Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Cinta Sejati Sapardi Djoko Damono dalam Puisi “Aku Ingin”

[Sumber gambar: www.suarabelantaraborneo.com]

Penulis: Dita Marlina Sari Puspita Arum

Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang mencakup kajian, interpretasi, dan evaluasi terhadap karya sastra, dengan menilai baik dan buruknya karya tersebut. Kritik ini dilakukan dengan dasar teori dan analisis karena karya sastra bersifat kompleks dan memerlukan pemahaman mendalam. Sastra sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “sas” yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan “tra” yang berarti alat atau sarana, sehingga sastra dapat diartikan sebagai sarana pembelajaran atau petunjuk.

Sastra adalah ekspresi manusia yang dituangkan secara lisan atau tulisan, berdasarkan pemikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi yang mencerminkan realitas kehidupan. Sebagai salah satu bentuk seni kreatif, sastra menggunakan bahasa sebagai alat utama untuk menggambarkan kehidupan manusia. Karya sastra terbagi menjadi sastra lama dan sastra baru, salah satunya adalah puisi. Puisi menjadi curahan pikiran dan perasaan penyair terhadap realitas yang dialaminya.

Puisi merupakan ungkapan perasaan penyair melalui rangkaian kata indah dan penuh makna. Penyair menciptakan puisi dengan bahasa yang sistematis dan sarat makna sebagai bentuk interpretasi terhadap kehidupan dan lingkungan sekitar. Puisi sering ditulis dalam bentuk bait dan berirama, menggunakan bahasa kiasan yang indah dan penuh makna tersirat. Melalui puisi, penyair mengekspresikan pengalaman, imajinasi, dan konflik batin, baik yang nyata maupun tidak terlihat, dalam bentuk kata-kata yang merangsang emosi dan pancaindra. Bagi banyak penyair, puisi menjadi media bebas untuk meluapkan isi hati ketika kata biasa sudah tak mampu mewakili perasaan.

Di antara banyak puisi cinta dalam sastra Indonesia modern, salah satu puisi cinta yang paling dikenal adalah “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Puisi ini terkenal karena penggunaan bahasa yang sangat sederhana namun memiliki banyak makna. Kata-kata yang digunakan begitu mudah dipahami oleh pembaca, tetapi menyimpan kedalaman emosi dan makna yang menyentuh. Kesederhanaan inilah yang membuat puisi ini begitu menarik dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Situasi yang dilukiskan dalam puisi pun sangat relevan dengan pengalaman nyata banyak orang, menjadikan puisi ini terasa dekat dan personal bagi pembacanya. Selain itu, penggunaan perumpamaan yang indah seperti “kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api” dan “isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan” memberikan nuansa puitis yang kuat, menyiratkan makna kehilangan, kerinduan, dan kerelaan dalam cinta.

Meskipun  begitu,  sebagian pembaca mungkin  akan  merasa  kesulitan  dalam  menafsirkan perumpamaan-perumpamaan tersebut. Bagi yang kurang akrab dengan gaya bahasa puitis, metafora dalam puisi ini bisa menjadi agak membingungkan. Namun demikian, hal ini bukan

merupakan kekurangan yang berarti, melainkan lebih kepada tantangan interpretasi yang justru memperkaya pengalaman membaca puisi.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940 dan meninggal pada 19 Juli 2020. Ia dikenal sebagai pelopor puisi liris di Indonesia, dengan karya-karya yang sederhana tapi memiliki penuh makna. Sapardi menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada dan meraih gelar doktor di Universitas Indonesia, tempat ia kemudian menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Dalam pendekatan mimetik, karya sastra dipahami sebagai cermin dari kenyataan. Oleh karena itu,  tulisan  ini  akan  menganalisis  puisi  “Aku Ingin” dengan  pendekatan  mimetik,  untuk menunjukkan bagaimana puisi ini mencerminkan pengalaman cinta sejati yang sering dialami, tetapi tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pendekatan mimetik berasal dari kata “mimesis”  yang  berarti  peniruan.  Dalam  sastra,  pendekatan  ini  melihat  karya  sebagai gambaran realitas atau kehidupan manusia. Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan mimetik adalah cara pengarang menggambarkan makna melalui tiruan dari kenyataan di sekitar, baik benda nyata maupun imajinasi. Dalam pendekatan ini, perasaan diungkapkan lewat kata-kata yang menyerupai hal-hal yang ada di alam atau kehidupan sehari-hari.

Dalam puisi liris seperti “Aku Ingin”, menggunakan pendekatan mimetik sangat relevan. Puisi ini berisi ungkapan perasaan yang sangat manusiawi yaitu mencintai seseorang secara mendalam, namun tetap tenang, sederhana, dan bahkan diam. Hal ini menunjukkan bahwa cinta bukan hanya tentang kata-kata, melainkan juga tentang sikap dan penerimaan.

Puisi “Aku Ingin” terdiri dari dua bait pendek, yang mana setiap baitnya terdiri dari tiga bairs. Masing-masing bait menggunakan metafora yang mengandung unsur alam dan benda, namun memiliki makna yang sangat dalam.

Bait pertama :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu”

Bait ini menggambarkan cinta sebagai bentuk  pengorbanan  yang tetap  tenang dan tidak menuntut. Kayu yang dibakar oleh api menjadi abu adalah metafora dari cinta yang memberikan dirinya sepenuhnya, tanpa kata-kata, tanpa pamrih. Ini adalah realitas cinta dalam kehidupan, banyak orang mencintai dalam diam, berkorban tanpa disadari, bahkan tanpa sempat mengungkapkan perasaan mereka secara langsung.

Bait kedua :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Di bait ini, Sapardi kembali menggunakan metafora alam. Awan yang berubah menjadi hujan tanpa sempat menyampaikan isyarat adalah simbol dari kehilangan yang lembut, cinta yang berubah menjadi kenangan. Ini menggambarkan cinta dalam kehidupan nyata yang mungkin

tidak pernah diungkapkan, tapi tetap ada dan nyata dalam perjalanan hidup. Kedua bait ini menunjukkan bahwa cinta sejati menurut Sapardi, adalah cinta yang tidak gaduh, tidak menguasai,  dan  tidak  meminta  balasan.  Cinta seperti  ini  sangat  mungkin  dialami  dalam kehidupan sebagai rasa yang tulus, yang tidak selalu perlu diucapkan secara langsung.

Selain itu, penggunaan unsur alam sebagai metafora memperkuat hubungan puisi dengan realitas. Alam yang selalu berubah menjadi simbol yang tepat untuk perasaan cinta yang berkembang dan kadang hilang tanpa jejak. Pendekatan mimetik disini menunjukkan bahwa puisi bukan hanya ekspresi seni, tapi juga cerminan jujur pengalaman manusia, khususnya perasaan.

Dalam struktur puisinya, Sapardi tetap menggunakan pola repetisi dan pengulangan kalimat “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” di kedua baitnya. Pengulangan ini menguatkan arti cinta yang konsisten dan konstan. Cinta yang tidak berubah meski tidak diucapkan atau disampaikan secara langsung. Gaya bahasa dalam puisi ini menggunakan metafora dan personifikasi sebagai cara puitis untuk menyampaikan makna secara halus dan dalam.

Puisi “Aku Ingin” adalah gambaran cinta sejati yang tenang, dalam, dan sederhana. Melalui pendekatan mimetik, dapat disimpulkan bahwa puisi ini mencerminkan pengalaman cinta manusia dalam bentuk yang realistis dan menyentuh cinta sebagai pengorbanan, cinta yang tak sempat diucapkan, dan cinta yang larut bersama waktu. Sapardi Djoko Damono berhasil menyuarakan kenyataan hidup yang tidak bisa selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata, tetapi terasa nyata dalam sikap dan keikhlasan. Inilah kekuatan puisi “Aku Ingin”, bukan sekadar karya sastra, melainkan cermin dari perasaan cinta yang paling murni dalam hidup manusia.

Meski puisi “Aku Ingin” kuat dalam menyampaikan pesan cinta yang sederhana dan tulus, ada beberapa hal yang bisa dikritik untuk memperdalam pemahaman puisi ini. Pertama, karena puisi ini sangat minimalis dan metaforanya yang halus, ada kemungkinan beberapa pembaca sulit menangkap makna mendalamnya, terutama pembaca yang kurang terbiasa dengan puisi liris atau pendekatan simbolik. Hal ini bisa menjadi kendala bagi pembaca awam untuk benar- benar merasakan pesan cinta yang ingin disampaikan Sapardi.

Kedua, pendekatan mimetik sendiri, yang berfokus pada realitas sebagai cerminan karya, bisa membatasi sisi imajinasi puisi. Puisi “Aku Ingin” memang dekat dengan realitas (kenyataan), tapi juga mengandung makna simbolis dan spiritual yang tidak sepenuhnya “realisme.”

Ketiga, dari sisi gaya bahasa, puisi ini sangat sederhana bahkan cenderung minimalis. Meskipun ini menjadi kekuatan, di sisi lain bisa jadi kelemahan jika pembaca ingin menikmati gaya bahasa yang lebih kaya dan beragam. Sapardi memang sengaja memilih bahasa sederhana untuk menonjolkan makna, tetapi dalam pengembangan sastra modern, keberagaman gaya juga penting untuk menambah nilai estetika dan inovasi puisi. Namun, kritik ini bukan untuk mengurangi nilai puisi, melainkan sebagai masukan agar pembaca dan peneliti sastra bisa melihat puisi ini dari sudut pandang yang lebih luas.

Secara keseluruhan, puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono berhasil menggambarkan cinta sejati yang sederhana, tulus, dan penuh pengorbanan dengan cara yang sangat halus dan puitis. Melalui pendekatan mimetik, puisi ini tidak hanya mencerminkan pengalaman nyata manusia dalam mencintai, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna cinta yang  sesungguhnya,  yang  tidak  selalu  harus diungkapkan  dengan  kata-kata. Kritik  yang muncul justru memperkuat nilai puisi ini, yaitu keindahan cinta yang diam dan ketulusan yang tanpa pamrih. Dengan demikian, “Aku Ingin” bukan hanya sebuah karya sastra, tetapi juga cermin bagi siapa saja yang pernah mengalami dan merasakan cinta dalam berbagai bentuknya. Puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati adalah kesederhanaan dan keikhlasan yang mampu bertahan dalam keheningan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *