Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Arti Dibalik 3 Kata Terpanjang di KBBI

[Sumber gambar: https://uici.ac.id/kbbi-sejarah-dan-perkembangannya/]

Penulis: Heri Isnaini

Bahasa Indonesia tak hanya kaya makna, tetapi juga gemar “bermain berpanjang-panjang”. Ada kata-kata yang jika dibaca sekali saja sudah membuat lidah ingin menyerah dan napas terasa kurang. Namun justru di situlah menariknya: bahasa memberi kita ruang untuk tertawa, berpikir, dan memahami manusia lewat kata.

Berikut tiga kata terpanjang dalam KBBI yang bukan sekadar panjang secara huruf, tetapi juga sarat cerita dan konteks budaya.

1. Heksakosioiheksekontaheksafobia (31 huruf)

Bayangkan seseorang yang langsung merinding hanya karena melihat angka 666. Bukan karena salah hitung, melainkan karena takut, ya takut sungguhan. Ketakutan itulah yang dalam KBBI disebut heksakosioiheksekontaheksafobia, kata terpanjang sejauh ini dengan 31 huruf.

Menurut KBBI, kata ini berarti fobia terhadap angka 666, angka yang dalam beberapa kepercayaan dan budaya populer sering dilekatkan dengan makna negatif atau simbol kejahatan.

Secara etimologis, kata ini adalah hasil “perkawinan lintas zaman”: bahasa Yunani kuno, Latin, dan istilah modern. Wordsense Dictionary memecahnya menjadi:

  • hexakósioi (enam ratus),
  • hexḗkonta (enam puluh),
  • héx (enam),
  • dan phobia (ketakutan).

Contoh kalimat kontekstual:

“Setiap kali melihat nomor rumah 666, ia selalu menghindar, bukan lebay, melainkan karena mengalami heksakosioiheksekontaheksafobia.”

2. Paraskavedekatriafobia (22 huruf)

Jika kamu pernah merasa hari Jumat tanggal 13 terasa lebih “tegang” dari biasanya, mungkin kamu sedang bersentuhan dengan istilah ini: paraskavedekatriafobia.

Kata ini merujuk pada ketakutan berlebihan terhadap hari Jumat yang jatuh pada tanggal 13, kepercayaan yang cukup kuat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Spanyol.

Secara makna, kata ini tersusun dari:

  • paraskevi (Jumat),
  • dekatreis (tiga belas),
  • dan phobia (ketakutan).

Kata ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya mencatat realitas, tetapi juga keyakinan, mitos, dan kecemasan kolektif manusia.

Contoh kalimat kontekstual:

“Ia menunda perjalanan bisnisnya karena paraskavedekatriafobia membuatnya merasa Jumat tanggal 13 selalu membawa sial.”

3. Mempertanggungjawabkan (22 huruf)

Berbeda dari dua kata sebelumnya yang bernuansa fobia, kata mempertanggungjawabkan justru sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari terutama di ruang akademik, hukum, dan birokrasi.

Dalam KBBI, kata ini berarti memberikan jawab serta menanggung segala akibat atas suatu tindakan. Kata ini berasal dari frasa tanggung jawab dan tersusun atas tujuh suku kata:
mem-per-tang-gung-ja-wab-kan.

Meski “hanya” 22 huruf, kata ini terasa berat—bukan karena panjangnya, melainkan karena maknanya.

Contoh kalimat kontekstual:

“Seorang pemimpin sejati bukan hanya pandai berbicara, tetapi berani mempertanggungjawabkan setiap keputusannya.”

Panjang pendeknya sebuah kata bukan sekadar urusan huruf, melainkan cermin dari cara manusia memberi nama pada rasa takut, keyakinan, dan tanggung jawabnya sendiri. Jadi, jika suatu hari kamu menemukan kata yang terasa terlalu panjang untuk diucapkan, jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi, di balik kepanjangannya, tersimpan cerita tentang kita.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *