Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Analisis Perilaku Komparasi Sosial di Instagram dan Dampaknya terhadap Penerimaan Diri Remaja Putri SMAN 1 Batujajar

[Sumber gambar: https://regional.kompas.com/]

Penulis: Khoirun Nisa 

Di era media sosial, khususnya Instagram, kehidupan remaja tak lagi sekadar tentang sekolah, keluarga, dan pertemanan. Kini, layar ponsel menjadi ruang utama tempat remaja membangun identitas, mencari pengakuan, sekaligus tanpa disadari membandingkan diri mereka dengan dunia yang tampak sempurna. Bagi remaja putri, Instagram bukan hanya aplikasi hiburan, tetapi juga cermin sosial yang terus menerus memantulkan standar kecantikan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang sering kali tak realistis.

Fenomena ini tampak jelas pada remaja putri di SMAN 1 Batujajar. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, ditemukan bahwa hampir seluruh siswi pernah melakukan komparasi sosial saat menggunakan Instagram, terutama komparasi sosial ke atas membandingkan diri dengan teman, selebgram, atau influencer yang dianggap lebih cantik, lebih populer, dan lebih sukses. Aktivitas sederhana seperti melihat unggahan foto teman atau story selebritas ternyata mampu memicu proses psikologis yang kompleks dan berdampak besar pada cara mereka memandang diri sendiri. Remaja putri berada pada fase perkembangan yang sangat sensitif terhadap penilaian sosial. Kebutuhan untuk diterima dan diakui menjadi sangat dominan.

Ketika Instagram menyuguhkan kehidupan yang tampak sempurna kulit mulus, tubuh ideal, pencapaian akademik, dan gaya hidup glamor remaja mulai menjadikan gambaran tersebut sebagai standar penilaian diri. Tanpa sadar, mereka mengukur nilai diri dari jumlah likes, komentar, serta perbandingan dengan kehidupan orang lain yang hanya menampilkan sisi terbaiknya. Dampaknya tidak ringan. Banyak siswi mengaku mengalami penurunan rasa percaya diri, munculnya ketidakpuasan terhadap tubuh dan prestasi, serta kesulitan menerima kekurangan diri setelah melakukan perbandingan sosial di Instagram. Emosi seperti iri, kecewa, sedih, bahkan tidak berharga kerap muncul sebagai konsekuensi psikologis yang tersembunyi di balik aktivitas scrolling harian. Namun, penelitian ini juga menemukan sisi lain yang lebih optimis. Tidak semua perbandingan sosial berdampak negatif.

Beberapa remaja justru memaknai perbandingan sebagai motivasi untuk berkembang, asalkan mereka memiliki tingkat penerimaan diri yang cukup baik dan kesadaran bahwa konten Instagram tidak sepenuhnya merefleksikan realitas. Remaja dengan penerimaan diri yang sehat mampu bersikap lebih kritis terhadap media sosial dan tidak menjadikannya sebagai satu satunya tolok ukur nilai diri. Dalam menghadapi tekanan tersebut, para siswi mengembangkan berbagai strategi coping: membatasi waktu bermain Instagram, menyaring akun yang diikuti, hingga mencari dukungan dari teman dan keluarga. Sayangnya, tidak semua remaja memiliki keterampilan pengelolaan emosi yang memadai. Sebagian masih terjebak dalam siklus perbandingan dan ketidakpuasan diri yang berkepanjangan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa Instagram bukan sekadar media sosial, tetapi ruang psikologis yang sangat memengaruhi pembentukan konsep diri remaja putri. Oleh karena itu, peran sekolah khususnya layanan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting. Sekolah perlu membantu remaja mengembangkan penerimaan diri yang sehat, meningkatkan literasi media sosial, serta membekali mereka dengan keterampilan mengelola emosi dan tekanan sosial di era digital. Pada akhirnya, perjuangan terbesar remaja putri di era Instagram bukan hanya tentang mendapatkan likes, tetapi tentang belajar berdamai dengan diri sendiri di tengah hiruk pikuk perbandingan yang tak pernah berhenti. Di sanalah letak tantangan sekaligus harapan bagi generasi muda hari ini.

Lebih jauh, fenomena ini juga menunjukkan bahwa tantangan utama remaja di era digital bukan lagi sekadar soal akses teknologi, tetapi soal kesiapan psikologis dalam menghadapinya. Remaja tidak cukup hanya dibekali kemampuan menggunakan media sosial, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami dampak emosional dari setiap interaksi digital. Tanpa kesadaran tersebut, media sosial berpotensi menjadi ruang yang membentuk standar diri semu dan menumbuhkan luka psikologis yang tidak selalu terlihat, namun sangat memengaruhi kesejahteraan mental jangka panjang. Dengan demikian, membangun penerimaan diri pada remaja putri tidak bisa dilepaskan dari upaya kolektif antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

Literasi media sosial harus dipadukan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan penghargaan terhadap keunikan diri. Ketika remaja mampu memahami bahwa setiap individu memiliki perjalanan dan realitas hidup yang berbeda, maka Instagram tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan dapat diubah menjadi ruang ekspresi yang lebih sehat, positif, dan memberdayakan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *