
[Sumber gambar: https://tribratanews.polri.go.id/]
Penulis: M. Rama Sya’bani
Di layar dunia yang tanpa batas,
kata berlayar menembus luas.
Bahasa asing datang membawa warna,
menyentuh lidah muda nan haus makna.
Kita mulai belajar menyapa dunia,
dengan tutur baru penuh pesona.
Namun di balik gegap euforia,
bahasa ibu perlahan kehilangan suara.
Dari tanah yang sunyi mengalun kata,
lembut namun sarat makna:
“Bahasamu adalah wajah peradaban,
cahaya bangsa yang tak boleh mati”.
Kini aksara berserak di layar kaca,
mencipta jarak di antara makna.
Kita bangga bertutur dengan lidah dunia,
namun lupa bahasa yang menumbuhkan jiwa.
Bahasa asing membawa daya dan makna,
membuka cakrawala tanpa jeda.
Namun di tengah deras arus dunia,
bahasa ibu menunggu dengan setia.
Ia bukan sekadar warisan tua,
melainkan akar penopang jiwa.
Tanpa bahasa yang tumbuh di tanahnya,
bangsa kehilangan arah dan jati dirinya.
Biarlah dunia terbuka seluas asa,
biarlah angin global tetap bernada.
Asal lidah kita tak kehilangan tanahnya,
asal kata menjadi jiwa bangsa.
Sebab bahasa ibu bukan kenangan,
melainkan cahaya yang menyalakan zaman.
Dalam tiap denyut bunyi dan nadanya,
terpatri cinta abadi dan lestari selamanya.
Bandung, 2025












Tinggalkan Balasan