Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Belajar Makna Hidup dari “Batu Nilam Berwarna Jingga”

Menelusuri Bahasa Puisi Heri Isnaini dengan Cara yang Sederhana

[Sumber gambar: https://himpun.id/]

Penulis: Yulia Herliani

Pernahkah kita membaca puisi yang terasa seperti sedang bercerita, tetapi sekaligus mengajak kita berpikir lebih dalam tentang hidup? Puisi “Batu Nilam Berwarna Jingga” karya Heri Isnaini termasuk jenis puisi seperti itu. Bahasanya tenang, tidak berisik, namun menyimpan makna yang dalam, seperti senja yang tampak sederhana, tetapi menyimpan banyak cerita.

Puisi ini tidak menuntut pembaca untuk “mengerti segalanya”. Justru, ia mengajak pembaca, terutama anak muda, untuk merenung perlahan melalui bahasa yang simbolik dan imajinatif.

Bahasa Puisi: Sederhana, tapi Tidak Biasa

Mari kita mulai dari judulnya: Batu Nilam Berwarna Jingga. Secara logika, batu nilam biasanya berwarna biru atau hijau. Ketika penyair memberi warna jingga, kita tahu bahwa ini bukan bahasa biasa, melainkan bahasa puisi.

Warna jingga sering dikaitkan dengan:

  • Senja
  • Peralihan
  • Akhir hari
  • Saat manusia mulai merenung

Artinya, sejak judul, pembaca sudah diajak memasuki suasana perjalanan batin, bukan sekadar cerita benda.


“Aku”, “Kau”, dan Kenangan

Puisi ini memakai kata ganti aku dan kau yang terasa sangat personal. Bahasa seperti ini membuat puisi terasa dekat, seolah pembaca sedang mendengarkan cerita seseorang secara langsung.

Contoh larik:

“Kau menemukanku, batu nilam berwarna jingga
di dalam tumpukan kenangan…”

Kata tumpukan kenangan bukan sekadar ingatan biasa. Bahasa ini menggambarkan bahwa kenangan itu banyak, menumpuk, dan belum selesai. Bahasa puisi di sini bekerja seperti pintu menuju masa lalu.


Kakek Berjubah Putih: Bahasa Simbol

Salah satu bagian penting dalam puisi ini adalah sosok kakek berjubah putih. Bahasa ini tidak dijelaskan secara langsung siapa kakek itu. Namun, penyair memberi petunjuk:

“Ya, dia adalah Hidir
yang mengajari Musa akan hakikat dan makrifat”

Di sini, bahasa puisi menggunakan kisah agama sebagai simbol. Nabi Hidir dikenal sebagai guru spiritual yang mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa dipahami dengan logika biasa. Dengan bahasa seperti ini, penyair seolah ingin berkata: hidup tidak selalu bisa dijelaskan secara instan.


Bahasa Cerita yang Mengandung Pelajaran

Menariknya, puisi ini menyebut tindakan-tindakan yang terdengar aneh:

“melubangi perahu, merobohkan rumah, dan menghilangkan senyum anak kecil”

Jika dibaca sekilas, ini terasa kejam. Namun dalam konteks cerita Nabi Musa dan Hidir, tindakan-tindakan tersebut justru mengandung kebaikan tersembunyi. Bahasa puisi di sini mengajarkan bahwa:

  • Tidak semua yang terlihat buruk benar-benar buruk
  • Tidak semua kebaikan langsung terlihat

Pesan ini sangat relevan untuk remaja yang sedang belajar memahami hidup dan kenyataan.


Kalimat Pendek dan Sunyi

Beberapa larik dalam puisi ini sangat pendek, misalnya:

“tanpa banyak kata”
“hanya seulas senyum”

Bahasa seperti ini menciptakan suasana sunyi dan tenang. Penyair sengaja tidak banyak menjelaskan, karena makna yang dalam sering kali hadir dalam keheningan.


Penutup: Bahasa Doa

Puisi ini ditutup dengan bahasa yang sangat sederhana:

“semoga Tuhan mempertemukan kita
Amin.”

Tidak ada metafora rumit. Justru kesederhanaan bahasa ini membuat puisi terasa jujur dan menyentuh. Setelah perjalanan simbolik yang panjang, penyair menutupnya dengan doa, sesuatu yang mudah dipahami oleh semua pembaca.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *