Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari Ruang Ujian ke Ruang Ingatan: Tentang Promosi Doktor dan Jalan Panjang Bernama “Ilmu”

[Sumber gambar: Dokumentasi PBSI IKIP Siliwangi]

Penulis: Heri Isnaini

Dulu, pada tanggal 21 Januari 2021, saya pernah berada pada posisi yang sama, duduk sebagai promovendus, mempertahankan disertasi dan, lebih dari itu, mempertahankan keyakinan bahwa jalan akademik yang saya tempuh memang layak diperjuangkan. Hari itu berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Segalanya terasa sangat formal: jas, toga para promotor, pemimpin sidang, representasi guru besar, dan wajah-wajah serius para penguji. Namun di balik itu ada sesuatu yang sangat manusiawi, yaitu rasa gugup, harap, dan doa yang berdesakan di dada.

Lima tahun berselang, ketika melihat poster Ujian Terbuka Promosi Doktor FPBS UPI ini, ingatan itu datang kembali dengan sangat akrab. Bukan sekadar nostalgia, melainkan kesadaran bahwa promosi doktor bukan hanya peristiwa akademik, melainkan ritus peralihan dari pencari menjadi penjaga ilmu, dari mahasiswa menjadi sejawat.

Pada 26 Januari 2026, dua nama sahabat saya tercantum sebagai promovendus: Diena San Fauziya dan R. Mekar Ismayani. Dua disertasi, dua konteks, dua medan problematika pendidikan, tetapi satu semangat yang sama, yakni keinginan untuk memperbaiki praktik pembelajaran melalui riset yang serius.

Disertasi Diena San Fauziya tentang Project Based Learning berbantuan komunikasi pedagogis dalam pembelajaran menulis artikel ilmiah, mengingatkan saya bahwa persoalan menulis di perguruan tinggi tidak pernah semata-mata soal teknik. Menulis adalah soal keberanian berpikir, kejujuran akademik, dan relasi dialogis antara dosen dan mahasiswa. Komunikasi pedagogis, dalam konteks ini, bukan pelengkap, melainkan jantung dari proses belajar itu sendiri.

Sementara itu, disertasi R. Mekar Ismayani tentang Creative Problem Solving bermuatan literasi numerasi menghadirkan satu kesadaran penting bahwa membaca teks tidak bisa lagi dipisahkan dari kemampuan bernalar. Teks aritmetika sosial bukan sekadar angka, melainkan narasi kehidupan sehari-hari yang menuntut pemahaman bahasa, logika, dan konteks sosial secara bersamaan. Inilah wajah pembelajaran masa kini yang lintas batas dan lintas disiplin.

Sebagai seseorang yang pernah duduk di kursi promovendus, saya tahu betul bahwa yang diuji dalam ujian terbuka bukan hanya disertasi. Yang diuji adalah ketahanan mental, kedewasaan akademik, dan kesiapan untuk menerima kritik sebagai bagian dari pertumbuhan intelektual. Dewan penguji, dengan segala ketajaman dan wibawanya, sesungguhnya sedang menguji satu hal “Apakah seseorang sudah siap berdiri sebagai doktor, bukan sekadar bergelar doktor?”

Karena itu, kehadiran para profesor dan doktor dalam poster ini bukan hanya simbol otoritas keilmuan, melainkan penanda bahwa ilmu pengetahuan dibangun melalui dialog antargenerasi. Tidak ada doktor yang lahir sendirian. Selalu ada promotor, ko-promotor, penguji, guru besar, dan komunitas akademik yang menopang dari belakang layar.

Ujian terbuka ini juga mengingatkan saya pada satu hal yang sering terlupakan bahwa gelar doktor tidak pernah selesai di ruang sidang. Ia justru dimulai setelahnya, yakni di ruang kelas, di halaman jurnal, di meja redaksi, dan di tengah masyarakat yang menunggu sumbangan pemikiran kita.

Melihat dua poster ini, saya tidak hanya melihat agenda akademik. Saya melihat orang-orang yang sedang menyeberangi ambang sejarah hidupnya. Dan saya tahu, betul-betul tahu, betapa panjang dan sunyi jalan yang telah mereka lalui untuk sampai ke titik ini.

Semoga ujian terbuka ini tidak hanya melahirkan dua doktor baru, tetapi juga memperpanjang napas keilmuan yang jujur, rendah hati, dan berpihak pada pendidikan. Sebab, pada akhirnya, doktor bukan tentang menambahkan gelar (Dr.) di depan nama, melainkan tentang tanggung jawab intelektual di depan zaman.

Selamat meraih gelar doktor, sahabat.

Bandung 26 Januari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Dari Ruang Ujian ke Ruang Ingatan: Tentang Promosi Doktor dan Jalan Panjang Bernama “Ilmu””

  1. Avatar
    Anonim

    Masyaallah tulisan yang sangat menyentuh dari seorang doktor inspiratif untuk dua doktor yang kreatif dan inovatif. Semoga bisa mengikuti jejak kalian, hai para doktor hebat. Kesunyian yang panjang itu nyata adanya, terasa oleh saya saat ini. 🥺

  2. Avatar
    Anonim

    Jalan sunyi itu diperlukan oleh orang yang sedang menempuh jalan ilmu, bukankah kepompong mesti melalui jalan sunyi sebelum menjadi kupu-kupu yang indah?
    Selamat menempuh jalan sunyi, wahai calon doktor, hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *