencanakan lama. Lebih seperti mengikuti rasa penasaran: bagaimana sebuah hutan, yang namanya begitu akrab di telinga, diangkat kembali ke layar lebar.
Lampu bioskop padam. Layar menyala. Dan sejak itu, saya tahu: ini bukan sekadar film horor untuk menakut-nakuti penonton.
Perjalanan yang Tampak Biasa, Tapi Menyimpan Petaka
Alas Roban (2026) bercerita tentang Sita, seorang ibu tunggal, dan putrinya, Gendis, yang tunanetra. Mereka pindah ke Semarang demi pekerjaan, sebuah motif yang sangat manusiawi dan sangat dekat dengan realitas hari ini, yaitu berpindah kota demi nasib yang lebih baik.
Namun, perjalanan malam melewati Alas Roban mengubah segalanya. Bus mogok. Kabut turun. Dan sejak itu, cerita mulai bergeser dari realisme ke wilayah yang lebih gelap dan tidak nyaman.
Dalam sastra, perjalanan seperti ini bukan hal baru. Ia adalah perjalanan ambang, ketika manusia melangkah dari dunia yang ia pahami menuju dunia yang menuntut kepasrahan.
Alas Roban: Bukan Sekadar Hutan
Alas Roban dalam film ini tidak berfungsi hanya sebagai latar. Ia adalah tokoh diam yang terus mengawasi. Dalam kebudayaan Jawa, hutan selalu berada di luar tata tertib sosial. Ia bukan desa, bukan kota. Ia wilayah antara tempat manusia sering kehilangan arah, baik secara fisik maupun batin.
Urban legend Alas Roban tentang kecelakaan, orang hilang, dan jalan yang terasa “tak pernah habis” bukan sekadar cerita seram. Ia adalah ingatan kolektif. Film ini tidak menciptakan ketakutan dari nol, tetapi menghidupkan kembali ketakutan yang sudah lama kita simpan.

Gendis dan Penglihatan yang Tidak Kasatmata
Salah satu keputusan paling kuat dalam film ini adalah menjadikan Gendis, anak tunanetra, sebagai pusat konflik. Ia tidak melihat dunia dengan mata, tetapi justru menjadi yang pertama “melihat” gangguan dari dunia lain.
Dalam tradisi sastra dan mistik Nusantara, ini bukan kebetulan. Anak-anak, terlebih yang dianggap “rentan”, sering digambarkan memiliki kepekaan batin. Tubuh Gendis menjadi ruang perebutan antara masa lalu dan masa kini, antara janji yang dilanggar dan tuntutan yang kembali.
Kerasukan Gendis bukan sekadar adegan horor. Ia adalah metafora kesalahan orang dewasa sering kali dibayar oleh generasi yang tak tahu apa-apa.
Dewi Raras dan Janji yang Tidak Pernah Mati
Sosok Dewi Raras hadir sebagai representasi janji ritual masa lalu yang diingkari. Namanya indah, kehadirannya mengerikan. Ia tidak tampil sekadar sebagai hantu, melainkan sebagai penagih hutang spiritual.
Dalam budaya Jawa, janji (terlebih yang bersifat sakral) tidak pernah benar-benar selesai hanya karena waktu berlalu. Film ini mengingatkan kita: ada hal-hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja hanya karena manusia merasa telah move on.
Ibu, Ketakutan, dan Pertaruhan Terbesar
Sita, sebagai ibu, adalah jantung emosional film ini. Ketakutannya bukan pada hantu, melainkan pada kemungkinan kehilangan anak. Di sinilah horor Alas Roban menjadi sangat manusiawi.
Dibantu Anto dan Tika, Sita berpacu dengan waktu sebelum malam keramat tiba. Namun, perlombaan ini bukan hanya melawan entitas gaib, melainkan melawan sejarah yang tidak ia ciptakan sendiri.
Horor yang Diam, Tapi Mengendap
Yang saya rasakan sepanjang film, dan bahkan setelah keluar bioskop, bukan teriakan, melainkan ketidaknyamanan yang menetap. Film ini lebih sering berbicara lewat sunyi, kabut, jalan yang berulang, dan rasa “seharusnya tidak lewat sini”.
Sebagai penonton, kita tidak diajak lari. Kita diajak berhenti. Dan dalam horor, berhenti sering kali lebih menakutkan. Ketika film selesai dan lampu bioskop menyala, saya dan istri berjalan keluar. Mal kembali ramai. Bandung kembali seperti biasa. Tetapi film ini menyisakan satu kesadaran sederhana namun mengganggu “Bahwa manusia modern, dengan segala rasionalitasnya, tetap rapuh di hadapan alam, sejarah, dan janji yang pernah diucapkan.”
Bandung, 22 Januari 2026












Tinggalkan Balasan