
[Sumber gambar: Ilustrasi mendongeng. (dok. Pixabay.com/Tumisu/Putu Elmira)]
Penulis: Yulia Herliani
Hikayat bukan sekadar cerita lama yang tersimpan dalam buku-buku usang, melainkan warisan sastra Nusantara yang menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan pesan moral. Di ruang kelas, hikayat hadir bukan hanya untuk dikenali, tetapi juga untuk dimaknai sebagai cermin kehidupan: bagaimana orang dahulu berpikir, berjuang, dan menata kebijaksanaan. Bagi siswa, belajar hikayat adalah kesempatan untuk memahami bahwa nilai-nilai yang hidup ratusan tahun lalu masih dapat mereka temukan dalam pengalaman sehari-hari.
Dalam kurikulum, teks hikayat ditempatkan sebagai bagian penting dari sastra klasik yang perlu dipelajari siswa di tingkat menengah. Tujuannya jelas: agar mereka mengenal ciri, struktur, sekaligus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Lebih dari itu, hikayat mengajak siswa melatih kepekaan—tidak hanya dalam membaca teks, tetapi juga dalam membaca kehidupan. Misalnya, dari Hikayat Hang Tuah, siswa dapat belajar arti kesetiaan dan keberanian, sesuatu yang dapat mereka terapkan saat setia mendukung sahabat yang sedang kesulitan atau berani membela kebenaran di sekolah. Dari Hikayat Bayan Budiman, siswa bisa memahami pentingnya kecerdikan dan kebijaksanaan, yang relevan ketika mereka harus memilih jalan keluar bijak dalam konflik dengan teman sebaya.
Meski begitu, mengajarkan hikayat tentu tidak tanpa hambatan. Bahasa yang kaku dan terasa asing membuat sebagian siswa kesulitan memahami isi cerita. Ada pula yang menganggapnya membosankan karena jauh dari dunia mereka. Ditambah lagi, jika pembelajaran hanya berfokus pada hafalan, hikayat akhirnya kehilangan ruhnya dan sekadar menjadi deretan teks klasik.
Karena itu, guru perlu menghadirkan strategi pembelajaran yang kreatif. Hikayat bisa dihidupkan kembali melalui drama kelas, pementasan digital, atau animasi sederhana. Bayangkan, kisah Hikayat Malim Deman ditampilkan dalam bentuk teater sekolah atau bahkan dibuat menjadi video pendek ala konten media sosial, tentu akan terasa lebih dekat dan menarik bagi siswa. Nilai-nilai dalam hikayat pun bisa dikaitkan dengan situasi yang mereka alami sehari-hari: keberanian melawan rasa takut saat presentasi di depan kelas, kesetiaan menjaga janji pada sahabat, atau kecerdikan dalam mengatur waktu belajar.
Lebih luas lagi, teknologi digital membuka ruang ekspresi baru. Siswa dapat mengolah hikayat menjadi podcast, komik digital, atau vlog dengan interpretasi masa kini. Kegiatan ini bukan hanya menumbuhkan apresiasi sastra, tetapi juga mengasah keterampilan abad 21: kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital.
Pada akhirnya, hikayat hanya akan benar-benar hidup bila dihadirkan secara kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan dunia siswa. Guru berperan sebagai jembatan yang menghubungkan teks klasik dengan kehidupan modern. Dengan cara itu, hikayat tidak sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi yang terus relevan bagi generasi muda untuk menumbuhkan keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan dalam hidup mereka.












Tinggalkan Balasan