Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari Mantra ke Cinta: Malam Apresiasi Manunggaling Kawula Gusti Bersama Tersajakkanlah

[Sumber gambar: Dokumentasi Tersajakkanlah]

Penulis: Tim Literatura Nusantara

Tautan YouTube

Pada Jumat malam, 28 November 2025, program Tersajakkanlah kembali hadir di kanal YouTube dengan sebuah sajian istimewa bagi para penikmat puisi. Episode kali ini menghadirkan pembacaan karya dari buku Manunggaling Kawula Gusti, kumpulan sajak karya Heri Isnaini yang memadukan keheningan batin, simbol-simbol tradisi, dan kedalaman spiritualitas.

Dalam acara yang dimulai pukul 20.30 WIB tersebut, Tim Tersajakkanlah akan membacakan puisi berjudul “Rindu”, salah satu sajak yang dipilih sebagai pembuka untuk menemani para penonton memasuki suasana puitik yang lembut dan reflektif. Dengan gaya pembacaan yang khas, tim ini akan menghidupkan kembali nuansa kerinduan yang ditulis Heri Isnaini, kerinduan yang tidak hanya pribadi, tetapi juga spiritual, menyentuh sisi-sisi terdalam perjalanan manusia.

Pembacaan puisi ini sekaligus menjadi bagian dari perkenalan lebih luas terhadap buku Manunggaling Kawula Gusti, sebuah karya yang menjejak pada tema pertemuan antara manusia dan Tuhannya, kesunyian diri, serta perjalanan batin yang perlahan menyingkap makna hidup. Visual yang ditampilkan dalam poster dengan unsur pewayangan dan detail khas budaya Nusantara menguatkan karakter karya tersebut sebagai sajak-sajak kontemplatif yang berakar pada tradisi, namun tetap berbicara pada kegelisahan modern.

Program Tersajakkanlah mengundang seluruh pecinta sastra untuk hadir secara daring, menyimak pembacaan, serta menikmati malam puisi yang hangat dan sederhana. Ini adalah ruang bagi siapa pun yang ingin berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, lalu kembali menemukan diri dalam suara-suara puisi.

Tentang Buku Manunggaling Kawula Gusti

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: Buku 1 Mantra, Buku 2 Rasa, dan Buku 3 Cinta. Ketiganya saling bertaut membentuk jembatan menuju inti ajaran manunggal, yaitu kesadaran menyatu antara manusia dengan Tuhan, sebagaimana diajarkan dalam tradisi mistik Jawa. Dalam kata pengantarnya, Heri Isnaini menyebut bahwa seluruh sajak dalam buku ini merupakan hasil dari proses pematangan spiritual serta permenungan terhadap pengalaman hidup yang dikaitkan dengan kesadaran ketuhanan Manunggaling Kawula Gusti

1. Buku 1 — Mantra

Bagian ini membuka pintu menuju dunia simbolik, magis, dan ritual. Di dalamnya terdapat sajak-sajak yang memadukan unsur mantra Jawa, doa, kekuatan alam, dan relasi kosmis antara manusia, semesta, dan Yang Mahagaib. Sajak-sajak seperti “Arjuna Berambut Putih”, “Semar Putih”, dan “Ilmu Makrifat” menampilkan lapisan-lapisan metafisis yang kuat, seolah pembaca diajak memasuki kesunyian batin tempat segala kesadaran berakar.

2. Buku 2 — Rasa

Inilah ruang perenungan, keheningan, dan kedekatan emosional. Sajak “Rindu 1” dan “Rindu 2” yang menjadi inti pembacaan pada acara ini menghadirkan kerinduan yang tidak hanya personal, melainkan juga spiritual. Banyak puisi dalam bagian ini berbicara tentang perjalanan, kehilangan, doa, hingga pencarian jati diri. “Rindu” dipilih oleh Tim Tersajaklah sebagai pembuka karena memorinya yang lembut, dalam, sekaligus universal. Di sinilah pembaca merasakan keterhubungan manusia dengan pengalaman hidup yang fana namun bermakna.

3. Buku 3 — Cinta

Bagian terakhir ini mengarah pada pertemuan paling inti cinta sebagai puncak perjalanan spiritual dan eksistensial. Sajak-sajak seperti Kepada Tuhan, “Aku Tidak Akan Berhenti MencariMu”, dan Aku Mencintaimu menunjukkan kerinduan manusia kepada Tuhan sebagai kekasih sejati. Di antara larik-lariknya tampak paduan antara sufisme, mistisisme Jawa, dan kepekaan batin yang pribadi.


Pembacaan oleh Tim Tersajakkanlah bukan sekadar penampilan puisi, melainkan upaya membawa audiens menyelami ruh buku ini, yaitu ruh yang mengajak manusia kembali pada dirinya, lingkungannya, dan Tuhannya. Manunggaling Kawula Gusti bukan hanya kumpulan sajak, tetapi sebuah perjalanan jiwa, yang mengajak pembacanya meraba batas-batas diri dan menyelami kesejatian hidup.

Malam ini akan menjadi ruang bagi para pencinta sastra, penyimak spiritualitas, dan siapa pun yang ingin menemukan kembali keheningan di tengah hiruk-pikuk dunia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *