Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bahasa sebagai Jembatan Komunikasi: Dinamika Interaksi Manusia di Era Digital

[Sumber gambar: https://jektvnews.disway.id/]

Penulis: Ahmad Abdul Latief

Komunikasi adalah bagian paling dasar dari kehidupan manusia. Melalui komunikasi, kita saling berbagi informasi, perasaan, dan gagasan. Bahasa menjadi jantung dari proses ini—bukan sekadar alat berbicara, tetapi juga penanda identitas sosial dan budaya. Cara seseorang berbahasa sering kali mencerminkan latar belakang, lingkungan, bahkan nilai-nilai yang dianutnya.

Namun, masuknya era digital membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi. Media sosial dan aplikasi pesan instan kini menjadi ruang utama komunikasi sehari-hari. Dari sinilah muncul berbagai fenomena baru, seperti penggunaan bahasa gaul, emoji, stiker, hingga kebiasaan mencampur bahasa (code-mixing). Percakapan yang dulu berlangsung tatap muka kini berpindah ke layar gawai: cepat, singkat, dan sering kali tanpa ekspresi wajah atau intonasi suara.

Kemudahan ini tentu memberi keuntungan, tetapi juga menyimpan tantangan. Dalam komunikasi digital, banyak isyarat nonverbal, seperti mimik wajah, gerak tubuh, atau nada bicara yang hilang. Akibatnya, pesan mudah disalahpahami. Emoji memang hadir sebagai pengganti ekspresi emosi, tetapi tidak selalu mampu menyampaikan maksud secara utuh. Tidak heran jika kesalahpahaman dalam percakapan digital semakin sering terjadi dan bahkan bisa berujung konflik.

Fenomena ini juga terlihat dalam dinamika bahasa di Kota Bandung. Banyak mahasiswa terbiasa mencampur bahasa Indonesia dan Sunda saat berkomunikasi di WhatsApp atau media sosial. Campur kode ini berfungsi untuk menciptakan keakraban dan menjaga kedekatan sosial. Namun, di sisi lain, kebiasaan tersebut membuat tingkat formalitas komunikasi menurun, terutama ketika digunakan dalam konteks akademik atau profesional.

Perubahan pola komunikasi digital juga memengaruhi cara pesan ditafsirkan. Dalam percakapan daring, orang cenderung memahami pesan secara harfiah tanpa menangkap maksud sebenarnya dari pengirim. Akibatnya, pesan yang awalnya netral bisa terasa kasar, sindiran bisa dianggap serangan, dan candaan berujung salah paham. Platform dengan batasan karakter singkat, seperti media sosial berbasis teks cepat, semakin memperbesar risiko ini karena konteks sering kali terpotong.

Di tengah masifnya digitalisasi, data menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia kini hidup berdampingan dengan dunia digital. Namun, dampaknya tidak hanya soal gaya komunikasi, melainkan juga menyentuh aspek budaya. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah menurunnya kemampuan generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah. Di Bandung, misalnya, tidak sedikit anak muda yang mulai jarang menggunakan bahasa Sunda secara aktif dalam percakapan sehari-hari.

Meski demikian, teknologi tidak selalu menjadi ancaman. Justru di sinilah peluang terbuka. Perkembangan kecerdasan buatan dan fitur penerjemahan bahasa dapat dimanfaatkan untuk menjaga keberagaman linguistik. Jika digunakan secara bijak, teknologi dapat menjadi sarana pelestarian bahasa daerah sekaligus jembatan komunikasi antarbudaya.

Pada akhirnya, tantangan komunikasi di era digital bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Bahasa tetap perlu dijaga sebagai alat pemersatu, bukan pemicu kesalahpahaman. Dengan kesadaran berbahasa yang baik, komunikasi digital tidak hanya akan menjadi cepat, tetapi juga bermakna, beretika, dan tetap menghargai kekayaan budaya lokal.

Penguatan literasi digital menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan komunikasi di era teknologi. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memahami konteks pesan, memilih diksi yang tepat, serta menyadari dampak dari setiap kata yang dikirimkan melalui media digital. Literasi digital bukan hanya soal kecakapan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang etika berbahasa, empati, dan kesadaran sosial dalam berkomunikasi.

Selain itu, pendidikan bahasa memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian budaya. Pembelajaran bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah, perlu diarahkan agar relevan dengan realitas digital tanpa kehilangan nilai dasarnya. Bahasa daerah, seperti Sunda, tidak seharusnya tersisih oleh arus globalisasi, melainkan dapat hidup berdampingan melalui adaptasi yang kreatif di ruang digital.

Peran individu juga tidak kalah penting. Setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab moral untuk berkomunikasi secara santun, jelas, dan tidak menimbulkan multitafsir. Kesadaran untuk membaca ulang pesan sebelum dikirim, menggunakan emoji secara proporsional, serta menghindari bahasa yang ambigu dapat meminimalkan kesalahpahaman dalam komunikasi daring.

Di sisi lain, teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan penentu utama kualitas komunikasi. Pemanfaatan kecerdasan buatan, fitur penerjemahan, dan platform digital yang inklusif dapat mendukung keberagaman bahasa jika dikembangkan dengan perspektif kebudayaan. Dengan pendekatan ini, teknologi justru berpotensi memperkuat identitas linguistik masyarakat, bukan mengikisnya.

Pada akhirnya, komunikasi di era digital menuntut keseimbangan antara kecepatan dan ketepatan, antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab berbahasa. Bahasa bukan sekadar alat bertukar pesan, melainkan cermin cara manusia membangun relasi sosial. Dengan kesadaran, literasi, dan sikap saling menghargai, komunikasi digital dapat menjadi ruang yang sehat, inklusif, dan berkontribusi positif bagi keberlangsungan bahasa serta budaya di tengah perubahan zaman.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *