Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Anton Chekhov dan Kelucuan Sunyi ala Rusia

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Anton Pavlovich Chekhov selalu menempati ruang istimewa dalam sejarah sastra Rusia. Lahir pada 29 Januari 1860 di Taganrog, sebuah kota pelabuhan kecil di tepi Laut Azov, Chekhov tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana yang penuh kisah. Ibunya, Yevgeniya, dikenal sebagai pendongeng ulung, dan dari sanalah bakat Chekhov bertunas sejak kecil. Sementara ayahnya keras dan disiplin, ibunya memberikan kehangatan lewat cerita, dua atmosfer inilah yang kelak menjelma menjadi warna karya-karyanya: antara getir dan lucu, antara kejamnya realitas dan hangatnya kemanusiaan.

Dalam usia yang relatif pendek, ia wafat di usia 44 tahun akibat TBC, Chekhov menghasilkan karya yang begitu banyak dan berpengaruh. Ia memadukan kepekaan psikologis dengan ironi halus dalam drama dan prosanya. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain The Proposal, The Wedding, The Seagull, dan karya awalnya Platonov. Jika ditelusuri, ada benang merah pada banyak karyanya: humor yang tidak melulu dimaksudkan untuk memancing tawa, tetapi lebih sering menghadirkan perasaan janggal, getir, atau bahkan iba.

Chekhov menghadirkan humor dengan pendekatan khas Rusia, yaitu humor yang sering kali lahir dari situasi yang tampaknya sepele, tetapi sarat ketegangan batin. Dalam The Proposal, misalnya, humor dibangun melalui rangkaian kesalahpahaman. Drama satu babak ini mempertemukan tiga tokoh: Chubukov, seorang tuan tanah; anaknya Natalya, perempuan berumur dua puluh lima tahun; dan Lomov, tetangga mereka yang tegap tetapi penakut dan penuh curiga. Maksud kedatangan Lomov sederhana: ia ingin melamar Natalya. Namun alih-alih menyampaikan niatnya, ia justru terseret dalam pertengkaran bodoh tentang sepetak tanah kecil bernama Oxen Meadows.

Yang membuat adegan itu lucu bukanlah kelakar yang disengaja, melainkan ironi bahwa dua orang yang saling menyukai justru sibuk saling menyerang. Ketika akhirnya Lomov diusir dan Natalya mengetahui bahwa ia sebenarnya dilamar, ia menangis, menyesal, lalu memanggil Lomov kembali. Namun begitu Lomov datang, mereka langsung bertengkar lagi, kali ini tentang siapa anjing yang lebih hebat: anjing milik Natalya atau anjing milik Lomov. Situasi ini membuat penonton atau pembaca hanya bisa menertawakan betapa tidak mampunya manusia mengelola perasaan sendiri.

Humor semacam ini tidak dimaksudkan untuk “melucu”. Chekhov sering memperlihatkan bahwa dalam hidup, kebingungan dan pertengkaran kecil justru lebih sering terjadi daripada momen bahagia. Humor yang muncul adalah humor yang sunyi: kita tertawa sambil merasakan ada yang pahit di belakangnya. Di balik kelucuan tokoh-tokohnya, Chekhov sebenarnya sedang merayakan ketidaksempurnaan manusia, dengan cara orang salah bicara, salah paham, gugup, atau terjebak dalam harga diri yang rapuh.

Contoh serupa muncul dalam The Wedding. Alih-alih menampilkan pesta pernikahan yang hangat, Chekhov menggambarkan kerumunan keluarga yang sibuk dengan konflik kecil yang tak berujung. Ada tamu yang merasa tidak dihargai, ada mempelai yang gelisah, ada penyanyi pesta yang tidak pernah tepat nada. Dari luar tampak sebagai acara meriah, tetapi Chekhov mengizinkan pembaca mengintip suasana batin yang sesungguhnya kacau. Kelucuan dalam drama ini tidak berdiri sendiri; ia muncul dari ketidakidealan kehidupan.

Kekuatan Chekhov bukan terletak pada kelucuannya, tetapi pada caranya memperlihatkan betapa rentannya manusia. Ia menikmati adegan-adegan yang berputar hanya pada satu ruangan, satu percakapan, atau satu konflik kecil yang dibiarkan memanas. Keheningan, jeda, dan ketegangan kecil di antara dialog justru menjadi sumber humor utamanya. Dalam pandangan Chekhov, manusia sering jatuh dalam kesalahan kecil bukan karena jahat, melainkan karena kita semua adalah makhluk yang canggung, malu, dan mudah tersinggung.

Yang membuat humor Chekhov terasa lebih dalam adalah posisinya sebagai pengarang orang ketiga mahatahu. Ia mengajak pembaca melihat seluruh kejadian dari kejauhan tidak ikut marah, tidak ikut tersinggung, hanya menyaksikan. Dari sudut pandang ini, pembaca menyadari bahwa semua yang berlangsung di panggung sebenarnya bisa dihindari, tetapi tokoh-tokohnya tidak menyadarinya. Di situlah humor Chekhov tumbuh: humor yang lahir dari jarak, dari pengamatan, dari kesadaran bahwa manusia sering kali tersandung oleh dirinya sendiri.

Dengan gaya demikian, Chekhov mengajarkan kepada kita bahwa humor tidak selalu tentang kelakar yang membuat orang terbahak-bahak. Kadang humor justru hadir ketika kita melihat potongan kecil kehidupan yang tampak biasa, tetapi sebenarnya mengandung kekonyolan yang sering terjadi dalam diri siapa pun. Humor Chekhov adalah humor tentang manusia, tentang kegugupan, tentang kesalahpahaman yang berulang, dan tentang harapan-harapan kecil yang sering patah sebelum sempat tumbuh.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *