
[Sumber gambari: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Suatu malam saya mencoba sesuatu yang agak aneh. Saya meminta sebuah mesin menuliskan puisi tentang hujan. Beberapa detik kemudian, puisi itu muncul. Kalimatnya rapi. Imajinya juga cukup indah. Ada langit yang muram. Ada jalanan yang basah. Ada seseorang yang berjalan sendirian di bawah payung.
Saya membacanya pelan-pelan. Tidak ada yang salah dengan puisi itu. Bahkan, jika saya temukan puisi itu di sebuah majalah sastra, mungkin saya tidak akan curiga bahwa ia ditulis oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar hidup.
Namun entah mengapa, setelah membacanya sampai selesai, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Saya tidak tahu apa namanya. Mungkin semacam kehangatan yang biasanya tinggal diam di balik sebuah kalimat.
Sejak dulu saya percaya bahwa sastra tidak pernah benar-benar lahir dari kata-kata. Ia lahir dari kehidupan yang pelan-pelan mencari bentuknya. Seseorang menulis puisi bukan karena ia pandai menyusun kalimat, tetapi karena ada sesuatu dalam hidupnya yang tidak menemukan tempat lain untuk tinggal.
Kadang itu berupa kenangan masa kecil. Kadang kesedihan yang tidak sempat diucapkan. Kadang hanya perasaan aneh ketika berjalan sendirian di sebuah kota yang terlalu ramai.
Saya sering teringat pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi itu tampak sederhana. Bahkan terlalu sederhana jika dilihat dari jauh. Namun ketika kita membacanya pelan-pelan, kita seperti menemukan sebuah ruang yang sunyi di dalam diri kita sendiri.
Barangkali di situlah sastra sebenarnya bekerja: bukan membuat kita kagum, tetapi membuat kita merasa lebih manusia. Mesin, tentu saja, tidak bekerja seperti itu. Ia tidak memiliki kenangan. Ia tidak memiliki masa kecil. Ia tidak pernah pulang ke rumah dengan pakaian yang masih basah oleh hujan.
Yang dimiliki mesin hanyalah teks. Banyak sekali teks. Ia membaca jutaan kalimat yang pernah ditulis manusia. Ia mempelajari bagaimana kata-kata biasanya disusun. Dari sana ia belajar meniru. Dan harus diakui, tiruan itu kadang sangat meyakinkan. Mesin dapat menulis tentang rindu. Mesin dapat menulis tentang kesepian. Mesin bahkan dapat menulis tentang kematian.
Namun, semua itu tetap seperti seseorang yang bercerita tentang sebuah kota yang tidak pernah ia kunjungi. Ia tahu jalan-jalannya. Ia tahu nama-nama tempatnya. Tetapi ia tidak pernah benar-benar berjalan di sana.
Saya membayangkan suatu hari nanti dunia akan dipenuhi oleh tulisan. Tulisan akan menjadi sangat mudah dibuat. Orang tidak perlu lagi menunggu inspirasi. Tidak perlu lagi bergulat terlalu lama dengan sebuah kalimat. Segalanya bisa muncul dalam hitungan detik.
Namun, mungkin justru pada saat itulah kita mulai menyadari sesuatu yang sederhana bahwa menulis sebenarnya bukan hanya tentang menghasilkan teks. Menulis adalah cara manusia berbicara dengan dirinya sendiri.
Seorang penulis sering kali tidak tahu persis apa yang ingin ia katakan ketika mulai menulis. Ia hanya merasa ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam pikirannya. Kalimat demi kalimat muncul seperti seseorang yang sedang mencari jalan pulang dalam kegelapan.
Mesin tidak pernah mengalami hal itu. Ia selalu tahu bagaimana sebuah kalimat harus berakhir. Manusia tidak. Mungkin karena itu saya tidak terlalu percaya bahwa sastra akan hilang. Justru sebaliknya.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh oleh teks, orang mungkin akan mulai mencari sesuatu yang lain tulisan yang terasa lebih lambat, lebih sunyi, lebih manusia. Tulisan yang tidak selalu rapi. Tulisan yang kadang ragu pada dirinya sendiri. Tulisan yang seperti napas seseorang yang baru saja selesai berjalan jauh.
Suatu hari nanti mesin mungkin dapat menulis ribuan puisi dalam satu malam. Namun, saya masih percaya pada satu hal kecil. Bahwa satu puisi yang ditulis oleh seorang manusia, di sebuah meja yang sunyi, dengan kenangan yang tidak sepenuhnya ia pahami, mungkin akan bertahan lebih lama daripada semuanya.
Sebab pada akhirnya sastra tidak pernah benar-benar tentang kata-kata. Sastra adalah tentang seseorang yang diam-diam mencoba memahami hidupnya sendiri, lalu meninggalkan jejak kecil berupa kalimat.
Bandung, 16 Maret 2026












Tinggalkan Balasan