Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Biografi Thariq bin Ziyad

[Sumber gambar: https://kalam.sindonews.com/]

Penulis: Saniyyah Fauziyyah Gumilar

Thariq bin Ziyad: Si Pemilik Satu Mata Penakluk Andalusia

Salah satu pahlawan besar islam yang banyak dikenang dan diingat orang adalah seorang panglima yang bernama Thariq bin Ziyad. Thariq adalah salah seorang panglima terbesar dalam sejarah islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah). Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan islam menyeberangi selat Gilbraltar menuju daratan Eropa. Dari sinilah sejarah bangsa Ifranji -sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.

Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kechela, Aljazair dari Kabilah Nafzah. Thariq bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari Kabilah Barbar yang tinggal di Maroko. Masa kecil Thariq sama seperti masa kecil kebanyakan umat islam saat itu, Thariq belajar membaca dan menulis, juga menghafal surat surat Al-Qur’an dan hadits-hadits. Tidak banyak yang dicatat oleh ahli sejarah mengenai masa kecil Thariq bin Ziyad, bahkan sejarawan seperti Imam Ibnu al-Atsir, ath-Thabari, dan Ibnu Khaldun tidak meriwayatkan masa kecil Thariq bin Ziyad dalam buku-buku mereka.

Dalam Tarikh Ibnu Nushair, sejarawan mengatakan Thariq adalah seorang tawanan atau budak yang kemudian dimerdekakan oleh Musa bin Nushair seorang Gubernur Afrika Utara. Setelah masuk islam dan Merdeka, Musa menjadikan Thariq sebagai bawahan sekaligus orang kepercayaan Musa. Thariq menunjukkan kecerdasan dan keberanian yang luar biasa, ia di didik langsung oleh Musa bin Nushair hingga menjadi panglima perang.

Jihad di Afrika Utara

Salah satu daerah yang paling strategis di wilayah Afrika Utara adalah Maroko. Daerah ini telah mengenal islam sebelum kedatangan Musa bin Nushair dan pasukannya. Thariq bin Ziyad termasuk pasukan Musa bin Nushair. Namun penduduk di daerah ini belum menerima islam secara utuh dan keimanan mereka belum kokoh. Terbukti dengan seringnya masyarakat wilayah ini berganti agama dari islam ke agama selainnya.

Di antara penyebab pergantian agama ini, karena penaklukan Maroko di masa Uqbah bin Nafi’ kurang memperhatikan Pendidikan keagamaan. Islam belum mapan di suatu daerah, Uqbah dan pasukannya sudah berangkat ke daerah lainnya. Selain itu keadaan bangsa Barbar di Afrika Utara yang memang mewaspadai pergerakan Uqbah bin Nafi’. Keadaan tersebut menyebabkan masyarakat Maroko sering murtad setelah masuk ke dalam islam (Qishshatu al-Andalus min al-Fathi ila as-Suquth, hlm 30).

Dalam perjalanan menaklukkan Afrika Utara, Musa bin Nushair dibuat kagum dengan kesungguhan dan keberanian salah seorang pasukannya yang bernama Thariq bin Ziyad. Setelah menaklukkan beberapa wilayah, akhirnya pasukan ini berhasil menaklukkan Kota Al-Hoceima, salah satu kota penting di Maroko. Kota ini sebagai wilayah strategis yang mengantarkan pasukan islam menguasai semua wilayah Maroko. Musa kembali ke Qairawan sedangkan Thariq menetap di sana dan memberi pengajaran keagamaan kepada masyarakat Barbar Maroko.

Menaklukkan Andalusia

Salah satu rahasia mengapa agama islam di terima di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya karena umat islam tidak memperbudak dan bukan bertujuan menguasai, akan tetapi tujuannya adalah membebaskan wilayah tersebut dari kedzaliman penguasanya dan hukum-hukum yang tidak adil.

Sebelum umat islam menguasai Andalus, Daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat islam masyhur di masyarakat Seberang Selat Gilbraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat islam untuk menggulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezaliman.

Setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan di rasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Mendengar kedatangan kaum Muslimin, Roderick yang Tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum Muslimin. Roderick kembali ke Ibu Kota Andalusia yaitu Toledo untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum Muslimin. Roderick Bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera menuju Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad. Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum Muslimin dengan jumlah yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan, janji kemenangan, dan syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan meniadakan rasa takut dari dada-dada mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.

Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan Muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayang Andalusia lainnya. Musa bin Nushair Bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

Kembali ke Damaskus

Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad tidak hanya mengalahkan penguasa-penguasa zalim di Eropa, namun mereka berhasil menaklukkan hati masyarakat Eropa dengan memeluk islam. Mereka berhasil menyampaikan pesan bahwa islam adalah agama mulia dan memuliakan manusia. Manusia tidak lagi menghinakan diri mereka di hadapan sesame makhluk, kemuliaan hanya diukur dengan ketaqwaan bukan dengan nasab, warna kulit, status sosial, dan materi. Musa dan Thariq juga berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid, memurnikan penyembahan hanya kepada Allah semata. Setelah berhasil menaklukkan dan menanamkan nilai-nilai islam di negeri Andalusia, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua kembali ke Damaskus.

EPILOG

Kisah Thariq bin Ziyad merupakan buah dari kebijakan-kebijakan Kerajaan Umawiyah yang seolah-olah dilupakan para pembencinya. Mereka disibukkan dengan isu-isu yang dibuat oleh orang-orang Syiah bahwa Bani Umayyah menzalimi ahlul bait Rasulullah SAW. mereka juga larut dengan kalmat-kalimat orientalis yang mengatakan Kerajaan Umawiyah jauh dari syariat islam. Mereka tenggelam dengan kabar-kabar palsu dan lupa dengan jasa Bani Umayyah.

Bagi bangsa Eropa, kedatangan islam melalui Thariq bin Ziyad membawa dampak besar terhadap perkembangan peradaban, sebagaimana tergambar pada kemajuan Kota Cordoba. Ini adalah awal kebangkitan modern dan terbitnya matahari yang menerangi kegelapan Benua Eropa. Kedotatoran dan hukum rimba berganti dengan norma-norma humanis yang membawa kedamaian.

Jasa-jasa Thariq bin Ziyad dan kepahlawanannya diabadikan dengan nama selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol dengan nama selat Gilbraltar. Gilbraltar adalah kata dalam bahasa Spanyol yang diartikan dalam bahasa Arab sebagai Jabal Thariq atau dalam bahasa Indonesia adalah Bukit Thariq.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *