Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bahasa Persuasif dalam Green Marketing: Menjawab Tren Bisnis Berkelanjutan untuk Generasi Milenial dan Gen Z

[Sumber gambar: https://www.isellercommerce.com/)

Penulis: Mochamad Zidane Maulana dan Dr. Lilis Amaliah Rosdiana, M.Pd.

Pendahuluan

Di tengah gelombang kesadaran global terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, konsumen muda—khususnya generasi milenial dan Gen Z—semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih produk. Hal ini mendorong munculnya tren Green Marketing, di mana bisnis tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyuarakan nilai-nilai keberlanjutan. Namun, nilai tersebut tidak akan efektif jika tidak dikemas dalam bahasa yang mampu menyentuh akal dan hati konsumen. Di sinilah peran penting bahasa persuasif, yang mampu membentuk persepsi, membangun emosi, dan menggerakkan aksi.

Pentingnya bahasa persuasif dalam Green Marketing bahasa persuasif menjadi strategi komunikasi utama dalam pemasaran berkelanjutan. Produk yang ramah lingkungan memerlukan narasi yang meyakinkan, bukan hanya informatif. Mahasiswa dari prodi Manajemen yang belajar strategi bisnis dan pemasaran dapat melihat bahwa efektivitas promosi sangat tergantung pada bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan. Tanpa bahasa yang kuat dan menggugah, nilai keberlanjutan bisa kehilangan daya tariknya.

Contoh konkret:

  • Sebuah kampanye yang hanya mengatakan, “Produk kami organik dan bebas pestisida” terdengar biasa saja.

Tetapi jika dikemas menjadi, “Dengan memilih produk ini, Anda ikut menjaga tanah dan air tetap bersih untuk generasi mendatang,” maka pesan tersebut menyentuh sisi emosional dan menciptakan hubungan nilai antara produk dan konsumen.

Di era sekarang, tren Green Marketing semakin kuat dengan didorong oleh kesadaan generasi milenial dan Gen Z yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Terutama akhir akhir ini dengan didukung oleh bayaknya aktivis dan komunitas lingkungan yang mendukung terkait kuatnya narasi Green Marketing ini. Di Indonesia sendiri, kampanye Green Marketing semakin berkembang pesat dengan berbagai brand lokal dan internasional yang aktif dalam menyampaikan produk yang pesan keberlanjutan melalui media. Fenomena ini menegaskan bahwa bukan hanya sekedar produk yang dijual, tetapi nilai dan misi yang diusung pun menjadi faktor utama dalam menarik hati konsumen.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa persuasif dalam Green Marketing harus mampu menjembatani kesadaran ini dengan cara yang relevan dan memotivasi agar konsumen milenial dan Gen Z merasa terlibat secara emosional dan intelektual dalam memilih produk yang mendukung masa depan planet.

Diksi dan Gaya Bahasa yang Relevan bagi Milenial dan Gen Z.

Generasi muda lebih tergerak oleh bahasa yang sederhana, autentik, dan menyuarakan misi sosial. Penggunaan diksi seperti “berkelanjutan”, “planet-friendly”, “pilihan sadar”, dan “gaya hidup hijau” menjadi kunci agar pesan terasa relevan. Gaya bahasa yang digunakan pun perlu naratif dan inklusif. Gaya storytelling—yang menjelaskan latar belakang produk dan dampaknya terhadap lingkungan—lebih mampu menarik perhatian dibanding penyampaian data kaku.

Contoh:
“Kami memulai dari keresahan saat melihat tumpukan sampah plastik di sungai kampung halaman kami. Dari sana, lahirlah produk ini—agar Anda turut menjadi bagian dari solusi, bukan polusi.”

Selain menggunakan diksi yang sederhana dan autentik, bahasa persuasif dalam green marketing juga perlu disesuaikan dengan gaya komunikasi generasi milenial dan Gen Z yang dinamis dan kekinian. Generasi ini sangat tertarik dengan bahasa yang tidak hanya informatif, tetapi juga ringan, dekat dengan keseharian, dan punya sentuhan personal. Misalnya, penggunaan bahasa gaul yang tetap sopan dan positif dapat menjalin kedekatan emosional serta meningkatkan daya tarik pesan.

Contohnya, alih-alih hanya mengatakan produk “berkelanjutan,” bisa dikemas menjadi, “Pilih yang keren dan planet-friendly supaya bumi tetap asik untuk kita semua.” Pendekatan storytelling digital juga penting, seperti narasi yang melibatkan pengalaman sehari-hari, metafora yang relate dengan kehidupan mereka, atau cerita singkat yang menginspirasi perubahan kecil tapi berarti.

Dengan demikian, bahasa persuasif tidak hanya menyampaikan nilai keberlanjutan, tetapi juga menciptakan nuansa komunikasi yang hangat dan mengajak generasi muda untuk merasa menjadi bagian dari gerakan positif ini.

Aspek Teknologi & Media Sosial

Di era digital saat ini, peran Bahasa persuasif dalam green marketing semakin diperkuat oleh media social dan teknologi digital yang menjadi “ruang hidup” bagi generasi milenial dan Gen Z. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan hanya tempat berbagai hiburan, tetapi juga medium utama, jembatan untuk menyebarkan pesan keberlanjutan secara cepat dan efektif. Dalam konteks ini, Bahasa persuasif mengadopsi bentuk-bentuk baru, seperti caption yang singkat namun menggugah, video pendek memikat/short video, serta kampanye influencer yang autentik dan relatable.

Influencer yang berbicara dengan gaya santai dan jujur mampu membuat pesan green marketing terasa nyata dan tidak menggurui. Misalnya, cerita singkat influencer yang menunjukkan bagaimana mereka memilih produk ramah lingkungan dalam keseharian, kemudian mengajak follower untuk melakukan hal yang sama, jauh lebih efektif daripada iklan formal yang kaku. Ini menegaskan pentingnya bahasa yang tidak hanya informatif, tapi juga menginspirasi aksi nyata di dunia nyata melalui sentuhan digital.

Narasi Brand dan Penguatan Nilai Keberlanjutan

Narasi brand yang kuat membantu konsumen memahami bahwa mereka bukan sekadar membeli produk, tetapi juga mendukung perubahan. Di sini, bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi memiliki peran strategis untuk menjembatani antara nilai global (sustainability) dan konteks lokal (budaya konsumsi masyarakat Indonesia).

Mahasiswa dapat mengembangkan kampanye yang menonjolkan:

  • Transparansi asal-usul bahan baku.
  • Kisah komunitas lokal yang terlibat.
  • Komitmen jangka panjang terhadap lingkungan.

Implikasi Nyata dalam Dunia Bisnis dan Pendidikan

1. Bisnis:

  • Brand lokal seperti SukkhaCitta, Evoware, atau Plépah berhasil memanfaatkan narasi keberlanjutan dengan gaya bahasa yang emosional dan membangun ikatan dengan konsumen.
  • Bahasa persuasif tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun loyalitas dan reputasi jangka panjang.

2. Pendidikan:

  • Mahasiswa belajar mengintegrasikan aspek linguistik (diksi, gaya bahasa, narasi) ke dalam strategi pemasaran.
  • Penulisan esai seperti ini menjadi latihan berpikir kritis dan kreatif yang menggabungkan teori bahasa dan praktik manajerial.

3. Sosial:

  • Masyarakat mulai teredukasi secara halus tentang isu lingkungan melalui kampanye produk.
  • Konsumen terinspirasi untuk melakukan pembelian yang lebih etis dan berdampak positif.

Kesimpulan

Dalam tren bisnis berkelanjutan, kemampuan menggunakan bahasa persuasif menjadi kompetensi penting. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium penyampai nilai dan pemantik perubahan. Kolaborasi antara mahasiswa Bahasa Indonesia dan Manajemen menunjukkan bahwa pemasaran produk ramah lingkungan akan lebih kuat jika dikomunikasikan dengan cara yang menyentuh pikiran dan perasaan. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi masa depan perlu menguasai teknik berbahasa yang tidak hanya baik secara teknis, tetapi juga bermakna secara sosial dan etis.

Kekuatan bahasa persuasif dalam green marketing bukan sekadar soal kata-kata, tetapi bagaimana bahasa itu mampu menjadi jembatan antara nilai global keberlanjutan dan budaya lokal yang unik. Kolaborasi lintas disiplin antara bahasa dan manajemen menjadi kunci agar strategi pemasaran produk ramah lingkungan semakin berdaya dan relevan. Dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh gejolak informasi, kemampuan berkomunikasi secara persuasif dan otentik menjadi keunggulan kompetitif yang sangat berharga bagi bisnis masa kini.

Lebih jauh, sebagai bagian dari generasi milenial dan Gen Z, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Dengan menguasai teknik bahasa yang tepat, bukan hanya dalam konteks akademik, tetapi juga dalam praktik nyata di masyarakat, mereka dapat mendukung gerakan bisnis berkelanjutan dengan cara yang tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga bermakna secara sosial dan etis. Karena pada akhirnya, perubahan yang nyata lahir dari pesan yang sampai ke hati dan menggerakkan tindakan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Bahasa Persuasif dalam Green Marketing: Menjawab Tren Bisnis Berkelanjutan untuk Generasi Milenial dan Gen Z”

  1. Avatar Zain

    Informasi sangat baik, lengkap, dan Insyallah bermanfaat. Saran dari saya penggunaan kata yang lebih efisien dan konsistensi kata miring dalam bahasa asing (planet-friendly, relatable, sustainability, dan lain sebagainya). Terimakasih atas perhatiannya🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *