Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dua Titik Satu Garis

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Kareena Putri Rossalien

     Jarak antara Bandung dan Cikarang mungkin hanya terpaut puluhan kilometer, namun bagi Aina dan Oni, bentangan aspal jalan tol Cipularang terasa seperti berenang di samudera yang tak ada ujung ny. Di sebuah rumah yang sederhana, Aina menatap tugas tugas kuliahnya yang menumpuk seolah tidak ada akhirnya. Matanya pedih, bukan hanya karena kurang tidur mengerjakan tugas kuliah nya, tapi karena menahan genangan air mata. Di sudut layar ponselnya, sebuah pesan singkat dari Oni muncul “Maaf ya, Ain. Minggu ini aku harus ambil lembur lagi. Uangnya mau aku kirim buat sekolah adik di kampung.”

     Aina menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin egois, ingin merengek agar Oni bisa menemuinya sebentar saja ke Bandung. Namun, ia tahu di Cikarang sana, Oni sedang berpeluh keringat di bawah bisingnya mesin pabrik, bergelut dengan panasnya hawa industri demi menyambung hidup keluarga dan menabung untuk kehidupan yang lebih layak. Kehidupan mereka adalah dua dunia yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama adalah demi memiliki kehidupan yang lebih layak.

     Aina di Bandung berjuang untuk mendapatkan gelar sarjana. Ia adalah harapan besar orang tuanya yang hanya pegawai swasta di pabrik. Baginya, setiap lembar halaman tugas makalah dan artikel adalah tiket untuk mengangkat derajat keluarga.

     Oni di Cikarang menjadi operator pabrik yang terjepit di antara target produksi dan biaya hidup yang tinggi. Ia rela makan seadanya asalkan keluarganya di rumah bisa makan layak, dan suatu saat nanti, ia bisa memberikan kehidupan yang layak.

     Mereka terjebak dalam rutinitas yang menyesakkan. Saat Aina butuh sandaran setelah ia di pusing kan oleh tugas tugas yang tak kunjung selesai, Oni hanya bisa hadir lewat suara yang parau karena kelelahan. Saat Oni jatuh sakit karna kecapean saat bekerja, Aina hanya bisa mengirimkan doa dan pesan pengingat untuk minum obat dari kejauhan.

Banyak orang bilang, “Rindu itu indah, rindu itu bumbu cinta.” Namun bagiku, kalimat itu terasa seperti omong kosong. “Lantas bagaimana rindu bisa dibilang indah jika setiap malam aku harus menatap layar ponsel hanya untuk melepas kerinduan? Bagiku, rindu ini siksaan. Ia adalah luka yang terus terbuka setiap kali aku melihat pasangan lain yang bisa bertemu kapan saja,” tulis Karina di buku catatannya.

     Oni pun merasakan hal yang sama. Di tengah kepulan debu pabrik, ia sering melamunkan sejuknya udara Bandung dan tawa Aina. Baginya, jarak ini adalah penjara tanpa jeruji. Suatu sore di penghujung bulan, Oni memberikan kejutan. Tanpa kabar, ia memesan tiket travel terakhir menuju Bandung setelah shift paginya berakhir. Ia tidak peduli betapa capenya dia.

     Mereka bertemu di sebuah tempat makan yang populer di bandung. Tidak ada kemewahan, hanya dua insan yang saling menatap dengan mata sembap penuh dengan kerinduan. “Ain, maaf aku jarang ada di sampingmu,” bisik Oni saat mereka akhirnya duduk berdampingan.

     Aina menggeleng, ia menggenggam tangan Oni yang terasa kasar karena kerja keras. “Jangan minta maaf. Kamu berjuang di sana, aku berjuang di sini. Kita sedang berjuang bersama Oni. Aku percaya suatu saat nanti kita bisa selalu bersama tanpa perlu ada jarak lagi”

     Di bawah langit Bandung yang mulai terang, mereka sadar bahwa siksaan rindu ini adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah kebahagiaan yang permanen. Mereka setuju untuk bersabar sedikit lebih lama lagi sampai toga itu dikenakan Aina, dan sampai tabungan Oni cukupuntuk membangun atap tempat mereka berteduh selamanya.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *