Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Analisis Semiotik Sosial Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka

[Sumber gambar: https://www.indonesiana.id/]

Penulis: Irma Indriani

Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang sarat akan pesan moral dan pesan social. Novel ini diterbitkan pada tahun 1939 bercerita tentang kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati yang penuh tantangan. Novel ini tidak hanya menawarkan kisah cinta namun menyampaikan kritik social yang sangat dalam terhadap system adat yang ada di Minangkabau yang begitu diskriminatif dan terkesan kaku. Melalui kisah cinta Zainuddin dan Hayati penulis memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia begitu terbelenggu oleh tanda-tanda social dalam masyarakat Minangkabau seperti adat, status, kehormatan yang sebenarnya diciptakan oleh masyarakat sendiri dipegang erat secara turun temurun

Dalam kerangka semiotic social karya sastra dapat dipahami sebagai tanda yang mencerminkan ideologi masyarakat, norma dan nilai yang berlaku di  masyarakat pada masanya. Ronal barthes berpendat bahwa setiap teks sastra memiliki tiga lapis makna yaitu denotasi, konotasi dan mitos social. Denotasi merupakan makna sebenarnya yang terlihat jelas di permukaan. Konotasi menunjukkan makna kiasan yang lebih mendalam bersifat subjektif. Sedangkan mitos social merupakan makna ideologis yang tersebunyi di balik tanda-tanda tersebut. Melalui pendekatan iniNovel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka dapat dibaca sebagai cerita yang mencerminkan adanya konflik antara nilai kemanusiaan dan struktur social tradisional yang menindas yang lebih lemah.  

Tanda dan Makna Sosial dalam Novel

Zainuddin, seorang pemuda yang terlahir dari ayah Minangkabau dan ibu Bugis. Dalam struktur social Minangkabau menganut system matrilineal dimana identitas seseorang ditentukan oleh garis keturunan ibu. Namun ibu Zainuddin bukan orang Minang sehingga Zainuddin dianggap tidak memiliki suku dan tidak diakui bagian dari masyarakat Minang. Secara denotatidf Zainuddin hanya seorang pemuda yang sedang mencari jati diri. Secara konotatif Zainuddin menjadi sebuah tanda dari invidu yang tersisihkan oleh sebuah system social dalam masyarakat. Dia merepresentasikan individu yang terpinggirkan karena adanya perbedaan status, perbedaan darah dan identitas budaya. Dilihat dari mitos social Zainuddin adalah symbol perlawanan terhadap struktur social yang sangat diskriminatif. Perjuangannya menghasilkan kesuksesan, dia menjadi seorang penulis yang sukses. Hal ini menggambarkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh, adat dan silsilah namun melalui integritas dan perjuangan.

Tokoh Hayati secara denotative digambarkan sebagai seorang gadis Minang yang canti, lembut, patuh dan setia. Gadis yang mencintai Zainuddun dengan tulus tanpa memandang keturunan. Namun secara konotatif Hayati menjadi symbol wanita yang terbelenggu oleh adat istiadat yang kaku dan norma social patrialkal. Hayati menggambarkan sebagai gadis yang tidak memiliki kebebasan untuk menentukan hidup dan pilihannya. Dalam lapisan mitos social Hayati adalah sosok gadis ideal dalam budaya patrialkal.

Tanda sosial yang paling dominan dalam novel ini adalah adat Minangkau. Secara denotasi adat Minangkabau adalah aturan masyarakat dalam hubungan social yang menitik beratkan pada status keluarga dan pernikahan. Secara konotatif adat digambarkan sebagai kekuatan kolektif dalam sebuah masyarakat  menekan individu yang memiliki perbedaan. Adat menjadi bahasa social yang tidak tertulis yang sangat menentukan siapa yang bisa diterima, ditolak atau yang layak dicintai atau disisihkan. Pada Mitos social dalam novel menggambarkan bahwa adat membentuk sebuah ideologi bahwa kesucian garis keturunan dan kehormatan keluarga lebih penting dibandingkan kebahagian pribadi. Melalui konflik dan rintangan yang dihadapi Zainuddin dan hayati penulis mengajak pembaca untuk menyadari bahwa dibalik adat yang selalu dijunjung tinggi tersembunyi ketimpangan social dan ketidakadilan.

Simbol paling kuat dalam novel adalah Kapal Van der Wijck, yang tenggelam di akhir cerita. Secara denotasi hanya alat tranportasi laut yang mengantarkan Hayati ke kampung halamannya. Secara konotasi kapal menggambarkan cinta, harapan dan system social yang akhirnya ditenggelamkan oleh kesalahan dan kepicikan manusia. Dalam mitos social tenggelmanya kapal tersebut sebagai symbol runtuhkan tatanan social yang penuh diskriminasi dan kehormatan semu. Hamka menyampaikan bahwa system social yang tidak memiliki nilai kemanusiaan akan hancur seiring waktu. Tenggelamnya kapal Van der Wijck bukan hanya menggambarkan kandasnya cinta dua manusia namun tenggelamnya nilai tradisional yang sudah tidak relevan dengan kemajuan zaman

Bukan hanya tokoh, adat atau kapal yang menggambarkan symbol social. Surat-surat yang ditulis antara Zainuddin dan Hayati dijadikan sebagai tanda komunikasi yang syarat dengan makna. Secara denotasi surat yang mereka tulis adalah alat untuk menyampaikan perasaan dan isi hati dua insan yang terpisah. Namun secara konotasi surat-surat yang mereka tulis bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi melambangkan suara hati manusia yang sekuat tenaga berusaha menembus batas social yang menjadi sekat tinggi. Bahasa dalam surat menjadi sarana untuk bersuara atas kebisuan yang diciptakan oleh adat istiadat yang sangat kuat. Dalam kerangka mitos social, surat yang mereka tulis merepresentasikan upaya manusia untuk melawan struktur komunikasi resmi yang sudah terbentuk dan mengakar dalam masyarakat patriarkal. Surat yang ditulis Hayati menggambarkan surat menjadi ruang alternative perempuan untuk mengekspresikan diri dan menyuarakan isi hatinya atas belenggu system patriarkal yang mengikatnya. Hamka menegaskan surat bukan hanya kertas yang berisi tulisan tapi kata, kalimat, bahasa dan tulisan didalamnya akan menjadi akar untuk membebaskan struktur social yang selama ini selalu menindas.

Menurut Roland Barthes dalam konteks novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka terdapat tiga tingkat makna yaitu denotasi, konotasi dan mitos social. Makna denotasi pada novel adalah cerita cinta seorang gadis setia dengan seorang pemuda dari latar social yang berbeda. Adat dan status keluarga yang berbeda sehingga kisah cinta berakhir tragis, Makna konotasi kisah ini menggambarkan perjuangan sepasang kekasih melawan diskriminasi, kekuasaan adat, status social dan struktur social yang menindas. Secara mitos social tersirat gambaran masyarakat Indonesia pada masa itu masih menjunjung tinggi system nilai yang mengukur manusia dari silsilah atau asal usul dan kehormatan social bukan dari kemanusiaan dan moralitas yang dimilikinya. Mitos social yang diciptakan masyarakat Minangkabau tentang sebuah kehormatan adat inilah yang akhirnya menjadi sumber penderitaan bagi tokoh yang berakhir tragis menyisakan luka dan pilu dalam hidup tokoh Barthers menyebutkan proses ini sebagai naturalization dimana ketika ideologi social dianggap alamiah dan tidak lagi dipertanyakan. Melalui novel ini Hamka berusaha mendenaturalisasi” mitos itu dengan menunjukkan akibat tragis yang ditimbulkannya.

Melalui pendekatan semiotic social novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah novel yang bisa kita baca, bukan hanya novel percintaan dua insan. Namun sebuah novel yang berisi teks perlawaan terhadap ideologi social. Dalam novel tersebut Hamka sebagai penulis menggunakan simbo-simbol yang bisa dijadikan tanda untuk dianalisis. Simbol sederhana namun memiliki makna sosial seperti tokoh, kapal, tempat, adat hingga surat. Pada novel ini kita menemukan adanya pergeseran nilai pada masa colonial ketika modernitas sudah mulai menantang kekuasaan adat bahkan agama mulai pencari posisi baru dalam struktur social sebagai penyeimbang dan penunjuk arah. Tokoh Zainuddin dalam novel bukan seorang pemuda biasa namun sosok yang mewakili modernitas dan individualitas. Minangkabau bukan hanya sekedar daerah dan salah satu suku di Indonesia tapi mewakiliki otoritas social dan tradisi kolektif yang sangat kental dengan adat.

Konflik keduanya bukan hanya persoalan cinta tapi pertaruangan makna antara dua system nilai social. Dalam novel terlihat jelas digambarkan hadirnya nilai social local yang begitu kaku terhalang beragam aturan dan adat. Terdapat pula nilai kemanusiaan yang universal. Dalam novel Hamka menegaskan bahwa martabat manusia dan cinta sejati merupakan tanda-tanda universal yang mampu melampaui batas adat dan suku. Akhirnya tenggelamnya kapal Van der Wijck bukan hanya tenggelam sebuah kapal besar di laut antara Surabaya dan Makassar. Namun menjadi metafora tentang tenggelamnya system social lama yang tidak mampu bertahan dalam sebuah arus peruabahan zaman dan berkembangnya pemikiran manusia juga kehidupan sosialnya. Dalam novel ini kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa setiap manusia memillik hak yang sama dan kebebasan berpendapat, bersuara dan menyampaikan ide. Masyarakat harus berani menafsirkan tanda-tanda social yang turun temurun diwariskan selama ini, agar tidak terus menerus menenggelamkan manusia dalam kehormatan palsu dan adat istiadat yang tanpa arah dan menguntungkan suatu golongan


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *