
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Sayyidatina Hamidah Fauziah
Midah duduk pelan di sudut kelas, memegang tas ranselnya erat-erat. Buku tulisnya yang penuh coretan, beberapa halaman sobek dan ditulisi kata-kata menyakitkan seperti “Gendut” dan “sangat jelek”.
Setiap hari, Ama yang selalu menemukan cara untuk menyakiti Midah. Kadang mencubit tangannya, kadang mengejek penampilan nya, bahkan terkadang minta uang jajan d ilorong sekolah saat guru tidak melihat. Midah tidak berani berbicara kepada siapapun; Midah takut hal itu akan membuat situasi semakin buruk, dan juga merasa malu karena berpikir mungkin Midah sendiri yang salah.
Hingga suatu hari, Midah berani bicara kepada saudaranya, Dina yang sekelas. Sesudah Dina mendengarkan cerita dari Midah, Dina lalu melaporkan kejadian bully yang dialami Midah selama ini Dina berani berbicara dan tidak tinggal diam untuk kejadian bully yang dialami Midah. Sebelum Pergi ke ruang guru dina sempat berbicara “Kamu ini harus belajar berani apapun alasannya dia sudah bertindak seperti itu kamu masih diam? Lawanlah jangan takut”. Lalu dina pun pergi ke ruang guru.
Lalu setelah Dina melaporkan perbuatan Ama terhadap Midah, Ama pun dipanggil ke ruang guru. Ama ditanya tentang kenapa dan apa alasannya, Setelah ama menjelaskannya kemudian Ama mendapatkan sangsi untuk membersihkan kamar mandi dan dipanggil kedua orang tuanya. setelah itu terlebih dahulu Ama dan mudah dipertemukan terlebih dahulu.
Ini pertama kalinya Midah menatap mata Ama, dengan mata yang masih takut, ancaman dan perilaku Ama yang pernah dia lakukan kepada Midah selama beberapa bulan ini. Ama Meminta maaf tentang perilakunya selama ini terhadap Midah dia sadar perilakunya selama ini sangat jahat dan bisa membuat Midah bisa trauma untuk berbaur bersama teman-teman lainnya. Di balik semua itu Midah sudah memaafkan perbuatan ama selama ini. Sebelum pergi ke kelas Midah mengucapkan kata “Selama ini aku takut untuk berbicara pada siapapun karena hal ini. Tetapi aku sadar mau sampaikan aku bakal seperti ini hhuu Maaf juga nya Ama aku sudah melaporkan mu ke guru” Lalu Midah pun pergi ke kelas dengan mata yang menangis.
Setelah kejadian itu seiring berjalannya waktu, Midah mulai kembali bersenyum. Dia bergabung dengan klub seni di sekolah dan menemukan bahwa banyak teman yang suka dengan gambarnya. Bayangan kesedihan yang selalu mengikutinya perlahan-lahan hilang, digantikan oleh harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Pesan:
“Saya berhasil karena saya berani berbicara. Bukan untuk membalas dendam, tapi untuk melindungi diri dan orang lain yang mungkin mengalaminya.”













Tinggalkan Balasan