Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bentala yang Merintih

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Ayu Hijjah Rasyidah

Di bawah teriknya baskara, 
Sekumpulan pemuda membersihkan lingkungannya.
Namun, sebagian yang lain malah mengotori.
Tanpa rasa malu dan sadar diri.

Hari demi hari berganti,
semakin hari semakin menggunung.
Bukan harta,
melainkan sampah rumah tangga.

Lagi lagi, sekumpulan pemuda turun tangan.
Namun, warga sekitar tampak enggan.
Padahal bentala sudah sangat tua,
Merintih oleh perbuatan manusia.

Kala rinai hujan membasahi bumi,
Seharusnya nampak segar nan indah,
Tapi ulah manusia itu sendiri.
Air naik mengepung kota, membawa serakan sampah.

Alam yang seharusnya kita jaga bersama,
Kini rusak dan menimbulkan bencana.
Kemana manusia berteriak ketika alam murka?
Tentu, pada sang kuasa. Padahal itu semua adalah perbuatannya sendiri.

Miris...
Mau sampai kapan hal ini terus berulang?
Apa harus memakan korban, untuk disadarkan?
Ironis..

Sadarlah wahai jatukrama
Bukankah menjaga lingkungan adalah sebagian dari iman?
Mari jatuh cinta pada alam karya sang kuasa,
Mulai dari langkah kecil menjaga kebersihan sekitar kita.

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *