Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Cerdas Bermedsos: Ketika Literasi Menjadi Etika Zaman

[Sumber gambar: Dokumentasi SMK Telkom]

Penulis: Heri Isnaini

Di era ketika jempol lebih cepat dari pikiran, media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi foto atau cerita harian. Ia telah menjelma menjadi ruang publik baru, yaitu tempat gagasan bertarung, identitas dipertontonkan, dan emosi sering kali dilepas tanpa rem. Dalam konteks inilah, literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.

Workshop Literasi bertajuk “Cerdas Bermedsos Yuk!” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan SMK Telkom Bandung pada 22 Januari 2026 menjadi ikhtiar penting untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Bertempat di Pendopo SMK Telkom Bandung, kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi ruang belajar bersama untuk membangun kesadaran kritis siswa dalam menghadapi arus konten media sosial yang kian deras.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Telkom Bandung, Wahyu Windiastomo, S.Pd., M.M., Gr., menegaskan bahwa kegiatan literasi ini dirancang untuk membekali siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi menjadi pengguna yang cerdas. Menurutnya, kecerdasan bermedia sosial bukan hanya soal kemampuan teknis mengoperasikan aplikasi, melainkan kemampuan memilah konten, membaca maksud di balik unggahan, serta bersikap kritis terhadap informasi yang beredar.

Ia menekankan bahwa siswa hari ini hidup di tengah banjir konten: hiburan, opini, hoaks, hingga provokasi bercampur tanpa batas yang jelas. Oleh karena itu, sekolah merasa memiliki tanggung jawab moral dan edukatif untuk menghadirkan ruang-ruang literasi seperti workshop ini, agar siswa tidak mudah terseret arus, tetapi mampu berdiri sebagai subjek yang berpikir dan bertanggung jawab atas apa yang mereka konsumsi maupun produksi di media sosial.

Media sosial, sebagaimana disadari bersama, kerap dianggap dunia yang bebas nilai. Padahal, setiap unggahan entah berupa kata, gambar, atau video selalu membawa makna dan dampak. Di sinilah literasi berperan: bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga membaca konteks. Bukan hanya menulis status, tetapi juga memahami konsekuensi sosial, psikologis, bahkan hukum dari setiap jejak digital yang ditinggalkan.

Sebagai narasumber, Dr. Heri Isnaini, S.S., M.Hum., dosen Pascasarjana IKIP Siliwangi, mengajak siswa untuk melihat media sosial sebagai ruang kebudayaan. Ruang di mana bahasa, simbol, emosi, dan kuasa saling berkelindan. Kecerdasan bermedia sosial, tegasnya, tidak lahir dari larangan semata, tetapi dari kesadaran. Media sosial tidak perlu dimusuhi, tetapi perlu dipahami agar ia tidak mengendalikan manusia, melainkan dikelola oleh manusia yang berakal dan beretika.

Bagi pelajar SMK [yang kesehariannya akrab dengan teknologi] media sosial ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menjadi ruang aktualisasi diri, portofolio digital, hingga jembatan masa depan. Namun, tanpa literasi, ia juga berpotensi menjadi sumber disinformasi, perundungan siber, dan krisis kepercayaan diri. Workshop ini hadir untuk menempatkan siswa sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek algoritma.

Lebih jauh, “cerdas bermedsos” sejatinya adalah soal karakter. Soal bagaimana seseorang memilih kata, menghormati perbedaan, dan menahan diri untuk tidak ikut dalam pusaran kebencian dan sensasi. Literasi, dalam pengertian ini, adalah etika zaman cara bertahan sebagai manusia yang beradab di tengah dunia digital yang serba cepat.

Melalui kegiatan literasi seperti ini, sekolah dan perpustakaan kembali menegaskan perannya sebagai ruang pembentukan kesadaran, bukan hanya penyedia fasilitas. Sebab mendidik generasi digital bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi juga tentang memanusiakan teknologi itu sendiri.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi sumber pencerahan atau justru luka adalah cara kita menggunakannya. Dan kecerdasan itu, seperti literasi, selalu bisa dipelajari, dilatih, dan diwariskan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *