
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Aulya Rahma Indriyani
Aya melangkah meninggalkan halte dengan langkah yang belum sepenuhnya mantap, namun tidak lagi gemetar. Trotoar yang basah oleh embun sore memantulkan cahaya lampu jalan, seperti serpihan harapan yang tak lagi ingin ia kumpulkan satu per satu. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu berlari. Ia membiarkan dirinya berjalan pelan, menyusuri malam yang datang tanpa tergesa.
Di persimpangan jalan, Aya berhenti. Ada toko kecil yang masih membuka pintunya, suara radio tua mengalun lirih dari dalam. Lagu itu asing, tapi entah mengapa terasa dekat. Aya berdiri sejenak, membiarkan nada-nada itu menyentuh sisi dirinya yang lama terkunci. Ia menyadari, selama ini ia terlalu sibuk bertahan hingga lupa bagaimana caranya merasa.
Malam semakin pekat. Di bawah langit yang sama, Aya memikirkan dirinya yang dulu—gadis yang mudah tertawa, yang tak ragu menangis, yang percaya bahwa hidup tak harus selalu dimenangkan. Ia tidak ingin kembali menjadi versi itu sepenuhnya, tetapi ia ingin memeluknya. Mengakui bahwa pernah lelah bukanlah kelemahan, melainkan bukti bahwa ia pernah berusaha.
Ponselnya kembali bergetar, kali ini ia tidak menoleh. Aya tahu, tidak semua panggilan harus dijawab sekarang. Ada waktu untuk kembali, dan ada waktu untuk diam dan mendengarkan suara hati sendiri. Ia memilih yang kedua. Memilih dirinya.
Di tengah langkahnya, Aya berhenti lagi—bukan karena ragu, melainkan karena ia ingin mengingat momen ini. Bahwa pernah ada satu sore, satu halte, dan satu keputusan kecil yang mengubah caranya memandang hidup. Bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan, kadang ia datang sebagai bisikan lembut yang berkata, “Tidak apa-apa, kamu boleh memilih dirimu sendiri.”
Aya melangkah hingga suara kota perlahan memudar menjadi dengung yang jauh. Setiap tapak kakinya terasa seperti pernyataan kecil—bahwa ia masih ada, masih bernapas, masih berhak memilih. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, bukan karena masa lalu tak berarti, melainkan karena ia tak ingin terus hidup di dalamnya.
Sesekali, kenangan datang tanpa diundang. Tentang kata-kata yang pernah melukainya, tentang janji yang tak pernah menemukan rumahnya, tentang dirinya yang terlalu sering mengalah hingga lupa bertanya apakah ia bahagia. Aya membiarkan semua itu lewat, seperti kendaraan di jalan raya—hadir, lalu pergi. Ia belajar bahwa tidak semua luka harus disembuhkan hari ini.
Langkahnya terhenti di tepi jembatan kecil. Di bawahnya, air mengalir tenang, memantulkan cahaya lampu yang bergetar. Aya menatap bayangannya di permukaan air—wajah yang sama, namun dengan mata yang kini lebih jujur. Ia tidak mencoba tersenyum. Ia juga tidak menangis. Ia hanya diam, dan dalam diam itu, ia memberi izin pada dirinya untuk merasa apa pun yang datang.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pelan, entah kepada siapa. Mungkin kepada dirinya yang pernah terlalu keras bertahan, mungkin kepada masa depan yang belum ia kenal. Kata-kata itu tidak menyelesaikan segalanya, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Angin malam kembali berembus. Aya mengangkat wajahnya ke langit yang tak menjanjikan apa-apa. Tidak ada kepastian, tidak ada jawaban. Namun justru di sanalah ia menemukan ruang untuk berharap—bukan berharap pada orang lain, bukan pada keadaan, melainkan pada dirinya sendiri.
Aya melangkah lagi. Tidak dengan keyakinan penuh, tetapi dengan keberanian yang cukup untuk terus berjalan. Ia tidak tahu akan sampai di mana, dan ia tidak menuntut apa pun dari malam ini. Yang ia tahu, ia telah memilih untuk tidak berhenti.
Dan mungkin, esok atau lusa, Aya akan kembali duduk di halte lain, di kota lain, atau di hati yang berbeda. Mungkin ia akan lelah lagi, mungkin ia akan ragu. Namun malam ini, ia membawa satu hal yang tak lagi ingin ia lepaskan: kesadaran bahwa dirinya layak didengarkan.
Langkah Aya menghilang di antara cahaya dan bayangan. Cerita ini tidak selesai—karena hidup pun tidak. Ia hanya berhenti sejenak, memberi ruang bagi kemungkinan, dan membiarkan Aya berjalan menuju versi dirinya yang belum selesai, tetapi sedang tumbuh.













Tinggalkan Balasan