Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bangku Belakang

[Sumber gambar: https://www.cahayamustikainternesia.com/]

Penulis: Ai Mamay

Di kelas IV, ada satu bangku yang selalu kosong di pojok belakang. Bangku itu seakan punya cerita sendiri. Semua anak tahu siapa pemiliknya: Raka, anak yang jarang ikut ramai.

Setiap pagi, saat bel berbunyi, kelas sudah riuh oleh tawa dan cerita. Namun pintu baru berderit ketika Raka masuk, menunduk sambil menenteng tasnya. Ia berjalan pelan lalu duduk di bangku belakang, jauh dari pandangan guru dan teman-teman.

“Kenapa sih dia selalu sendirian?” bisik Tio pada Rani.

“Entahlah. Katanya dia nggak suka main sama orang lain,” jawab Rani sembari mengangkat bahu.

Padahal, bukan itu alasannya. Raka bukan tidak suka, ia hanya tak percaya diri. Nilai ulangannya sering merah, tulisannya jelek, dan ia selalu merasa tertinggal. Duduk di belakang membuatnya seolah menghilang.

Suatu hari, Bu Nita, wali kelas mereka, membawa setumpuk kertas gambar.

“Anak-anak, hari ini kita tidak belajar menulis. Kita menggambar bebas. Gambarlah sesuatu yang paling kalian sukai!”

Suasana kelas berubah gaduh. Ada yang menggambar sawah, ada yang menyalin pemandangan dari buku, ada pula yang mewarnai langit dengan pensil biru. Raka tetap diam di bangkunya. Ia hanya menatap kosong pada kertas putih.

“Raka, kamu tidak menggambar?” tanya Bu Nita sambil menghampiri.

Raka menunduk. “Saya… tidak tahu harus menggambar apa, Bu.”

“Tulis saja dengan pensilmu, apa yang sering kamu lihat, yang membuatmu senang.”

Raka menarik napas. Perlahan, tangannya bergerak. Garis demi garis mengisi kertas. Tak ada yang memperhatikan, karena semua sibuk dengan gambar masing-masing.

Ketika waktunya mengumpulkan, Bu Nita menatap kertas Raka lama sekali. Gambar itu menampilkan sebuah pohon besar dengan akar menjalar ke seluruh halaman. Dahannya menjulang ke langit biru, dengan burung-burung beterbangan di sekitarnya. Ada detail rumput, bunga kecil, bahkan seekor kucing di bawah pohon.

“Anak-anak, coba lihat gambar Raka,” kata Bu Nita sambil mengangkat kertas itu.

Seluruh kelas terdiam.

“Wah… bagus banget!” seru Rani.

“Kok bisa detail gitu?” tambah Tio kagum.

Raka menunduk, pipinya memerah. Ia tidak menyangka karyanya dipuji.

Hari-hari berikutnya berubah. Saat pelajaran seni, teman-teman justru berkerumun di bangku belakang.

“Rak, ajarin aku bikin pohon kayak punyamu,” pinta Tio.

“Rak, warnain punyaku biar lebih hidup dong,” sahut Rani.

Raka tersenyum untuk pertama kalinya di kelas. Ia mulai berani berbicara, mulai mau duduk di depan saat presentasi, bahkan nilai pelajaran lain ikut meningkat karena ia kini semangat belajar.

Bangku belakang yang dulu sepi kini selalu penuh. Bukan lagi tempat sembunyi, melainkan tempat lahirnya semangat baru.

Suatu sore, setelah bel pulang berbunyi, Bu Nita memanggil seluruh kelas.

“Anak-anak, kalian tahu apa yang membuat Ibu paling bangga hari ini?” tanya Bu Nita sambil menatap mereka satu per satu.

Semua diam.

“Bukan nilai tinggi, bukan siapa yang paling pintar, tapi keberanian untuk percaya pada diri sendiri. Raka sudah menunjukkannya. Ia berani keluar dari diamnya, dan kini karyanya menginspirasi kita semua.”

Raka menunduk, matanya berkaca-kaca. Teman-temannya serempak bertepuk tangan.

“Mulai sekarang,” lanjut Bu Nita, “ingatlah bahwa setiap dari kalian punya keistimewaan. Jangan pernah meremehkan diri sendiri, dan jangan pula meremehkan teman. Bangku belakang, bangku depan, semua sama berharganya jika kita mau belajar bersama.”

Hari itu, Raka pulang dengan langkah ringan. Ia menoleh sekali ke bangku belakangnya, tersenyum kecil, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

“Bangku ini pernah jadi tempatku bersembunyi… tapi kini, tempat inilah yang membuatku terlihat.”


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *