
[Sumber gambar: https://lifestyle.kompas.com/]
Penulis: Heri Isnaini
Saya selalu percaya bahwa sastra tidak hanya sekadar bercerita, tetapi ia menetapkan horizon makna. Dalam konteks tradisi Inggris, nama yang tak mungkin dilewatkan adalah Geoffrey Chaucer yang secara luas dianggap sebagai Bapak Sastra Inggris yang bukan semata karena usianya yang tua dalam sejarah kesusastraan kanon, melainkan karena ia memberi bahasa Inggris [yang saat itu masih berproses] sebuah martabat estetik dan intelektual.
Melalui karya-karyanya, terutama “Parlement of Foules”, Chaucer bukan hanya menulis puisi, tetapi ia merumuskan imajinasi kolektif. Dua larik yang kerap dikutip itu seperti menyalakan api kecil yang kemudian membesar menjadi tradisi
“For this was on seynt Valentynes day,
Whan every foul cometh ther to chese his make.”
“Sebab inilah hari Santo Valentinus, ketika setiap burung datang untuk memilih pasangannya.” Saya menyukai kata chese, “memilih”. Cinta, dalam puisi itu, bukan sekadar perasaan yang jatuh dari langit. Ia adalah tindakan memilih. Burung-burung berkumpul bukan untuk terjebak dalam takdir, melainkan untuk menentukan pasangan. Ada deliberasi, ada kesadaran.
Dan di sinilah, menurut saya, puisi abad ke-14 itu terasa sangat modern. Berabad-abad setelah Chaucer, Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyatakan bahwa cinta bukan sekadar emosi spontan, melainkan sebuah art, sebuah seni yang membutuhkan disiplin, pengetahuan, tanggung jawab, dan komitmen. Fromm menolak anggapan bahwa cinta hanyalah perasaan yang “datang begitu saja.” Bagi Fromm, mencintai adalah tindakan aktif, keputusan eksistensial.
Jika kita sandingkan, ada resonansi yang halus tetapi kuat. Chaucer berbicara tentang burung yang memilih pasangan pada Hari Valentine. Fromm berbicara tentang manusia yang memilih untuk mencintai sebagai praktik sadar. Keduanya menolak romantisisme yang pasif. Cinta bukan sekadar “terjadi” saja. Ia harus dijalani.
Saya sering merasa bahwa Valentine hari ini terjebak pada permukaan, pada artifisial semata: bunga, cokelat, simbol hati, dan ungkapan semata. Padahal di baliknya ada lapisan konseptual yang jauh lebih dalam. Ada sejarah puitik dari seorang penyair yang dianggap bapak sastra Inggris. Ada refleksi psikologis dari seorang pemikir abad ke-20 yang melihat cinta sebagai kerja batin yang serius.
Chaucer memberi tanggal pada cinta. Fromm memberi disiplin pada cinta. Yang satu bekerja lewat alegori burung dan musim semi, sedangkan yang lain lewat analisis psikologi dan filsafat humanistik. Namun keduanya bertemu pada satu titik, yaitu cinta adalah pilihan yang disadari.
Sebagai pecinta sastra, saya merasa ada pelajaran sunyi yang patut kita renungkan setiap 14 Februari. Bahwa mencintai bukan sekadar mengirim pesan atau memberi hadiah, melainkan keberanian untuk mencintai dan terus mencintai dengan kesadaran memilih di tengah kemungkinan ragu-ragu, dan kesangsian yang luar biasa.
Barangkali itulah makna terdalam dari dua larik Chaucer itu. Di langit musim semi yang ia bayangkan, burung-burung tidak hanya berkicau. Mereka memilih dan memutuskan.
Dan dalam setiap keputusan untuk mencintai, kita [tanpa sadar] sedang menghidupkan kembali puisi yang ditulis lebih dari enam abad lalu.
Bandung, 14 Februari 2026












Tinggalkan Balasan