
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Hilya Qanita Isnaini
Pada suatu hari, Sella sedang membaca buku di kamarnya. Cuaca terasa sangat panas, sehingga ia membuka jendela agar angin bisa masuk. Saat sedang asyik membaca, tiba-tiba seekor lebah masuk ke dalam kamarnya.
“Halo, Sella. Mau ikut ke dunia permen, tidak?” tanya lebah itu.
Sella terkejut karena lebah tersebut bisa berbicara seperti manusia. “Kenapa lebah bisa berbicara?” tanya Sella dengan heran.
“Rahasia. Sekarang jawab dulu pertanyaanku,” jawab lebah sambil tersenyum.
“Dunia permen? Mauuu!” teriak Sella dengan senang.
“Baiklah,” kata lebah itu. Seketika tubuh lebah berubah menjadi besar. “Ayo naik!”
Sella mengangguk setuju dan naik ke punggung lebah. Mereka terbang melewati awan. Dalam sekejap mata, mereka sudah sampai di sebuah tempat yang sangat indah.
Sella memandangi sekeliling dengan mata berbinar. “Ini… ini nyata?” tanyanya kagum.
“Iya, dong,” jawab lebah itu. “Kamu mau berkeliling?”
“Mauuu!” jawab Sella.
Mereka pun berkeliling dunia permen. Di sana ada air terjun cokelat, awan marshmallow yang empuk, permen berhamburan di tanah, dan rumah-rumah dari biskuit. Sella merasa seperti berada di negeri dongeng.
“Wah, aku seperti sedang bermimpi,” kata Sella sambil tertawa kecil.
“Tapi ini bukan mimpi,” kata lebah. “Dunia permen harus dijaga agar tetap manis.”
Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangisan. Di bawah pohon cokelat, ada seorang anak permen jelly yang sedang menangis.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Sella dengan lembut.
“Awan marshmallow kami mencair karena banyak sampah yang dibuang sembarangan,” jawab anak permen itu dengan sedih.
Sella terkejut. “Kalau begitu, kita harus membantu!”
Sella dan lebah segera membersihkan sampah yang berserakan. Mereka juga membersihkan sungai cokelat yang mulai kotor. Tak lama kemudian, awan marshmallow kembali mengembang dan air terjun cokelat mengalir dengan indah.
“Terima kasih, Sella,” kata anak permen itu sambil tersenyum bahagia.
Lebah mendekati Sella. “Kamu sudah melakukan hal yang baik hari ini.”
Sella tersenyum. “Aku belajar bahwa dunia yang indah harus dijaga kebersihannya, meskipun itu dunia permen.”
Tiba-tiba, cahaya lembut menyelimuti Sella. Ia pun membuka mata dan kembali berada di kamarnya. Buku masih terbuka di tangannya, dan angin sepoi-sepoi masuk dari jendela.
Sella tersenyum kecil. “Aku tidak akan membuang sampah sembarangan lagi,” katanya pelan.
Sejak saat itu, Sella selalu menjaga kebersihan di mana pun ia berada, karena ia tahu bahwa kebersihan membuat dunia tetap indah dan manis, seperti dunia permen.












Tinggalkan Balasan