Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Analisis Penurunan Prestasi Siswa dalam Pendidikan Pancasila: Faktor Psikologis dan Upaya Intervensi

[Sumber gambar: https://mediaedukasi.id/]

Penulis: Fitri Pitasari

Penurunan prestasi siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, salah satunya berkaitan dengan aspek psikologis. Faktor ini sering kali berperan besar karena berhubungan langsung dengan motivasi, minat, maupun kesiapan mental siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Salah satu penyebab utama rendahnya capaian siswa adalah minimnya minat dan motivasi. Tidak sedikit peserta didik yang menganggap Pancasila sebagai mata pelajaran yang kaku, abstrak, dan jauh dari relevansi kehidupan nyata mereka. Misalnya, dalam sebuah kelas SMP di Purwakarta, banyak siswa mengaku lebih bersemangat belajar Matematika atau IPA dibanding Pancasila karena mereka merasa kedua mata pelajaran itu lebih berguna untuk masa depan pekerjaan. Padahal, nilai-nilai Pancasila sesungguhnya sangat dekat dengan realitas sehari-hari. Namun, ketika siswa gagal melihat kaitan antara materi dengan pengalaman hidup mereka, motivasi untuk belajar pun menurun.

Selain itu, persepsi negatif terhadap materi juga turut memberi andil. Dalam sebuah penelitian kecil di salah satu SMA di Bandung, siswa menyatakan bosan karena guru hanya menggunakan metode ceramah dan menyalin teks dari buku paket. Akibatnya, mereka pasif dan bahkan ada yang bermain gawai selama pelajaran berlangsung. Situasi ini diperparah dengan kecemasan menjelang ujian. Contohnya, seorang siswa kelas IX merasa tertekan setiap kali menghadapi ulangan harian karena tidak yakin mampu menghafal sila-sila Pancasila beserta butir pengamalannya. Akibat rasa cemas itu, ia sering kali kehilangan konsentrasi dan nilainya pun tidak maksimal.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah ketidaksesuaian gaya belajar dengan metode mengajar. Jika guru lebih banyak mengandalkan ceramah panjang tanpa interaksi, maka siswa dengan gaya belajar visual atau kinestetik akan kesulitan memahami materi. Contoh riilnya terlihat ketika seorang guru mencoba mengajarkan materi tentang “nilai gotong royong” hanya dengan membaca teks. Sebagian siswa tampak tidak memperhatikan. Namun, ketika guru kemudian meminta mereka membuat simulasi kerja bakti di halaman sekolah, suasana kelas menjadi lebih hidup dan siswa lebih mudah memahami esensi nilai gotong royong.

Menghadapi tantangan tersebut, sejumlah intervensi dapat dilakukan baik pada level individu, kelas, maupun sekolah. Pada tingkat individu, guru bimbingan konseling atau wali kelas dapat melakukan pendampingan pribadi untuk membantu siswa mengatasi kecemasan dan memperbaiki persepsi negatif mereka. Lebih jauh lagi, guru dapat mendorong siswa menemukan relevansi Pancasila melalui minat masing-masing. Misalnya, seorang siswa yang gemar membuat konten media sosial bisa diarahkan membuat video pendek tentang penerapan nilai keadilan sosial di lingkungan sekolah.

Di tingkat kelas, guru dapat menerapkan pendekatan pembelajaran inovatif. Ceramah dapat dipadukan dengan diskusi kelompok, studi kasus nyata, atau bahkan proyek kreatif seperti pembuatan poster dan film pendek bertema Pancasila. Di sebuah SMA di Cimahi, guru meminta siswa membuat vlog tentang bagaimana mereka menerapkan sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya, siswa lebih antusias karena merasa diberi ruang untuk mengekspresikan diri dengan cara yang sesuai minat mereka.

Penerapan project-based learning juga akan lebih bermakna karena siswa diminta mengintegrasikan nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, sebuah kelas di Bandung mengadakan proyek kampanye lingkungan bertajuk “Sekolah Hijau Berpancasila.” Mereka membersihkan taman sekolah, membuat poster hemat energi, serta menanam pohon. Kegiatan ini bukan hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap nilai Pancasila, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial.

Dalam proses pembelajaran, pemberian umpan balik yang konstruktif juga sangat penting. Guru yang hanya menuliskan nilai angka tanpa penjelasan kerap membuat siswa bingung. Sebaliknya, ketika seorang guru menambahkan catatan seperti “Sudah bagus dalam memberikan contoh, tetapi coba lebih mendalam menjelaskan hubungan sila keempat dengan demokrasi di sekolah,” siswa merasa lebih dihargai dan terdorong untuk memperbaiki pekerjaannya.

Sementara itu, di tingkat sekolah, peningkatan kompetensi guru menjadi faktor kunci. Pelatihan dalam bidang psikologi pendidikan dan metode pembelajaran inovatif akan memperkaya cara guru menyampaikan materi. Sekolah juga dapat membangun sinergi dengan orang tua. Misalnya, di sebuah SD di Subang, sekolah mengadakan pertemuan dengan orang tua untuk membahas bagaimana mendukung anak memahami nilai Pancasila melalui kegiatan keluarga, seperti makan bersama atau gotong royong membersihkan rumah.

Dengan upaya intervensi yang terencana dan menyeluruh, penurunan prestasi siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila bukanlah persoalan tanpa solusi. Justru, melalui langkah-langkah nyata dan berbasis pengalaman keseharian siswa, Pancasila dapat kembali dipahami sebagai nilai hidup yang dekat, relevan, dan membentuk karakter generasi muda Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *