Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Es Cendol di Penghujung Senja

[Summber gambar: AI]

Penulis: Neng Alismi Anjarwati

Kapan terakhir kali kamu menatap senja dengan luka itu? Luka, rindu itu sangat melukaimu bukan? Tapi, setelah beberapa putaran purnama yang terasa lambat itu akhirnya luka itu pulih. Berjalan ditemani senja yang menyala layaknya kebakaran hebat di ufuk barat, yang perlahan padam ditenggelamkan langit malam. Mega merah itu terbenam, saatnya istirahat dari bisingnya dunia dan istirahat dari rindu di senja hari. (Kembang)

Jarum jam telah menunjukkan pukul empat sore.

“Ibu, hati-hati ya pulangnya!” kata seorang anak dengan rambut ikalnya yang terikat.

“Kamu juga hati-hati ya nak!” ucap Kembang sambil tersenyum manis dengan tahi lalat di dagu kanannya.

“Oh iya Bu, tugas mind map-nya dipresentasikan minggu depan?” tanya anak itu lagi.

Kembang menjawab dengan penuh semangat dan candaan “Dipresentasikan, kamu yang pertama tampil yaa!”

“Ibu …” anak itu seketika mengernyitkan dahi sambil menggerutu. Senang sekali Kembang menggoda muridnya dikala jam pelajaran telah selesai.

 Sore itu, Kembang menyusuri jalanan aspal yang masih sangat rapi tanpa lubang-lubang kerusakan yang dapat mengganggu pengendara. Ia selalu berjalan kaki, dari tempat tinggalnya menuju sekolah hanya berjarak lima ratus meter, itu cukup menjadi alasan mengapa ia lebih senang berjalan kaki. Kembang akan selalu berjalan tenang, baik pagi ketika berangkat maupun sore ketika pulang. Menurutnya berjalan tenang tak akan membuat tubuhnya kegerahan, angin pagi atau sore yang segar akan selalu menemani perjalanannya. Kembang, pelajar di perguruan tinggi yang dipanggil ibu guru itu sedang melaksanakan praktik dari kampusnya. Kehangatan dan riangnya menjadi segmen terfavorit anak didiknya di kelas. Muridnya pernah mengakui bahwa ia tak pernah marah sama sekali, karena ketika ia memarahi teman sekelasnya ibu guru itu sangat menggemaskan, itulah salah satu pengakuan muridnya tentang gurunya, dan tentu saja Kembang tak akan dengan amarah ketika menghadapi muridnya.

Di balik perjalanannya, ia menyimpan rindu yang cukup. Cukup ukurannya, tak begitu besar, juga tak begitu kecil hingga nyaris hilang ditelan waktu yang berjalan. Rindu itu seimbang, sejak saat ia memutuskan untuk sembuh dari luka akibat merindu itu. Kembang tetap melangkah. Hidup tentu saja bukan soal menyuapi perasaan setiap harinya, hidup juga perlu logika untuk tetap bertahan selama masih menapak di bumi, selama belum didekap bumi. Biar saja perasaan rindu itu ikut berjalan menemani langkah-langkahnya setiap hari, setiap tahap dalam hidupnya.

Di tempat kelahirannya, ia meninggalkan segudang rindu itu. Ia tumbuh disana, bersekolah disana, dan bermain disana. Bermain ditemani kawan setianya Biantara. Kembang tentu saja tak pernah ubah, ia periang sejak ia masih kanak-kanak. Senyumannya membuat orang lain ingin selalu menyapanya. Biantara selalu menyempatkan waktunya untuk bermain dan menjaga Kembang kecil yang manis dan periang itu. Bermain apa saja yang mereka temukan, membuat mobil dari kulit jeruk, membuat senjata tembak dari kayu dengan peluru dari bunga rumput liar, berburu belalang, memanen buah-buahan di kebun atau bermain masak-masakan di pinggir sungai. Rumah Kembang dan Biantara yang hanya terhalang dua rumah saja, hal itu memudahkan Biantara menjaga Kembang saat berada di luar rumahnya. Siapapun yang melihat mereka berdua sedang bermain, akan tampak yakin bahwa mereka adalah kakak beradik yang tak dapat dipisahkan.

Biantara dikenal tak banyak kata, lebih suka membaca buku atau komik yang ibunya berikan, atau menghabiskan waktu istirahat dengan belajar. Nilai-nilai akademiknya menjadi kebanggaan guru-gurunya di sekolah. Tapi diam bukan berarti tak punya musuh, ia tak mencarinya, ada yang datang menyatakan dirinya musuh Biantara dan tentu saja ingin mengajak bertengkar. Biantara tak peduli, ia hanya diam dan membiarkan Kembang berlari lebih dahulu. Ia diam, menatap lurus ke depan, malas berbincang dengan anak yang mengaku musuhnya itu. Kembang menantinya, mengkhawatirkannya, tapi ia tak berani bertanya, ia asyik bermain masak-masakan, berpura-pura tak tahu apa-apa, padahal pikirannya ribut ingin mengetahui apa yang terjadi pada Biantara dan teman-temannya.

Kembang yang periang itu sangat bahagia saat duduk di bangku SMP dan mendapatkan banyak teman. Tetapi sepasang kakak beradik itu tak dapat dipisahkan juga. Kembang mengetahuhi daftar hadir perpustakaan akan dihiasi oleh nama Biantara. Kembanglah yang tak ingin melewatkan waktu seharipun tanpa Biantara. Setiap bel istirahat, ia akan beristirahat dengan tergesa-gesa, untuk segera pergi ke perpustakaan menyusul sang kakak, mecari buku bacaannya dan duduk di seberang rak tempat kakaknya biasa membaca buku. Biantara juga senang duduk di bangku SMP, buku bacaannya semakin luas di perpustakaan, tidak lagi harus menunggu ibunya membelikan atau bosan dengan perpustakaan sekolah dasar.

Biantara ternyata juga tak ingin melewatkan waktu tanpa Kembang. Suatu pagi yang menyedihkan, ketika ibu kembang datang ke rumahnya dan menitipkan surat sakit padanya untuk disampaikan pada guru di sekolah. Surat sakit siapa lagi kalau bukan Kembang adik kecilnya. Hari itu ia harus berjalan tanpa sang adik yang selalu riang, perpustakaan tanpa sang adik di seberang rak. dan bermain tanpa sang adik. Biantara kehilangan sedikit semangat, meskipun hal itu tak akan tampak terlihat oleh siapapun, karena ia memang selalu diam dengan ekspresi wajah yang sama. Ia memutuskan untuk menemani ibunya di dapur. Ada wangi gurih dan lezat yang tercium, hingga menggugahnya untuk menuju aroma itu, bacaannya di siang itu rasanya tak asyik.

Wangi gurih itu adalah santan kelapa yang sedang dididihkan ibunya, ia segera ditugaskan untuk menyiapkan cairan gula merah yang telah dipotong menyisir. Ibunya telah selesai menyiapkan cairan santan, tinggal menyiapkan adonan untuk dimasak.

“Itu untuk apa Ibu?” tanya Biantara.

“Membuat es cendol, Bian” ibunya menjawab tanpa menoleh, lebih fokus menakar tepung beras, tepung tapioka, dan mencampurkannya ke dalam panci bersama jus daun pandan, tepung agar dan sejumput garam. Lalu memasaknya hingga menjadi adonan yang matang dan pas untuk dicetak dengan cetakan khusus untuk membuat cendol.

Adonan yang telah dicetak akan jatuh ke dalam air es dan siap untuk ditiriskan, lalu dinikmati dengan dicampur dengan larutan santan dan larutan gula yang telah disiapkan. Tambahan es batu yang semakin membuat es cendol itu lebih menarik untuk dinikmati.

“Bian, tolong antarkan ini ke rumah Nenek Sarinah dan rumah Bibi Sukma dan Kembang!” sang ibu meminta Biantara untuk mengantakan hidangannya kepada dua rumah tetangga yang berderet tak jauh dari rumahnya.

Teng neng … bel telah ditekan oleh Biantara, dan menunggu pemilik rumah keluar membuka gerbang. Lama sekali pintu rumah itu terbuka, lalu munculah Kembang dengan lambatnya berjalan dan kesusahan.

“Kembang ..” teriak Biantara sambil berlari mendekat Kembang tanpa meminta izin masuk menerobos gerbang.

“Bian .. aku jatuh di tangga tadi malam” ucap Kembang tanpa menunggu Biantara bertanya, karena pastilah hal itu yang akan ditanyakannya pertama kali.

“Kenapa bisa?” tanya Biantara dengan penuh cemas.

“Aku memang lari-lari di tangga” jawab Kembang dengan wajahnya yang mengejek Biantara.

Tentu saja Biantara hanya bisa menahan marah dan cemas dalam hatinya akibat ketidak hati-hatian Kembang. Tak lama datanglah ibu Kembang dari luar gerbang. Menanyai kedua anak itu sedang bermain apa, dan mengira Biantara datang untuk menjenguk gadis cantiknya itu. Segeralah Biantara menyerahkan titipan ibunya kepada ibu Kembang.

“Wah ibumu membuat es cendol Bian. Dari dulu kami sering membuatnya bersama, Bian. Rasanya pasti tidak akan berbeda es cendol buatan ibumu dan es cendol buatan bibi” sambut ibu Kembang yang segera menyajikannya dalam gelas untuk kedua anak yang sedang berbagi cerita di depan rumah itu.

“Bian. Aku juga bisa membuat es cendol seenak ini, aku sudah belajar bersama ibu” ucap Kembang pada Biantara yang sedari tadi memerhatikan luka di kaki Kembang.

“Aku baru membantu Ibu membuatnya tadi siang” Biantara menceritakan kemampuannya juga dalam membuat minuman lezat itu.

“Ah pasti aku yang lebih jago membuat es cendol itu” tentu saja Kembang tak mau kalah.

“Ayo nanti kita membuatnya Kembang, jika kaki nakal kamu sudah sembuh” ucap Biantara dengan penuh semangat.

Kembang menyahut dengan sangat riang “Ayo Bian, janji yah, sore-sore seperti ini memasaknya di dapur Bibi Kinasih”.

“Ya Kembang!” ucap Biantara sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

Tentu saja sore itu jingga memancar sangat menakjubkan di langit barat. Tak heran jika Kembang ingin sekali menikmati sore indah itu di lain waktu bersama Biantara kakak tersayangnya.

“Aku pulang dulu Kembang, aku janji kita akan membuat es cendol yang lezat ditemani senja yang persis seperti ini” tegas Biantara pada Kembang setelah berpamitan pada ibu Kembang. Lalu mengantar Kembang masuk ke dalam rumah sebelum benar-benar pulang ke rumahnya.

Enam tahun berlalu. Janji itu lenyap bak jingga indah di senja hari yang ditenggelamkan langit malam. Entah dimana Biantara. Pergi meninggalkan rindu yang sangat melukai. Biantara, ialah rindu yang melukai itu. Rindu yang tentu saja hadir akibat kepergiannya. Luka yang membuat Kembang tak ingin lagi menatap senja yang indah. Tak ingin lagi menikmati es cendol yang sama lezatnya, yang tak pernah berubah takaran resepnya. Baik cendol ibu ataupun neneknya. Tak ada yang mengetahuinya. Ia akan berlagak seolah telah menikmati es cendol lezat itu. Di persembunyiannya ada hati yang merindu, ada luka yang semakin menyebar goresannya, hingga ia hanya bisa mencicipi satu atau dua sendok saja. Hanya untuk memastikan rasanya tak ubah sedikitpun. Kemana Biantara dan janjinya? Kemana dia yang selalu mencari Kembang kala Kembang tak ada di dalam pengawasannya?

Hingga suatu senja yang redup, Kembang memilih sembuh dari luka, bangkit dari kecewa, dan hilang dari rindu. Sebuah akun berada di hadapan Kembang, dilindungi kaca monitor. Akun dalam sebuah platform media sosial dengan nama ‘antara_bi’. Tentu saja Kembang tak akan melewatkan keanehan itu. Ia muncul saat Kembang tak mencarinya. Kembang kehabisan tebakan nama untuk mencari sebuah nama ‘Biantara’ dalam berbagai platform media sosial. Membekulah Kembang dalam diam, perasaan aneh menyeruak, membawa panas di telinga dan sekitar wajahnya. Kembang bersedih atau bahagia? Kembang marah atau merindu? Tangannya tak mampu bergerak, air matanya menghalangi jarak pandangnya. Kembang telah lelah mencari kabar yang dinanti, Kembang telah lelah menunggu janji yang ingin ditepati. Hilanglah sudah kekacauan perasaan itu. Kini hembusan angin mampu mendinginkan kegerahannya. Melesat jari lentik Kembang menelusuri pengguna akun mengejutkan itu. Lalu ternyata Kembang harus tersenyum, melupakan janji yang dinanti. Janji itu barangkali tetap ia tepati meski bukan pada makhluk yang ia beri janji. Akun itu tak terkunci, tapi tak ada aktivitas apapun di dalamnya. Hanya ada catatan pengakuan sang pemilik akun ‘UR Bian’. Tentu saja Kembang akan segera menyangkal rindu-rindunya. Kembang tak akan lagi menanti apapun. Biantara yang berjanji itu, kini milik orang lain. Entah kekasihnya, entah istrinya. Janji Biantara bukan lagi untuk sang adik kecilnya. Biantara biar saja menjadi kenangan.

Tiga bulan berlalu, libur perkuliahan tinggal menghitung hari. Kembang telah menyelesaikan tugas-tugasnya. Hal ihwal laporan pekerjaannya tak akan ia biarkan menanti diselesaikan. Ia tak suka berlomba dengan waktu. Ia sang pencari waktu luang. Ia penikmat ketenangan. ‘Volunteer’ dan trip adalah dua hal yang tepat untuk menemani liburannya bersama teman-temannya. Perjalanan segera ia lewati. Pergi menuju tempat terpencil di ujung pulau. Ia akan menghabiskan satu minggu penuh menjelajahi pulau itu. Ia akan bertugas membersihkan pantai menanam bakau bersama komunitas, perangkat pemerintah setempat dan warga masyarakat pulau. Pulau itu terpencil, tapi harus rusak karena ulah para pendatang yang datang sekadar berlibur saja. Berbulan bulan pendatang berdatangan membuat pemandangan tak lagi indah, menumpuk sampah di pulau seindah itu. Hingga warga lokal kehabisan kesabarannya. Mereka tak tahan lagi dengan tingkah dan tindakan para tamu dan pendatang itu, mereka tak butuh dikunjungi, tak butuh uang melimpah dari hasil wisata. Warga sangat kompak mendesak perangkat pemerintah agar tak ada lagi pendatang berwisata. Mereka berhasil mengusir budaya baru dengan wisata di tempat itu. Kini mereka harus menyembuhkan pulau itu. Warga yang memiliki pendidikan di kota segera mengabarkan hal itu di media massa. Hingga memikat hati Kembang untuk ikut berpartisipasi menyembuhkan pulau kecil itu. Mahasiswa akan disambut baik oleh warga, karena warga telah memercayai apa yang telah dikabarkan anak cucu mereka pada dunia luar, pasti bisa menyentuh nurani para pecinta keindahan bumi.

Hari ketiga di pulau itu, senja yang mengagumkan. Kembang berbahagia dengan kilauan cahaya yang memantul di air laut. Bibir pantai kembali indah seperti sebelum kedatangan para wisatawan tak beretika itu. Semua relawan sore itu diundang untuk hadir di kantor desa. Kembang dan teman-temannya berada tepat di samping kanan mimbar sebagai tamu khusus. Kembang mengenal wajah itu, wajah yang pernah memberikannya janji. Wajah itu, Kembang tak salah mengira itu. Wajah itu tak ubah. Ada yang ubah. Berdirinya pemilik wajah itu di mimbar adalah sebuah perubahan dari tenangnya. Bicaranya sebuah perubahan dari diamnya. Tetapi pedulinya tetap utuh, tak ubah sedikitpun, tak bergeser dari hatinya. Benar, itu Biantara. Kembang tetap tenang dalam pandangannya, menelaah lebih jauh pembicara yang menyeru kegiatan penanaman bakau di hilir itu. Malam hari tak mampu memejamkan matanya, Kembang larut dalam ingatan di sore itu hingga fajar telah tiba.

Kegiatan hari itu segera dimulai, Kembang telah bersiap mengikutinya. Terik matahari tak mematahkan semangat para relawan dan masyarakat yang berbahagia menyambut pulau yang indah nan sentosa. Kembang terkejut dengan segelas es cendol yang ditawarkan seorang gadis padanya. Rasanya sama, tak ubah seperti yang biasanya ia cicipi dibalik tangisan rindu. Kembang mengikuti kemana perginya gadis itu.

“Ibu isi lagi nampannya!” ucap gadis itu.

“Bibi kinasih” Kembang tak berniat memanggilnya, tapi suaranya lebih dulu terucap dari niatnya. Wanita paruh baya itu menoleh pada suara yang memanggilnya. Panggilan yang sangat ia kenali.

“Kembang” ucap wanita itu sambil menghampiri lalu memeluknya.

“Kembangku yang cantik nan indah” ucap lagi wanita itu.

Ia mengajak Kembang ke rumahnya, sambil tak henti-hentinya mengucap syukur karena telah dipertemukan dengan gadis cantik itu lagi. Mempersilakan Kembang duduk dan membawakannya minum.

“Kembang, sore itu Bibi bergegas pergi kesini, pamanmu terluka parah di pulau ini. Kami memutuskan tidak pulang lagi, kami menetap disini setelah Bian dan Oma menyusul kesini. Kami tidak menggunakan alat komunikasi lagi, karena paman tidak ingin lagi berurusan dengan bekas pekerjaannya di kota. Biantara ingin kuliah di kota, dan kami mengizinkannya karena ia bersikeras untuk itu, dengan alasan ia mempunyai adik untuk sekadar menemani kami setelah Oma pergi. Bian selalu pulang dengan membawa kabarmu dan ibumu. Jadi kami bisa mengetahui perjalananmu dan seluruhnya tentang kamu ataupun ibumu. Dimana tempat istirahat kamu disini Kembang?” tanya ibu Biantara setelah menceritakan banyak hal pada Kembang.

“Dua rumah setelah rumah pak lurah Bi” jawab Kembang dengan penuh lamunan.

“Baiklah, Bibi akan pergi kesana nanti. Bibi selalu membuat es cendol ini di setiap perayaan apapun. Pasti Ibumu juga kan Kembang?” Kembang mengangguk pelan.

“Bibi dan ibumu akan selalu mempertahankan hidangan itu Kembang. Kata Omanya Bian dan nenekmu es cendol harus terus bertahan, karena mereka pernah mempertahankannya, juga nenek moyangnya berabad-abad lalu” ucap ibu Biantara sambil membawa nampan untuk segera membereskan gelas-gelas dan wadah yang telah selesai dipakai untuk menghidangkan es cendol pada para relawan dan masyarakat.

“Bibi biar aku bantu” ucap Kembang menwarkan bantuan.

“Tunggu saja disini Kembang, Bibi hanya sebentar” tangkis ibu Biantara.

Kembang menuruti permintaan ibu Biantara. Jiwanya masih terjerumus dalam lamunan. Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan yang tak mampu dijabarkan dengan cepat dan tepat. Maka dari itu ibu Biantara memintanya duduk saja untuk sekadar menenangkan diri. Tak lama ia lelap dalam pikirannya, dering telepon berbunyi mengejutkan lamunannya.

“Kembang, dimana? Tirtayasa harus ke puskesmas, dia menginjak kaca di hilir, dia kehabisan banyak darah” suara kepanikan dari telepon membuatnya terbangun dari lamunan.

Ia harus segera pergi, kehadirannya dibutuhkan untuk membantu Tirtayasa temannya. Bergegaslah Kembang pergi. Bruk … tubuh Kembang menabrak satu sosok, hampir saja terjungkal. Sosok itu segera menangkap dua siku lengan Kembang yang sedikit melayang. Kembang menyadari siapa sosok itu.

“Kembang!” ucap Biantara.

Kembang segera pergi, mencari ibu Biantara untuk berpamitan pulang.

“Kembang tunggu!” ucap lagi Biantara.

Kembang berlari dan menghiraukan panggilan Biantara. Biantara tak bisa mengejarnya dengan pakaian kotor dan basah setelah menanam bakau di hilir. Biantara membiarkannya pergi dengan sedikit rasa sesal. Ia segera membersihkan diri dan berniat menemui Kembang di tempat tinggalnya di dekat rumah pak lurah itu.

“Bian … Bian ..” ibunya memanggil dari beranda rumah hingga ruang depan.

“Bu, habis mandi” Biantara menjawabnya dari dua pijakan turunan tangga rumahnya dan segera mendatangi ibunya di dapur.

“Ada apa bu?” tanya Biantara .

“Kembang Bian, dia tinggal sementara di rumah dekat pak lurah, katanya seminggu saja disini. Kamu sudah bertemu?” tanya kembali ibunya.

“Sudah bu, tadi di depan rumah kita” jawab Biantara yang sudah rapi dengan kemeja krem panjang yang dilipatnya hingga siku.

“Terakhir kamu tahu kabar dia tiga bulan lalu, sedang mengajar di sekolah bukan? Dia hanya berlibur disini” timpal ibunya.

“Iya Bu, Bian pamit untuk menemui Kembang sore ini” ucap Biantara sambil menadahkan telapak tangannya hendak mencium tangan ibunya.

“Kembang mungkin masih di puskesmas Bian. Tadi dia mau melihat temannya yang kehabisan darah” ibunya menyampaikan informasi yang didapatnya di hilir.

“Oh itu temannya Bu. Tadi dibantu pak RT ke puskesmas, Kalau begitu aku pamit Bu, aku bawa es cendol di thermos mug untuk Kembang Bu, tadi sudah aku siapkan.” ucap Biantara sambil segara berpamitan.

Dering telepon Kembang bunyi kembali. Membawa kabar bahwa Tirtayasa temannya sudah memabaik dan akan segera pulang malam hari diantarkan pak RT dan ditemani Cempaka temannya yang menghubungi dan memberinya kabar mengenai Tirtayasa. Kembang tersenyum lega, temannya sudah ditangani dengan baik.

“Kembang” suara Biantara menggema di beranda rumah tinggal sementara itu.

Kembang menatapnya penuh ragu, segera berlari menuju pintu rumah dan menguncinya. Biantara berlari mengejarnya. Sia-sia, pintunya sudah terkunci, dia hanya bisa mengetuknya. Meyakini Kembang masih di balik pintu itu.

“Kembang tolong maafkan aku. Aku tidak pernah pergi. Aku tahu setiap langkahmu. Aku tidak pernah jauh. Aku bahagia kamu selalu kuat. Aku bahagia kamu selalu ceria. Aku bangga kamu berdiri sekokoh ini, kamu menyampaikan perizinan ke walikota untuk kehadiranmu disini demi kebangkitan pulau ini, aku tahu itu. Selama ini aku hanya penuh kebingungan untuk pulau ini, tapi kamu berada di balik tidakan hebat ini dengan gagah. Aku hanya mampu menemani seluruh warga, tapi kamu membawa rencana hebatmu ke pulai ini. Sekali lagi aku sangat bangga Kembang. Aku selalu menanti waktu untuk menemuimu dengan pantas. Tapi rasanya ini pertemuan yang luar biasa. Maaf untuk segalanya Kembang” ujar Biantara penuh sedu.

Kembang membuka pintu yang terkunci itu, pintu yang ikut membeku bersama jiwanya.

“Kembang!” ucap Biantara dengan cepat menggenggam kedua tangan Kembang dengan penuh rasa bersalah.

“Maaf Kembang, aku selalu milikmu. Bagaimana denganmu?” ucap Biantara lagi.

Kembang hanya diam terpaku. Menatap tak tentu arah, entah apa yang dirasakannya, entah apa yang dipikirkannya.

“Kembang” ucap Dinar temannya yang baru saja datang.

“Hai, saya Biantara kekasihnya Kembang” ujar Biantara, yang membuat Kembang dan Dinar saling melotot.

 “Saya izin mengajak Kembang ke pantai” ucap Biantara yang mencoba menyapa Dinar dan segera menggenggam jemari Kembang, membawanya pergi menyusuri pantai sore itu.

“Kembang. Kamu milik siapa?” pertanyaan penuh gelisah menyerang Kembang yang masih tidak percaya akan apa yang dilewatinya hari itu.

“Bian. Bukankah kamu mengetahui segala tentang aku? Itu memang aku. Tidak milik siapapun.” Kembang mencoba menegaskan dirinya pada Biantara.

 “Aku hanya berjalan sesuai jalanku. Aku hanya mencoba berdamai dengan kecewa atas kehilangan jejak yang selalu aku buntuti dulu kala. Ternyata kamu menguntitku bertahun-tahun. Aku pikir hidupku damai, ternyata aku diawasi pengecut.” tegasnya lagi.

“Kembang, aku yakin aku tidak akan pernah kehilangan tempat di hidupmu. Aku pengecut. Aku salah membiarkanmu larut dalam kecewa. Aku masih berusaha menyiapkan masa depan kita. Padahal aku bisa saja kehilanganmu kapanpun, terlebih selama aku telah hilang di hidupmu.” Biantara memberikan penjelasannya dengan penuh harap, agar Kembang dengan luas hati menerima permintaan maafnya.

Pecahlah tangisan keduanya di dalam peluk di bawah senja hari itu, dua jiwa dengan hati yang tak mampu lagi membendung rindu yang penuh kebingungan.

“Kembang, selesai kegiatanmu di pulai ini, aku akan mengantarmu pulang bersama ayah dan ibuku. Sudah lama mereka tidak pergi ke kota itu.” ujar Biantara sambil memberikan thermos mug yang berisi es cendol. Jingga yang mengagumkan itu menyaksikan jutaan rindu berterbangan di pantai itu.

Kegiatan volunteer telah tercapai maksimal di pulau itu. Semua telah berjalan sesuai rencana kegiatan dengan hasil memuaskan. Kini pulau itu telah bangkit dan kembali memberikan pesonanya yang indah seperti sedia kala. Hari terakhir adalah perayaan bersama warga dan para relawan, Biantara dan kembang telah menyiapkan es cendol sebanyak-banyaknya untuk dinikmati seluruh warga dan relawan yang datang. Lalu Kembang dan seluruh teman volunteer-nya segera kembali ke kotanya masing-masing.

Seperti apa yang telah Biantara rencanakan, bahwa ia beserta ayah dan ibunya akan mengantar Kembang pulang. Ibu Kembang sangat berbahagia dengan kepulangan Kembang dan kedatangan tamu yang lama sekali tidak berjumpa dan tanpa mendengar kabarnya itu.

Kini Kembang telah melanjutkan perkuliahannya dan Biantara akan segera melangsungkan upacara wisuda.

                                                                                                                                                                                                                                                                    


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

10 tanggapan untuk “Es Cendol di Penghujung Senja”

  1. Avatar anindyaaa
    anindyaaa

    kerennn bangettt

  2. Avatar anindyaaa
    anindyaaa

    kerennn bangettt,,menarikk😍😍

  3. Avatar Riskaaa
    Riskaaa

    Cerpennya menarik, sukaaa alurnya

  4. Avatar Tantri
    Tantri

    Baguus kereennn 🥰

  5. Avatar
    Anonim

    Baguus ceritanyaa, sukaa. Bahagia bangett jadi Kembang, sesuai ekspektasi. Happy ending 🙌

  6. Avatar
    Anonim

    seruu banget ceritanyaa🤩

  7. Avatar
    Anonim

    Aaaa…. Aku suka, bagus banget alurnya, bahasanya, jadi terbawa 🥺❤️

  8. Avatar Mayantika🕊️
    Mayantika🕊️

    Wahhh seru bgtt cerpenya dari sekian cerpen bakal ketebak alurnya tapi yg satu ini bedaaa 🥰

  9. Avatar Mayantika🕊️
    Mayantika🕊️

    Wahhh seru bgtt ceritanya dari sekian cerpen bakal ketebak alurnya tapi yg satu ini bedaaa 🥰

  10. Avatar Virchie
    Virchie

    Bagus dan seru banget cerita nya, jadi di ulang ulang terus bacanya😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *