Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Arti Bela Negara

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Aam Amalia

Di Kota Cimahi ada SD bernama SDN Cimindi 4, guru menyuruh masuk kelas dan anak-anak kelas V berlarian menuju kelas. Di depan kelas, berdiri Bu Geni, huru yang terkenal tegas namun penuh kasih saying.

“ Anak-anak, duduklah dengan tenang. Hari ini Ibu ada pengumuman penting,”

Suasana kelas langsung hening. Semuanya penasaran dengan pengumuman itu

“ sekolah kita akan mengikuti Lomba Proyek Bela Negara minggu depan. Kalian harus membuat karya yang menjelaskan arti bela negara melalui Pendidikan. Bisa berupa poster ataupun puisi. Nanti setiap kelompok akan tampil mewakili kelas.”

Mendengar kata bela negara Dhafin anak yang suka bermain bola, mengernyitkan dahi. Ia berbisik pada Abil teman sebangkunya.

Dhafin : “ belajar bela negara ? Bukannya itu tugas tentara ? Kita ini masih SD, mana bisa ?

Abil :terkekeh. “Iya juga sih, tapi seru juga kalua kita biikin drama perang-perangan.”

Namun, Sakina teman yang dikenal rajin membaca menoleh kea rah mereka. “kalian salah, bela negara itu bukan Cuma soal perang kita bisa membela negara dengan rajin belajar, menjaga sekolah atau menoolong teman. Semua itu juga cinta tanah air.”

Dhafin terdiam. Dalam hatinya masih bingung.

Sepulang sekolah, Dhafin menceritakan hal itu pada ibunya.

Dhafin : Bu, Bu geni bilang kami harus membuat proyek bela negara. Tapi aku bingung apa benar belajar juga termasuk bela negara ?

Ibu Dhafin : menatap Dhafin dengan senyum yang tulus. “ Betul sekali, Nak. Bela negara tidak selalu soal angkat senjata. Justru, di masa sekarang, nehara butuh generasi yang cerdas, jujur, dan disiplin. Kalau kamu rajin belajar, kamu sedang mempersiapkan diri kamu untuk membangun bangsa ini.”

Dhafin mulai mengerti. Ia membayangkan masa depan kalu ia pintar, mungkin bisa jadi guru.

Keesokan harinya, kelompok Dhafin sepakat membuat karya poster dan puisi.

Fathiya memimpin ide, Radhika bertugas menggaambar, semestara Dhafin kebagian menulis puisi. Awalnya Dhafin malas. Ia lebih memilih main bola tapi, Ketika melihat semangat teman-temannya, ia merasa tidak enak. Di ruang kelas, mereka mulai berdiskusi.

Fathiya : Coba kitaa angkat tema Bela Negara Melalui Pendidikan. Dhafin kamu bisa bikin puisi tentang anak—anak yang rajin belajar untuk masa depan bangsa?”

Dhafin : menggaruk kepala.”Puisi? waduh, aku tidak bisa bikin, Fat.”

Fathiya : tersenyum, “ Tenang, coba tulis saja apa yang kamu rasakan tentang belajar. Nanti aku bantu menyusunnya.”

Dhafin : menulis puisi

Buku adalah senjataku

Pensil adalah peluruku

Aku belajar dengan sungguh-sungguh

Untuk Negara Indonesia yang maju

Walau sederhana, teman-temannya kagum dan bangga. “Wah, bagus ga!” seru Abil.

Teman-temannya menjawab sangat bagus dan keren.

Keesokan harinya, hari yang ditunggu pun tiba. Lapangan sekolah ramai oleh teman-teman dari kelas lain. Ada yang tampil dengan drama perjuangan, ada yang membuat lagu, bahkan ada yang menari. Giiran SD NEGERI CIMINDI 4 tampil. Kelompok Dhafin naik ke panggung dengan percaya diri.

Fathiya menunjukkan poster besar bergaambar anak-anak sekolah dengan tulisan “Belajar adalah Bela Negara.”

Kemudian Dhafin dengan lantang membacakan puisinya.

“ Buku adalah senjataku, pensil adalah peuruku…” Suara bergetar, namun penuh semangat.

Lalu layar menampilkan video pendek buatan mereka. Penonton terdiam, lalu bertepuk tangan meriah.

Dhfin menyadari sesuatu yang lebih penting setelah tampil :

Bela negara bukan hanya soal angkat senjata. Setiap hari, lewat hal-hal sederhana seperti belajar bersungguh-sungguh, menjaga kebersihan, saling membantu, kita sudah membela negara.

Sejak hari itu, Dhafin tidak lagi malas belajar.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *