Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Belajar “Design Thinking” dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Sering kali kita membayangkan ruang kelas sebagai tempat yang sederhana: dosen menjelaskan, mahasiswa mendengarkan, lalu diskusi terjadi di sela-sela pertemuan. Itu saja. Namun, sesungguhnya ruang kelas juga dapat menjadi laboratorium gagasan. Di sanalah berbagai pertanyaan tentang pendidikan muncul, misalnya mengapa pembelajaran terasa membosankan? Mengapa siswa kurang terlibat? atau mengapa kurikulum kadang terasa jauh dari realitas kehidupan?.

Dari pertanyaan-pertanyaan semacam itulah inovasi pendidikan biasanya lahir.

Dalam mata kuliah Kajian Inovasi Pembelajaran dan Kurikulum, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori pembelajaran, tetapi juga belajar membaca kenyataan pendidikan dengan lebih peka. Perkuliahan dimulai dengan sebuah kesepahaman bersama, yakni memahami arah mata kuliah, visi program studi, serta capaian pembelajaran yang ingin diraih. Silabus, RPS, sistem penilaian, hingga berbagai bentuk tugas menjadi peta perjalanan intelektual yang akan ditempuh selama satu semester.

Setelah fondasi itu terbentuk, mahasiswa mulai diajak memasuki dunia yang lebih luas, yaitu dunia inovasi pendidikan. Mereka mendiskusikan bagaimana konsep inovasi berkembang dalam pembelajaran dan kurikulum, serta mengapa pembaruan dalam pendidikan menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan generasi baru berpikir dengan cara yang berbeda. Karena itu, pendidikan pun harus menemukan cara-cara baru untuk tetap relevan dan kontekstual.

Dalam proses inilah pendekatan Design Thinking menjadi kerangka berpikir utama. Pendekatan ini mengajarkan bahwa inovasi tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari empati dan dari kemampuan memahami pengalaman orang lain.

Mahasiswa kemudian belajar melakukan observasi terhadap realitas pembelajaran. Mereka melihat bagaimana guru mengajar, bagaimana siswa belajar, serta di mana letak persoalan yang sering kali tidak terlihat di permukaan. Dari pengamatan itu muncul berbagai pertanyaan: Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa? Bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra dapat menjadi lebih hidup dan lebih menarik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dirumuskan menjadi sebuah design challenge, yaitu tantangan nyata yang perlu dijawab melalui inovasi. Di sinilah kreativitas mahasiswa mulai bekerja. Mereka mengembangkan berbagai ide pembelajaran, seperti model pembelajaran yang lebih partisipatif, media literasi digital, modul sastra yang lebih kontekstual, hingga rancangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ide-ide itu tidak berhenti sebagai wacana. Mahasiswa belajar mewujudkannya dalam bentuk prototipe inovasi. Prototipe tersebut kemudian diuji, dievaluasi, dan disempurnakan melalui berbagai proses diskusi dan refleksi. Dari proses ini mahasiswa memahami bahwa inovasi bukanlah sesuatu yang selesai dalam satu langkah, melainkan perjalanan panjang yang memerlukan percobaan dan perbaikan terus-menerus.

Seiring dengan itu, perkuliahan juga memperkenalkan mahasiswa pada integrasi teknologi dalam pembelajaran serta gagasan edupreneurship. Inovasi pendidikan tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk pendidikan yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Pada akhirnya, seluruh proses tersebut bermuara pada satu hal, yakni kemampuan menuliskan gagasan secara ilmiah. Mahasiswa menyusun artikel atau proposal inovasi pendidikan atau book chapter yang merangkum seluruh perjalanan berpikir mereka mulai dari pengamatan terhadap masalah hingga rancangan solusi yang ditawarkan.

Dengan cara itulah mata kuliah ini mencoba menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Ruang kelas tidak lagi sekadar tempat menyerap teori, tetapi menjadi tempat di mana gagasan-gagasan pendidikan lahir, diuji, dan dikembangkan.

Sebab dalam dunia pendidikan, inovasi sering kali berawal dari hal yang sederhana, seperti keberanian untuk bertanya, kepekaan untuk memahami, dan kemampuan imajinasi untuk membayangkan kemungkinan baru dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Semoga.

Bandung, 6 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Belajar “Design Thinking” dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra”

  1. Avatar Herman Priatna
    Herman Priatna

    Artikel ini memberikan perspektif menarik mengenai penerapan design thinking dalam pembelajaran bahasa dan sastra, terutama dalam mendorong kreativitas dan pemecahan masalah siswa. Namun saya tertarik mengetahui lebih jauh bagaimana implementasi konkret pendekatan ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat SMP, khususnya pada kegiatan menulis teks atau apresiasi sastra.

    1. Avatar Heri
      Heri

      Terima kasih komentarnya, Pak Herman.
      Nanti kita diskusikan di kelas Pak. Mungkin akan banyak perspektif “baru” dari kawan-kawan yang mengajar di tingkat SMP. Kita bisa saling berkolaborasi dan bersinergi untuk kemajuan pembelajaran di kelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *