Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Catatan Personal dari Film Scream 7 di Ruang Bioskop yang Hampir Kosong

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Ada pengalaman menonton yang kadang tidak hanya meninggalkan kesan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai peristiwa batin. Siang itu, 10 Maret 2026, pukul 12.20, di sebuah bioskop di Kota Bandung, saya duduk di sebuah ruang bioskop yang begitu luas, tetapi hampir kosong. Hanya ada saya dan istri. Kami berdua. Tidak ada penonton lain. Film yang diputar adalah Scream 7, bagian terbaru dari waralaba horor Scream yang telah lama dikenal melalui figur pembunuh bertopeng Ghostface.

Secara singkat, Scream 7 melanjutkan kisah panjang teror yang mengitari kehidupan Sidney Prescott. Setelah sekian lama mencoba hidup tenang bersama keluarganya, masa lalu kembali mengetuk pintu ketika sosok pembunuh bertopeng Ghostface muncul lagi. Kali ini ancamannya terasa lebih pribadi, yaitu keluarga Sidney ikut menjadi sasaran. Seperti film-film sebelumnya dalam waralaba Scream, cerita berkembang melalui rangkaian pembunuhan misterius, teror telepon yang mencekam, dan permainan identitas, siapa sebenarnya yang berada di balik topeng Ghostface?

Namun bagi saya, pengalaman menonton siang itu membuat film ini terasa berbeda. Bioskop yang biasanya penuh dengan tawa gugup dan bisik-bisik penonton justru berubah menjadi ruang sunyi yang memperbesar setiap bunyi dalam film. Ketika langkah kaki terdengar di layar, rasanya seperti ada gema yang memantul di ruang kosong. Ketika kamera menyorot lorong rumah yang gelap, saya sempat menoleh ke barisan kursi di belakang tentu saja kosong, tetapi imajinasi sudah telanjur bekerja.

Di situlah horor menemukan bentuknya yang paling jujur bukan hanya pada adegan pembunuhan atau kejar-kejaran, melainkan pada suasana yang membuat kita merasa sedikit tidak aman, meskipun kita tahu semua itu hanya film.

Dan mungkin karena itulah pengalaman menonton Scream 7 siang itu terasa unik. Dalam ruang bioskop yang luas dan hampir kosong, film horor tidak lagi sekadar tontonan. Ia berubah menjadi pengalaman batin, sebuah perjumpaan kecil antara imajinasi, ketakutan, dan sunyi.

Secara estetika horor, Scream selalu bermain pada dua lapis kesadaran. Di satu sisi ia adalah film pembunuhan berantai dengan pola klasik slasher: korban, pengejaran, dan identitas pembunuh yang misterius. Namun, sejak film pertama karya Wes Craven, seri ini juga memparodikan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia adalah film horor. Tokoh-tokohnya sering membicarakan “aturan film horor”, seolah mereka hidup dalam kesadaran meta. Dengan cara itu, Scream bukan sekadar menakut-nakuti, ia juga mengajak penonton menertawakan ketakutan mereka sendiri.

Tetapi siang itu, ketika saya duduk hampir sendirian di ruang bioskop, permainan meta tersebut justru terasa lebih personal. Ada momen ketika kamera dalam film memperlihatkan rumah yang sunyi, lorong panjang, dan seseorang berjalan perlahan sambil menoleh ke belakang. Di layar, tokoh itu merasa sedang diawasi. Dan entah mengapa, pada saat yang sama, saya juga merasakan hal yang serupa dalam ruang bioskop yang kosong membuat layar seolah tidak lagi menjadi batas antara cerita dan kenyataan. Dalam psikologi horor, inilah yang sering disebut sebagai identifikasi penonton, yakni ketika batas antara pengalaman tokoh dan pengalaman penonton menjadi kabur.

Dari sudut pandang psikologis, figur Ghostface selalu menarik karena ia bukan monster supranatural. Ia manusia biasa yang memakai topeng. Justru di situlah letak terornya. Monster yang datang dari dunia gaib masih bisa kita tempatkan sebagai “yang lain”. Namun manusia yang memakai topeng mengingatkan kita bahwa kekerasan bisa lahir dari wajah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Horor Scream bukan hanya tentang pembunuhan, melainkan juga tentang ketidakpastian identitas.

Dalam kerangka budaya populer, waralaba Scream juga menunjukkan bagaimana horor menjadi bagian dari memori generasi. Sejak kemunculan film pertamanya pada 1996, Scream selalu hadir sebagai cermin dari budaya media pada zamannya dari telepon rumah, pesan teks, hingga era media sosial. Topeng Ghostface bahkan telah menjadi ikon pop yang dipakai dalam pesta Halloween, meme internet, dan berbagai referensi budaya lainnya. Horor di sini tidak hanya hidup dalam film, tetapi juga dalam imajinasi kolektif masyarakat.

Namun, pengalaman menonton siang itu memberi lapisan makna yang berbeda. Bioskop yang kosong membuat saya sadar bahwa horor sesungguhnya sangat bergantung pada situasi penonton. Ketika ruang dipenuhi banyak orang, rasa takut sering berubah menjadi hiburan kolektif, orang tertawa ketika adegan menegangkan datang yang dibumbui dengan jump scare. Tetapi, ketika hanya ada dua orang di ruangan besar yang gelap, ketakutan menjadi lebih intim. Ia seperti bisikan kecil di belakang kepala.

Saya sempat menoleh ke kursi-kursi kosong di belakang. Tentu saja tidak ada siapa-siapa. Tetapi justru karena itulah, imajinasi menjadi bekerja lebih liar. Mungkin di situlah kekuatan film horor, ia tidak hanya menampilkan ketakutan, tetapi juga memancing ketakutan yang sudah ada dalam diri kita.

Ketika film selesai dan lampu bioskop menyala, ruang itu kembali menjadi ruang biasa. Hanya deretan kursi dan layar besar di depan. Namun, pengalaman menonton Scream siang itu meninggalkan kesan yang agak aneh seolah-olah saya baru saja keluar dari sebuah mimpi pendek tentang ketakutan.

Dan mungkin memang begitu hakikat horor dalam budaya populer, ia memberi kita kesempatan untuk berjalan sebentar di lorong gelap imajinasi, lalu kembali lagi ke terang dengan sedikit rasa merinding yang masih tertinggal di belakang leher tentunya.

Bandung, 10 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *