Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dusun Keboncau: Dari Sawah, Pesantren, Madrasah, dan Bahasa

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Saya lahir dari Dusun Keboncau, sebuah dusun kecil yang secara administratif berada di Desa Ciasem Baru, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Letaknya di wilayah utara Subang, tidak jauh dari jalur Pantura, di hamparan dataran rendah yang sejak lama bergantung pada sawah, sungai, dan irigasi. Secara geografis, Keboncau tidak istimewa. Ia tidak berada di lereng gunung, tidak pula di tepi pantai. Tetapi justru di dataran yang biasa inilah kehidupan ditempa dengan cara yang tidak biasa.

Di peta administratif, Keboncau mungkin hanya satu nama kecil di antara dusun-dusun lain. Namun bagi saya, ia adalah peta batin, yaitu tempat pertama saya belajar tentang hidup, keterbatasan, dan kesabaran. Keboncau bukan dusun yang membesarkan mimpi-mimpi besar sejak dini. Ia tidak menjejalkan ambisi. Ia justru mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana hidup dijalani dengan pelan, keras, dan setia.

Sebagian besar warga Keboncau adalah petani. Orang-orang yang hidupnya bergantung pada sawah, hujan, dan saluran air yang kadang lebih sering bermasalah daripada lancar. Dari merekalah saya pertama kali belajar bahwa kerja tidak selalu menghasilkan kemewahan, tetapi hampir selalu menuntut kesetiaan. Di Keboncau, pagi hari lebih dulu milik sawah daripada sekolah. Lumpur, cangkul, dan terik matahari adalah bagian dari kurikulum tak tertulis masa kecil anak-anak Dusun Keboncau.

Di dusun ini, pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berdampingan dengan kerja. Anak-anak berangkat sekolah setelah membantu orang tua, atau pulang sekolah lalu kembali ke sawah. Tidak ada dikotomi tegas antara belajar dan bekerja. Keduanya berjalan bersamaan, meski sering kali lelah. Keboncau mengajarkan bahwa ilmu dan keringat tidak perlu dipertentangkan.

Bagi banyak keluarga petani di Keboncau, pondok pesantren dan madrasah menjadi pilihan pendidikan yang paling masuk akal. Bukan semata karena alasan agama, tetapi karena pesantren dan madrasah mengajarkan hidup sederhana, disiplin, dan tahan banting. Saya melihat pesantren dan madrasah sebagai ruang yang membentuk karakter secara diam-diam. Di sana, anak-anak desa belajar menundukkan ego, menghormati guru, dan memahami bahwa ilmu tidak selalu harus segera dipamerkan.

Pesantren dan madrasah memberi saya satu pelajaran penting: bahwa pengetahuan tidak pernah terpisah dari etika. Kitab kuning, doa, tirakat, dan kesabaran hidup berpadu menjadi satu. Pendidikan ala pesantren dan madrasah di Keboncau tidak menjanjikan masa depan gemilang, tetapi menyediakan fondasi batin yang kuat untuk menghadapi apa pun di luar sana. Ia tidak membentuk manusia yang berisik, tetapi manusia yang tahu batas.

Bahasa sehari-hari di Keboncau juga membentuk cara saya memandang dunia. Kami tidak berbicara dalam satu bahasa yang โ€œresmiโ€. Yang hidup adalah bahasa campuran: Sunda bercampur Jawa Cirebon. Kadang satu kalimat dimulai dengan Sunda, lalu ditutup dengan logat Cirebonan. Tidak ada yang mempersoalkan kemurnian. Yang penting saling paham.

Bahasa semacam ini mengajarkan saya sejak kecil bahwa identitas tidak harus tunggal. Menjadi โ€œcampurโ€ bukan kekurangan, melainkan kenyataan. Dari bahasa Keboncau, saya belajar bersikap lentur, tidak kaku pada batas, dan tidak sibuk mengklaim keaslian. Bahasa desa mengalir seperti air sawah: mengikuti kontur, tidak memaksa, tetapi sampai ke tujuan.

Keboncau adalah dusun yang tidak banyak berbicara tentang cita-cita besar. Ia tidak sibuk memproduksi mimpi. Namun justru dari tempat inilah saya belajar tentang arti pergi dan pulang. Banyak orang Keboncau yang akhirnya pergi merantau, sekolah, dan bekerja, tetapi dusun ini selalu tinggal sebagai ukuran: tentang kesederhanaan, tentang kerja yang jujur, dan tentang hidup yang tidak perlu berisik untuk bermakna.

Kini, setiap kali saya berbicara tentang sastra, pendidikan, atau kehidupan, saya sadar bahwa fondasinya tidak lahir dari ruang akademik semata. Ia berakar dari Keboncau: dari sawah, pesantren, madrasah dan bahasa yang tidak pernah tunggal. Dusun ini mungkin kecil secara administratif, tetapi ia memberi saya sesuatu yang tidak bisa diajarkan buku: kesadaran akan asal-usul.

Dan barangkali, dari sanalah saya belajar satu hal yang paling penting bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, ia selalu membawa dusunnya sendiri di dalam cara berpikir, menulis, dan memahami hidup.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

4 tanggapan untuk “Dusun Keboncau: Dari Sawah, Pesantren, Madrasah, dan Bahasa”

  1. Avatar Amhar
    Amhar

    Suka, tulisan yang indah

    1. Avatar Heri
      Heri

      Teman semasa sekolah yang pintar Matematika, Nuhuuun Am.

  2. Avatar Dena Wahyudi
    Dena Wahyudi

    Tulisannya sangat indah dan mengalir pak, sangat nyaman dibaca sambil minum kopi

    1. Avatar Heri
      Heri

      Terima kasih Dena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *