Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Berpegang pada Tali Kebenaran

[Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/]

Penulis: Wahyu Gumelar Ahyar Saputra 

Dio melangkah pelan di koridor kampus tempat ia menimba ilmu, sebuah universitas ternama di kota Bandung. Tak ada yang istimewa dari penampilannya: kemeja sederhana, tas ransel hitam, dan langkah yang mantap. Namun bagi sebagian orang di sekitarnya, justru itulah yang membuatnya tampak berbeda. Sementara mahasiswa lain bersenda gurau, saling sahut-menyahut tentang drama percintaan atau rencana nongkrong tengah malam, Dio memilih berjalan sendirian, seolah dunia di sekelilingnya hanya hiasan.

Bukan berarti ia membenci manusia. Dio hanya berpegang pada satu prinsip: “Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan pada hal yang sia-sia.” Kalimat itu, yang ia simpan erat dalam dadanya, adalah kompas dalam langkahnya. Ia lebih memilih mengunjungi perpustakaan dibanding kafe; lebih senang menyelesaikan tugas dibanding menghabiskan waktu dalam keramaian tanpa arah; lebih memilih mendengar ceramah motivasi dibanding bercanda kosong.

Namun, pilihan berbeda sering kali mengundang sorotan. Di awal semester, beberapa teman sekelasnya mulai merasa terganggu oleh sikapnya. Bagi mereka, Dio adalah sosok aneh—bagaimana mungkin ada mahasiswa yang tidak ikut arus?

“Eh, itu si pertapa kampus datang!” seru seseorang ketika Dio masuk kelas.

Disusul tawa renyah yang menurut Dio hanya kosong dan hampa.

Dio hanya tersenyum kecil. Ia membungkuk sedikit sebagai tanda hormat lalu mengambil tempat duduk. Ia tidak pernah membiarkan panas ucapan orang lain menyambar dirinya; ia percaya bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh mulut siapapun, melainkan oleh tindakannya.

Hari-hari berlalu, dan ejekan itu semakin menjadi. Bagi sebagian mahasiswa, Dio laksana kanvas kosong yang bebas dicoret sesuka hati. Ada yang menyembunyikan bukunya, ada pula yang mengubah-ubah jawabannya saat presentasi kelompok, membuatnya tampak salah di depan dosen. Bahkan suatu kali, saat ia sedang makan di kantin, ada yang secara sengaja menyenggol mejanya hingga piringnya jatuh dan pecah berantakan.

Suasana mencekam menyelubungi kantin. Beberapa pasang mata melirik, ada yang tertawa, ada yang diam tetapi tidak berbuat apa-apa. Sang pelaku, seorang mahasiswa bernama Rendra —pemimpin kelompok pergaulan kampus dan dikenal sebagai orang yang tak tersentuh—menatap Dio dengan senyum sinis.

“Maaf, nggak sengaja,” ucapnya, namun nadanya jelas menunjukkan sebaliknya.

Dio menatap pecahan piring berhamburan. Tangannya mengepal. Ia merasakan dadanya bergetar, bukan oleh amarah, melainkan oleh kesabaran yang tengah diuji. Ia menatap Rendra dengan mata jernih.

“Nggak apa-apa. Saya yang minta maaf kalau menghalangi jalan,” jawabnya pelan.

Rendra mendengus, lalu pergi dengan tawa mengejek. Untuk sejenak, keramaian kembali seperti biasa.

Namun, tepat setelah itu, seorang dosen yang kebetulan berada di dekat kantin menghampiri Dio.

“Kamu tidak melawan, Dio?” tanya beliau, suaranya mengandung nada heran.

Dio menggeleng. “Saya tidak ingin membuang energi untuk pertarungan yang tidak memberikan apa-apa selain luka.”

Dosen itu tersenyum samar. “Tapi kadang kita perlu bicara untuk membela diri.”

“Kalau saya bicara, saya ingin memastikan itu bukan karena ego, Pak. Saya masih belajar membedakan keduanya.”

Jawaban itu membuat sang dosen terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Dio dengan penuh hormat.

Ejekan terus hadir, hari demi hari. Bahkan beberapa mahasiswa mulai mempertanyakan orientasi hidup Dio, menuduhnya sok suci, sok pintar, sok berbeda. Ada pula yang menyebarkan kabar bahwa Dio memilih menyendiri karena tidak diterima dalam pergaulan manapun.

Namun, siapa yang peduli? Bagi Dio, pencapaian sejati bukanlah pujian manusia, melainkan konsistensi pada prinsip yang ia yakini.

Ia mengisi malam-malamnya dengan belajar, membaca buku-buku tebal di perpustakaan kota, dan sesekali menuliskan refleksi hidupnya di jurnal pribadi. Baginya, ilmu adalah cahaya; dan setiap cahaya, meski kecil, dapat mengusir kegelapan.

Semester demi semester terlewati. Perlahan nama Dio mulai dikenal bukan sebagai sosok aneh, tetapi sebagai mahasiswa dengan nilai akademik paling stabil dan prestasi paling konsisten. Ia memenangkan beberapa lomba esai, menjadi perwakilan universitas dalam kompetisi debat nasional, dan bahkan artikel ilmiahnya diterima dalam jurnal kampus.

Namun, justru prestasi itu membuat mereka yang membencinya semakin panas. Rendra dan kelompoknya merasa tersaingi. Bagi mereka, popularitas adalah kekuasaan yang harus dipertahankan. Maka mereka pun mencari cara untuk meruntuhkan Dio.

Suatu malam, ketika Dio hendak pulang setelah latihan presentasi untuk lomba internasional, sekelompok mahasiswa menghadangnya di area parkir kampus. Tidak ada orang lain di sekitar; sebagian lampu taman mati. Suasana sunyi.

“Dio,” suara Rendra terdengar dari kegelapan. “Mau kemana? Nggak pamit dulu nih?”

Tiga orang mengelilingi Dio. Rendra mendekat, matanya seperti api yang menyala.

“Kamu bikin aku malu. Dosennya dibanding-bandingin aku sama kamu. Kamu bikin seolah aku sampah di kampus ini,” katanya dengan nada penuh benci.

Dio menarik napas. “Kalau saya melakukan sesuatu yang membuat kamu merasa begitu, saya minta maaf. Tapi saya tidak pernah berniat membuat siapapun terlihat buruk.”

“Itu bukan poinnya!” Rendra menunjuk dada Dio. “Kamu harus berhenti. Turunkan standar kamu. Jangan terlalu nyentrik.”

“Kalau kamu ingin saya gagal supaya kamu terlihat lebih baik,” jawab Dio lembut, “mungkin yang perlu kamu lakukan bukan menjatuhkan saya, tapi mulai membangun dirimu sendiri.”

Jawaban itu seperti percikan bensin di atas api. Rendra mendorongnya keras. Salah satu temannya memukul perut Dio dari belakang. Dio jatuh, terbatuk, merasakan rasa besi di lidahnya.

Namun ia tidak membalas.

Pukulan demi pukulan mendarat di tubuhnya, namun ia tetap berusaha melindungi kepala dan dada. Rendra berhenti hanya ketika ia lelah, bukan ketika Dio menyerah.

Sebelum pergi, Rendra menatap Dio dengan penuh rasa puas. “Ingat, ini baru permulaan.”

Malam itu, Dio pulang dengan luka lebam, tapi hati yang tidak hancur. Ia menatap langit dari jendela kamarnya. “Ya Tuhan, jika ini jalan yang harus aku tempuh untuk tetap berada dalam kebaikan, kuatkan aku.”

Seakan alam semesta menjawab, pagi itu surat keputusan lomba datang. Dio terpilih sebagai perwakilan tunggal universitas untuk kompetisi internasional bidang penelitian sosial. Kabar itu segera menyebar.

Tiga bulan kemudian, seluruh kampus menyaksikan nama Dio terpampang di layar aula utama: Juara 1 Kompetisi Riset Internasional Asia Tenggara.

Tepuk tangan membahana. Para dosen naik ke panggung memberikan selamat. Media kampus sibuk mengambil foto. Namun di tengah semua itu, Dio tetap berdiri dengan sikap sederhana.

Ketika mikrofon diberikan, ia hanya mengatakan satu hal:

“Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seseorang yang memilih berpegang pada tali kebenaran yang saya pahami. Jika saya berbeda, bukan karena saya ingin menjadi lebih, tapi karena saya tidak ingin menjadi kurang. Kebenaran bukan untuk dipamerkan; ia untuk dipegang, meski tangan kita gemetar.”

Ruangan sunyi. Beberapa mahasiswa menunduk—ada yang merasa malu, ada yang mulai memahami.

Dio melanjutkan, “Saya tidak membenci siapapun yang pernah merendahkan saya. Bagi saya, mereka adalah guru yang mengajarkan arti keteguhan. Jika ada dari kalian yang pernah merasa sendiri karena memilih jalan berbeda, ingatlah: lebih baik sendirian di jalan benar, daripada ramai-ramai menuju kehancuran.”

Di belakang ruangan, Rendra berdiri. Tangannya menggenggam kuat, bukan karena marah, tetapi karena hatinya seperti diremas. Ia tidak pernah menyangka bahwa orang yang ia hina adalah orang yang pada akhirnya menyelamatkan wajah kampus mereka di mata dunia.

Setelah acara berakhir, Rendra menghampiri Dio dengan langkah berat. Suaranya pecah.

“Dio… aku… minta maaf.”

Dio menatapnya. Sejenak ia terdiam. Lalu ia mengulurkan tangan.

“Maaf itu bukan untuk saya,” katanya lembut. “Maaf itu untuk dirimu sendiri. Karena kamu akhirnya memilih untuk menang dari egomu.”

Rendra menunduk, lalu menggenggam tangan Dio dengan tulus.

Sejak hari itu, julukan “si pertapa kampus” berubah menjadi “tali kebenaran”—sebuah istilah yang untuk pertama kalinya digunakan dengan rasa hormat. Dio tidak pernah merasa menang. Ia hanya merasa telah sampai pada satu pemahaman: bahwa kesendirian bukan kutukan, tetapi ruang untuk menguatkan diri.

Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika orang lain bertekuk lutut, tetapi ketika hati sendiri berdiri tegak.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *