
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Frisca Melinda
Pendidik, kau berdiri di mimbar yang sunyi,
Bukan senapan yang kau genggam, tapi pena tinta.
Ruang kelas adalah medan bakti tak terperi,
Menanam Pancasila sebagai jiwa bangsa.
Bela Negara, bagimu, adalah ilmu yang tegak,
Mencerdaskan tunas agar tak mudah goyah.
Menjahit karakter luhur, mengikis jejak retak,
Karena masa depan adalah benteng yang kau pelihara.
Warga Negara, kita adalah irisan yang padu,
Di jalan raya, di pasar, di sawah yang membentang.
Bela Negara bukan hanya saat komando tiba,
Tapi disiplin diri di keramaian yang bising.
Saat lampu lalu lintas merah, kita pun berhenti,
Itu bakti pada tertib, hormat pada hukum.
Saat sampah terbuang rapi, alam pun terawat pasti,
Itu cinta pada tanah air, bukan sekadar basa-basi.
Masyarakat, kita adalah harmoni nada,
Dari Sabang merentang hingga Merauke di timur.
Bela Negara ialah menolak kabar dusta,
Menjaga toleransi, walau berbeda kultur.
Ia adalah membeli produk negeri sendiri,
Menggerakkan roda ekonomi, bukan hanya angan.
Ia adalah berani bersuara dengan hati murni,
Membela keadilan di setiap persimpangan.
Mari, genggam pena dan benahi sikap nyata,
Itulah perjuangan suci di era kita kini.
Bukan hanya darah di medan laga yang membara,
Tapi janji setia di hati dan tindakan sehari-hari.












Tinggalkan Balasan