Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Belajar Ikhlas dari Delisa

[Sumber gambar: www.kibrispdr.org]

Penulis: Selvia Ardianti

Kritik sastra merupakan salah satu cabang dalam kajian sastra yang bertujuan untuk memahami, menilai, dan menginterpretasi karya sastra secara lebih mendalam. Melalui kritik, pembaca dapat menggali berbagai makna yang tersembunyi dalam teks, baik yang bersifat estetis, ideologis, hingga edukatif (Pradopo, 2021). Salah satu pendekatan dalam kritik sastra yang menekankan aspek edukatif adalah pendekatan didaktis, yaitu pendekatan yang menyoroti unsur-unsur pendidikan dalam karya sastra. Sastra didaktis secara esensial memuat pesan moral dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dengan cara yang menyentuh dan menggugah, sehingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembacanya. Pendekatan ini relevan dalam konteks pendidikan karena dapat mengintegrasikan sastra sebagai media pembelajaran karakter. Seperti yang diungkapkan oleh (Sundana et al, 2018), sastra bukan hanya media hiburan, melainkan wahana pembentukan budi pekerti dan spiritualitas manusia. Dengan kata lain, kritik sastra didaktis berperan penting dalam menjembatani karya sastra dengan nilai-nilai pendidikan yang dibutuhkan dalam pembentukan generasi berkarakter.

Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, fungsi sastra didaktis menjadi semakin signifikan karena sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai arah pembangunan karakter bangsa. Profil Pelajar Pancasila menggarisbawahi enam dimensi utama yang harus dimiliki oleh peserta didik, yaitu: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif. Keenam profil ini tidak hanya dapat dibangun melalui pembelajaran kognitif, tetapi juga melalui pengalaman literasi yang menyentuh aspek afektif dan moral peserta didik (Lubaba & Alfiansyah, 2022). Di sinilah sastra berperan penting, khususnya sastra yang sarat pesan-pesan didaktis, karena mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui narasi dan tokoh yang dekat dengan realitas kehidupan. Dengan demikian, pendekatan didaktis dalam kritik sastra menjadi metode yang strategis untuk menggali potensi edukatif karya sastra serta mendukung pembentukan karakter siswa secara menyeluruh. Seperti dinyatakan oleh (Hijiriah, 2017), pembelajaran sastra yang bermuatan nilai-nilai moral dan religius akan memperkuat proses internalisasi nilai dalam diri peserta didik.

Novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye dipilih sebagai objek kajian dalam artikel ini karena merupakan karya yang kaya akan muatan nilai-nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan yang disampaikan melalui kisah yang menyentuh. Mengangkat latar tragedi tsunami Aceh tahun 2004, novel ini mengisahkan perjuangan seorang anak perempuan bernama Delisa yang tetap teguh dalam menjalankan ibadah dan mempertahankan hafalan shalatnya meskipun harus kehilangan ibu, saudara, bahkan salah satu kakinya. Keteguhan, keikhlasan, dan kesederhanaan Delisa dalam menghadapi penderitaan menjadi representasi nyata dari nilai-nilai luhur yang dapat diteladani. Alur cerita yang menyentuh dan tokoh yang kuat menjadikan novel ini bukan hanya layak dibaca sebagai karya sastra populer, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikaji secara akademis dengan pendekatan sastra didaktis. Seperti diungkapkan oleh (Gunawan, 2020), sastra yang berhasil menggambarkan keteladanan dan nilai-nilai luhur dapat menjadi media pembelajaran karakter yang efektif.

Kisah Delisa bukan sekadar narasi tentang bencana, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang makna ikhlas, keteguhan, dan iman. Nilai-nilai yang terkandung dalam novel ini sangat relevan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Delisa menunjukkan karakter yang beriman dan bertakwa melalui kesungguhan dan kekhusyukan dalam shalat, bahkan di tengah bencana. Ia juga menunjukkan kemandirian dan nalar kritis ketika berjuang menghafal kembali bacaan shalatnya setelah kehilangan memori akibat trauma. Tidak hanya itu, interaksi Delisa dengan tokoh-tokoh dari latar sosial dan agama yang berbeda juga mencerminkan sikap terbuka dan menghargai keberagaman. Hal ini menunjukkan bahwa Hafalan Shalat Delisa dapat dijadikan media refleksi sekaligus inspirasi dalam membentuk pelajar yang sesuai dengan harapan pendidikan nasional.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik sastra didaktis. Pendekatan ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam karya sastra, baik secara eksplisit maupun implisit, melalui analisis unsur intrinsik dan konteks sosial budaya dalam teks. Peneliti menggunakan kerangka pendekatan didaktis menurut Sumiyadi (2016) yang mencakup empat aspek utama, yaitu: kesesuaian dengan tujuan pendidikan nasional, kesesuaian dengan dimensi budaya, dimensi pengetahuan, serta penemuan nilai dan solusi terhadap permasalahan dalam kehidupan. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, yang dianalisis secara mendalam melalui kutipan-kutipan naratif yang mencerminkan nilai-nilai karakter. Selain itu, penelitian ini juga merujuk pada dokumen kebijakan Kurikulum Merdeka dan jurnal-jurnal ilmiah yang membahas implementasi Profil Pelajar Pancasila sebagai dasar kontekstual untuk mengkaji keterkaitan nilai-nilai didaktis dalam novel dengan tujuan pendidikan karakter nasional.

Novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye menyajikan sebuah kisah yang menyentuh sekaligus menggugah kesadaran spiritual pembaca. Berlatar peristiwa tsunami Aceh 2004, novel ini mengangkat tokoh utama seorang anak perempuan bernama Delisa, yang tengah berjuang menghafalkan bacaan shalat demi tugas sekolahnya. Kisah dimulai dengan kesungguhan Delisa dalam menghafal bacaan-bacaan tersebut, bukan hanya untuk menyenangkan guru dan orang tuanya, tetapi juga karena ia dijanjikan hadiah berupa kalung emas dari Ummi dan sepeda dari Abinya. Semangat anak kecil yang polos ini menggambarkan motivasi awal yang masih dipengaruhi oleh hadiah materi. Namun, titik balik terjadi ketika bencana tsunami datang tepat saat Delisa sedang menyetorkan hafalannya di sekolah. Gempa dan gelombang besar merobohkan sekolah, menghanyutkan manusia, dan merenggut sebagian besar anggota keluarganya. Delisa ditemukan dalam keadaan sekarat dan kemudian harus menjalani amputasi kaki. Tragedi ini menjadi konflik utama dalam cerita, bukan hanya karena kehilangan fisik dan keluarga, tetapi juga karena Delisa harus memulai kembali perjalanan batinnya dalam memahami makna salat dan kehidupan itu sendiri.

Selama masa pemulihan, Delisa mengalami perubahan besar dalam dirinya. Ia kehilangan sebagian ingatannya, termasuk hafalan yang selama ini ia perjuangkan. Hal ini membuatnya merenungi kembali niat awalnya. Ia mulai menyadari bahwa hafalan yang semula dilakukan demi hadiah telah mengaburkan keikhlasan dalam ibadahnya. Mimpi bertemu Ummi dan percakapan batin dengan dirinya sendiri menjadi titik introspeksi yang mendalam. Delisa kemudian mengulang hafalannya dengan penuh keikhlasan, tanpa berharap imbalan, bahkan dengan kondisi tubuh yang tidak lagi sempurna. Proses ini tidak mudah, namun Delisa menjalaninya dengan semangat dan keteguhan hati. Ia akhirnya berhasil menyelesaikan shalat dengan lancar dan sempurna untuk pertama kalinya. Hal ini menjadi simbol kemenangan spiritual dan kedewasaan emosional seorang anak yang telah melewati penderitaan hebat. Kisah ini sarat nilai-nilai pendidikan, terutama dalam konteks keikhlasan, keteguhan, dan penguatan spiritual yang tidak menggurui tetapi justru menginspirasi.

Tokoh Delisa dibangun dengan karakteristik yang sangat kuat dan penuh daya tarik. Ia adalah sosok anak kecil yang memiliki keceriaan, kepolosan, namun juga ketangguhan mental yang luar biasa. Dalam beberapa bagian, Delisa digambarkan sebagai pribadi yang suka berbagi dan tidak mudah menyerah. Misalnya, ketika ia memotong cokelat besar untuk dibagi kepada temannya, atau ketika ia tetap semangat belajar walau harus menghafal ulang dari awal. Ketangguhannya tampak dalam sikap menerima kondisi kakinya yang diamputasi tanpa keluhan berlebihan. Ia juga menunjukkan keberanian saat menghadapi proses belajar yang tidak mudah pasca trauma. Karakter-karakter pendukung seperti Ummi, Abi, Kak Aisyah, Ustadz Rahman, dan prajurit Smith (yang kemudian menjadi muallaf dengan nama Salam) semakin menghidupkan cerita dengan kontribusi nilai-nilai sosial dan keagamaan. Koh Acan, seorang pedagang non-Muslim, juga menunjukkan bahwa keberagaman budaya dan agama dalam masyarakat dapat hadir secara harmonis dan saling menghargai.

Latar sosial masyarakat Lhok Nga dalam novel ini sangat terasa melalui detail kegiatan harian, seperti tradisi mengaji setelah Subuh, latihan tari saman, serta suasana religius yang terbangun melalui narasi-narasi keseharian. Masyarakat digambarkan sebagai komunitas yang religius, hangat, dan memiliki hubungan sosial yang kuat, meskipun kemudian dihancurkan oleh bencana besar. Namun, nilai-nilai sosial tetap hidup melalui tokoh-tokohnya yang saling membantu di pengungsian dan saat pemulihan. Suasana novel ini didominasi oleh kesedihan yang mendalam, namun diimbangi dengan kebahagiaan kecil yang Delisa rasakan saat ia mulai sembuh, bertemu kembali dengan Abi, dan menyelesaikan hafalannya. Perpaduan suasana ini membuat novel terasa emosional tetapi tidak berlarut dalam duka. Justru dari kesedihan itu lahirlah pelajaran-pelajaran hidup yang kuat.

Jika dianalisis lebih lanjut, nilai-nilai dalam novel ini sangat sejalan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila. Delisa adalah representasi konkret dari pelajar yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, yang tampak dari kesungguhan dan ketulusannya dalam menjalankan ibadah. Ia juga mandiri, terlihat dari semangatnya untuk menghafal tanpa bergantung kepada siapa pun, bahkan setelah kehilangan ibunya. Kemampuan Delisa dalam memahami dan merenungi kesalahan masa lalunya menunjukkan nalar kritis yang mulai tumbuh meskipun ia masih kecil. Selain itu, ia menunjukkan sikap kreatif dengan mencoba metode hafalan tertentu dan menggunakan daya imajinasi saat membayangkan cara shalat khusyuk. Delisa juga hidup dalam lingkungan yang berkebhinekaan global, dibuktikan melalui hubungan baik dengan Koh Acan yang berbeda agama dan budaya. Sementara semangat gotong royong terlihat dari solidaritas masyarakat di pengungsian serta peran orang dewasa yang terus mendukung pemulihan Delisa.

Novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye merupakan karya sastra yang tidak hanya menggugah emosi pembaca, tetapi juga sarat dengan pesan-pesan kedidaktisan yang menyentuh berbagai aspek pendidikan nasional dan religius, nilai budaya, moral, sosial, serta pengetahuan dan sikap hidup. Melalui kisah Delisa, seorang anak perempuan yang hidup dalam kesederhanaan di Aceh dan menghadapi tragedi besar tsunami, pembaca diajak untuk memahami makna ketulusan, keikhlasan, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Dalam konteks pendidikan nasional, novel ini secara tidak langsung mendidik pembaca untuk menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, serta memperkuat nilai-nilai religius yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Pendidikan religius sangat kental terlihat dalam cara Delisa menghafalkan dan menjalankan shalat, meskipun dalam keadaan yang sangat sulit. Hal ini mencerminkan betapa pendidikan agama menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter anak-anak Indonesia.

Dari sudut pandang nilai budaya, moral, dan sosial, novel ini menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh yang masih menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Ketika bencana melanda, masyarakat bahu-membahu saling menolong satu sama lain. Delisa menjadi simbol dari generasi muda yang mampu menjaga nilai moral, bahkan dalam kondisi krisis. Ia tetap bersikap sopan, menghormati orang tua, dan menunjukkan empati kepada sesama korban. Moralitas yang ditampilkan tidak bersifat menggurui, tetapi disampaikan melalui dialog dan tindakan nyata tokoh-tokohnya. Di sinilah letak didaktisisme tersembunyi: pembaca diajak belajar melalui pengalaman batin tokoh dan dinamika cerita. Nilai-nilai sosial seperti solidaritas, empati, dan keadilan sosial juga menjadi napas yang menghidupkan novel ini, sejalan dengan sila-sila dalam Pancasila, khususnya sila kedua dan kelima.

Sementara itu, dari segi pengetahuan dan sikap hidup, Hafalan Shalat Delisa memberikan pelajaran penting tentang bagaimana seseorang, terutama anak-anak, bisa bertumbuh dalam ketangguhan melalui pengalaman traumatis. Delisa menunjukkan sikap hidup yang resilien, tidak larut dalam kesedihan, dan tetap memiliki harapan. Ia mengajarkan kepada pembaca bahwa hidup adalah tentang menerima takdir dengan lapang dada, bersyukur dalam keterbatasan, dan terus berbuat baik meskipun dunia terasa tidak adil. Melalui kisahnya, pembaca dapat memahami pentingnya bersikap positif, berpikir jernih dalam menghadapi musibah, serta terus memelihara semangat untuk berbuat kebaikan. Dengan demikian, novel ini berhasil menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter secara halus namun kuat, menjadikannya sebagai salah satu karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik secara emosional dan spiritual.

Hafalan Shalat Delisa memiliki banyak kelebihan yang patut diapresiasi, terutama dalam kemampuannya membangun suasana emosional yang menyentuh dan menyampaikan pesan moral serta religius secara kuat namun tidak menggurui. Kekuatan utama novel ini terletak pada kesederhanaan kisahnya yang begitu manusiawi dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya tentang ketuhanan, kemanusiaan, dan kepedulian sosial. Karakter Delisa digambarkan dengan sangat kuat, polos, dan penuh keikhlasan, sehingga mampu menjadi simbol dari keteguhan jiwa anak-anak dalam menghadapi penderitaan. Selain itu, Tere Liye berhasil menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter melalui narasi yang halus, tidak membosankan, dan tetap menggugah, yang menjadikan novel ini cocok dibaca oleh berbagai kalangan usia. Gaya bahasa yang digunakan pun cenderung sederhana namun efektif dalam menyampaikan pesan mendalam, dan penggunaan latar peristiwa tsunami Aceh juga memberikan nuansa realitas sosial yang kuat dan beresonansi emosional.

Namun demikian, novel ini tidak luput dari kekurangan. Salah satu kelemahan yang dapat dicermati adalah alur cerita yang cenderung linier dan mudah ditebak, sehingga bagi sebagian pembaca yang terbiasa dengan plot kompleks, novel ini mungkin terasa datar. Selain itu, meskipun karakter Delisa dibangun dengan baik, beberapa karakter pendukung dalam cerita terkesan kurang digali secara mendalam, sehingga dinamika hubungan antar tokoh kurang terasa kaya. Dari perspektif penulis artikel ini, penyampaian pesan-pesan moral dan religius dalam novel memang mengena, namun ada momen-momen tertentu yang terasa terlalu sentimental dan berpotensi menimbulkan efek dramatis yang berlebihan jika tidak disikapi secara kritis oleh pembaca.

Novel Hafalan Shalat Delisa membuktikan bahwa karya sastra dapat menjadi media pembelajaran karakter yang efektif dalam dunia pendidikan. Melalui kisah Delisa, pembaca tidak hanya disuguhi cerita yang mengharukan, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai penting seperti keikhlasan, keteguhan, empati, dan spiritualitas, yang semuanya sejalan dengan karakter Pancasila. Pemanfaatan novel ini dalam pendidikan dapat memperkuat pembelajaran afektif, membentuk kepribadian siswa secara holistik, serta menanamkan nilai-nilai moral dan religius yang kontekstual dan menyentuh secara emosional. Dengan demikian, novel ini layak digunakan sebagai bahan ajar literasi yang mendukung pendidikan karakter di berbagai jenjang.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *