Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bacaan Populer dan Imajinasi Anak 90-an

[Sumber gambar: https://radarbanyumas.disway.id/]

Penulis: Heri Isnaini

Bagi saya, komik Tatang S. bukan satu-satunya pintu. Ia berdiri sejajar yang saling menguatkan dengan bacaan populer lain yang mengisi masa kecil generasi 1990-an. Saat itu, imajinasi kami dibentuk oleh apa yang tersedia di kios koran, lapak buku bekas, dan pinjaman teman sekolah. Tidak ada kurasi algoritmik, yang ada adalah insting, rasa ingin tahu, dan keberanian membuka halaman demi halaman yang kadang terlalu gelap, terlalu dewasa, atau terlalu jujur untuk usia kami.

Di rak yang sama, atau setidaknya di tumpukan yang berdekatan, komik horor Tatang S. hidup berdampingan dengan cerita silat Kho Ping Hoo. Dari Kho Ping Hoo, saya mengenal dunia yang keras tetapi bermartabat, dendam yang diwariskan, kesetiaan pada guru, dan pertarungan batin antara kuasa dan nurani. Tokoh-tokohnya tidak selalu hitam-putih; kebaikan sering lahir dari luka panjang. Di usia yang masih belia, saya mungkin belum memahami etika Konfusianisme atau filsafat Timur yang mengendap di dalamnya, tetapi saya merasakan satu hal: hidup tidak pernah sederhana.

Pada saat yang sama, Si Buta dari Goa Hantu menghadirkan kepahlawanan yang lebih gelap, lebih liar, dan lebih dekat dengan horor. Kekerasan, dendam, dan tubuh yang cacat menjadi bagian dari narasi kepahlawanan. Dari sini, saya belajar bahwa kepahlawanan tidak selalu bersih dan rapi. Ada darah, ada amarah, ada kesendirian. Bacaan-bacaan ini secara diam-diam membentuk kepekaan saya terhadap tema-tema luka, keterasingan, dan pencarian makna—tema yang kelak terus kembali dalam tulisan-tulisan saya.

Di sisi lain, ada bacaan yang nadanya jauh lebih ringan, tetapi tidak kalah penting. Lima Sekawan mengajarkan petualangan kolektif bahwa rasa ingin tahu, keberanian, dan persahabatan bisa mengalahkan rasa takut. Goosebumps menghadirkan horor yang “aman” menyeramkan, tetapi selalu memberi jalan pulang di halaman terakhir. Dari dua bacaan ini, saya belajar menikmati ketegangan tanpa harus tenggelam di dalamnya. Takut bisa dinikmati, selama ada jarak.

Majalah Kawanku kemudian membuka pintu lain sama sekali. Ia tidak berisi hantu, pendekar, atau misteri, melainkan kegelisahan remaja: cinta pertama, kecanggungan tubuh, rasa ingin diakui, dan ketakutan menjadi tidak istimewa. Dunia yang ditawarkan terasa lebih lembut, tetapi juga penuh kecemasan yang berbeda. Jika komik Tatang S. mengajarkan saya bahwa gelap itu nyata, Kawanku mengajarkan bahwa rapuh juga bagian dari hidup. Dua bacaan yang tampak bertolak belakang itu justru bertemu dalam satu titik: sama-sama membentuk kesadaran emosional pembacanya.

Lalu ada Lupus dan cerita-cerita populer remaja lain seperti Olga Sepatu Roda. Dari sana, saya belajar bahwa cerita bisa jenaka, santai, dan sangat keseharian. Tidak semua kisah harus agung atau tragis untuk bermakna. Humor, kecanggungan, dan keisengan justru menjadi cara lain untuk memahami dunia. Lupus, dengan gaya berceritanya yang cair dan penuh komentar, mengajarkan bahwa suara naratif tidak harus serius untuk menjadi cerdas.

Novel-novel pop karya Fredy S. menempati ruang yang agak tersembunyi. Ia dibaca diam-diam, dipinjamkan tanpa banyak komentar. Ceritanya sederhana, melodramatis, kadang klise, tetapi sangat efektif secara emosional. Ia menyuguhkan dunia dewasa dalam versi yang mudah dicerna, seperti cinta terlarang, pengkhianatan, penderitaan perempuan, dan moralitas yang sering kali hitam-putih. Sebagai pembaca muda, saya belum tentu memahami kompleksitasnya, tetapi saya belajar satu hal penting, yaitu cerita bukan hanya soal peristiwa, melainkan tentang bagaimana perasaan diproduksi dan diarahkan.

Yang tak kalah penting adalah novel stensilan, bacaan yang hari ini nyaris punah dan jarang dibicarakan secara akademik. Kertasnya tipis, hurufnya kadang miring, dan ceritanya beredar secara terbatas. Namun justru di sanalah saya merasakan aura “terlarang” dalam membaca. Novel stensilan mengajarkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari institusi resmi. Ia bisa hidup secara sembunyi-sembunyi, berpindah tangan, dan bertahan karena dibutuhkan. Ada hasrat membaca yang tidak bisa dibendung oleh batas moral, sensor, atau selera elit.

Jika ditarik ke dalam kerangka akademik, semua bacaan ini membentuk apa yang bisa disebut sebagai ekologi imajinasi populer. Komik horor, cerita silat, petualangan anak, horor remaja, majalah remaja, novel pop, hingga teks stensilan bekerja bersama-sama membangun cara pandang generasi saya terhadap dunia. Mereka bukan bacaan remeh, melainkan mereka adalah arsip kultural yang menyimpan jejak ketakutan, harapan, humor, dan kegelisahan sosial zamannya.

Karena itu, ketika hari ini saya menulis tentang horor, mitologi, tubuh, atau spiritualitas dalam sastra, saya sadar bahwa pijakannya bukan semata teori Barat atau teks klasik. Ada ingatan tentang komik yang dibaca di lantai, cerita silat yang dibaca tergesa-gesa, majalah yang dilipat dan disembunyikan, novel yang dipinjam tanpa sampul. Semua itu membentuk sensibilitas saya: pelan, tidak sadar, tetapi menetap.

Barangkali, sastra tidak pernah benar-benar memilih jalannya sendiri. Ia dibentuk oleh bacaan yang kita temui terlalu dini, terlalu polos, dan terlalu jujur. Dan bagi saya, masa kecil yang dipenuhi Tatang S., Kho Ping Hoo, Lima Sekawan, Goosebumps, Lupus, Kawanku, Fredy S., dan novel stensilan bukanlah fase yang harus dilupakan, melainkan fondasi yang diam-diam membuat saya bertahan di dunia sastra hingga hari ini.

Bandung, 2 Februari 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *