Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Analisis Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

[Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/]

Penulis: Yaummi Kultsum

Identitas Buku

Judul Novel         : SANG PEMIMPI

Penulis                 : Andrea Hirata

Penyunting           : Imam Risdiyanto

Jumlah Halaman  : viii + 248 halaman;

Penerbit                : Bentang Anggota IKAPI (PT. Bentang Pustaka)

Kota terbit           : Yogyakarta

Cetakan                : Ketiga, April 2012

Ukuran                 : 20,5 cm

ISBN                    : 978-602-8811-37-8

Analisis semiotika novel Sang Pemimpi berfokus pada tanda-tanda yang membentuk makna di dalamnya, terutama tema perjuangan, persahabatan, pendidikan, serta karakterisasi yang kuat pada tokoh-tokoh seperti Ikal, Arai, dan Jimbron, yang memiliki mimpi dan sifat khas mereka sendiri, serta latar yang mendukung cerita, seperti Belitong yang religius, serta penggunaan gaya bahasa yang khas. 

  1. Tema

Tema yang diangkat dari novel ini yaitu persahabatan, perjuangan hidup, dan kepercayaan terhadap kekuatan mimpi. Tema tersebut dibuktikan oleh pengarang melalui kisah tiga sekawan yang mampu mengatasi kerasnya kehidupan berkat keyakinan teguh pada impian mereka.

  • Tokoh

Ikal

Tokoh utama dalam novel ini menunjukkan serangkaian watak positif yang patut dicontoh. Mereka memiliki sifat baik hati, terbukti ketika mereka berupaya menahan tawa demi menjaga perasaan sahabat mereka, Arai (halaman 199). Selain itu, mereka adalah sosok yang sangat optimis, seperti tercermin dari janji tokoh utama kepada ayahnya untuk kembali mendudukkan sang ayah di bangku barisan terdepan setelah insiden pembagian rapor yang mengecewakan (halaman 169). Mereka juga memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap sesama, ditunjukkan dari kecemasan tokoh utama terhadap kondisi Jimbron untuk pertama kalinya (halaman 168). Keuletan dan sifat pantang menyerah mereka terlihat jelas dari tindakan Ikal dan Arai yang berlari terburu-buru menuju sekolah demi mengejar pendidikan (halaman 59). Berkat kerja keras dan kecerdasan mereka, yang terbukti dari keberhasilan Ikal dan Arai menduduki posisi terdepan dalam peringkat kelas, masing-masing di urutan ketiga dan kelima (halaman 81).

Arai

Arai digambarkan sebagai sosok sangat perhatian, terbukti dari kebiasaannya menaruh kuaci, permen, dan mainan kecil dari tanah liat secara diam-diam di saku baju Ikal saat bangun tidur (halaman 26). Arai juga seorang yang kreatif, yang membuat Ikal tersentuh ketika membayangkan Arai membuat dan memainkan mainan tersebut sendirian (halaman 21). Ketulusan hatinya terlihat jelas ketika ia memberikan karung-karung berisi kebutuhan pokok kepada Mak Cik (halaman 43). Selain itu, Arai menunjukkan kegigihannya, ia rela menyerahkan diri pada perlakuan menindas Capo selama dua bulan, semuanya demi kebahagiaan Jimbron (halaman 193). Dalam hal kebiasaan, ia dikenal rajin beribadah, di mana setiap habis Magrib ia rutin melantunkan ayat suci Al-Qur’an di bawah penerangan lampu minyak (halaman 27). Terlepas dari semua itu, Arai juga pintar, yang dibuktikan dengan keberhasilannya menempati peringkat kelima di kelas (halaman 81), dan ia memiliki semangat pantang menyerah, terbukti dari keberaniannya, menyambut suara Nat King Cole (halaman 199).

Jimbron

Sosok Jimbron adalah representasi dari ketegaran dan hati yang tulus. Ia dikenal memiliki sifat tabah, terutama setelah mengalami tragedi ganda, belum genap empat puluh hari ibunya meninggal, ia harus menyaksikan ayahnya terkena serangan jantung saat mereka sedang berboncengan sepeda (halaman 49). Meskipun menghadapi cobaan berat, Jimbron adalah pekerja keras yang gigih, dibuktikan dengan kesibukannya bekerja paruh waktu setiap hari di kapal milik salah satu nahkoda. Dalam interaksi, ia menampilkan kepolosan yang nyata, seperti saat ia terdiam mematung karena tak menyangka Ikal tega membentaknya sekeras itu (halaman 123). Ketulusannya mencapai puncaknya menjelang perpisahan, di mana ia dengan ikhlas memberikan kedua celengan kuda yang telah lama ia persiapkan sebagai bekal untuk Ikal dan Arai (halaman 204). Selain itu, ia juga memiliki sifat baik hati dan peduli sosial, terbukti dari kebiasaannya setiap Minggu pagi menjadi relawan dan membantu Laksmi di pabrik cincau dengan penuh sukacita (halaman 69).

Pak Mustar

Pak Mustar dikenal sebagai pendidik yang memegang teguh prinsip. Ketegasannya terlihat dari ancaman yang ia keluarkan untuk memastikan peraturan ditaati (halaman 86). Selain itu, ia juga sangat disiplin, yang dibuktikan dengan tindakannya mengunci pagar  sekolah bahkan setengah jam sebelum waktu masuk tiba (halaman 5). Di balik sikapnya yang keras, Pak Mustar memiliki rasa peduli yang mendalam terhadap murid-muridnya, kepeduliannya ini diwujudkan karena ia tidak ingin melihat anak didiknya terjerumus ke dalam masa depan yang suram.

Bapak Saman Said Harun

Ayah Ikal digambarkan sebagai sosok ayah yang sangat baik. Beliau dikenal sebagai pribadi yang cenderung pendiam, seperti terlihat dari sapaannya yang selalu pelan, “Assalamu’alaikum,” tanpa tambahan kata lain saat turun dari sepeda (halaman 82). Meskipun minim bicara, beliau memiliki ketulusan, kesabaran, dan kebaikan hati yang luar biasa, hal ini dibuktikan dengan kesediaannya bersepeda sejauh 30 kilometer ke SMA negeri di Magai hanya demi mengambil rapor anak-anaknya (halaman 79). Selain itu, Ayah Ikal menunjukkan sikap yang sangat bijaksana dan penuh penerimaan, di mana beliau senantiasa menerima dan mendukung anak-anaknya tanpa syarat, bagaimanapun keadaan mereka (halaman 142).

Ibunya Ikal

Ibunda Ikal adalah sosok ibu yang penuh kebaikan hati. Beliau sangat perhatian dan teliti, terlihat dari persiapannya menjelang pembagian rapor sehari semalam beliau merendam daun pandan dan bunga kenanga untuk dipercikkan pada baju safari Ayah Ikal saat menyetrikanya (halaman 77). Selain itu, beliau juga menunjukkan sifat baik hati yang besar, terutama terhadap Nurmi dan ibunya, Maryamah. Ibu Ikal tersenyum dan memberikan nasihat kepada Maryamah untuk tidak pernah memisahkan Nurmi dari biolanya, bahkan menawarkan bantuan lebih lanjut dengan meminta Maryamah datang kembali jika kehabisan beras (halaman 33).

Drs. Julia Ichsan Balia

Merupakan seorang guru yang menonjolkan kecerdasan dan kreativitas dalam mengajar. Beliau dikenal sangat kreatif, di mana aspek kreativitas menjadi daya tarik utama dari setiap kelas yang diajarnya (halaman 60). Selain itu, Pak Balia adalah sosok yang pintar; kalimat-kalimat agung yang disampaikannya dalam pelajaran selalu berhasil membuat para muridnya terkesima (halaman 60). Di sisi lain, beliau juga menunjukkan sikap yang bijaksana meskipun terkadang terkejut dan mengernyitkan dahi melihat tingkah siswanya, sifat alaminya adalah menghargai dan menghormati setiap muridnya (halaman 64).

Tokoh Pendukung

Sejumlah tokoh yang memperkaya alur cerita, diantaranya : Zakia Nurmala, yang menjadi pujaan hati salah satu tokoh utama yaitu Laksmi, gadis yang dibantu oleh Jimbron serta Nurmi, anaknya. Lingkungan sosial tokoh utama diwarnai oleh karakter seperti Mak Cik Maryamah, seorang tetangga yang membutuhkan uluran tangan Bang Zaitun, A Kiun, Pak Cik Basman, Taikong Hamim, Makruf, dan Mahader. Selain itu, terdapat figur yang memiliki peran penting dalam perkembangan kisah, seperti Capo, yang dikenal keras dan merekrut Arai, Nyonya Deborah, dan Mei Mei. Semua tokoh pendukung ini secara kolektif membentuk latar belakang yang kompleks dan dinamis bagi perjuangan para tokoh utama.

  • Alur

Novel ini menggunakan alur campuran maju dan mundur. Alur majunya digunakan saat pengarang mengisahkan perjalanan tokoh dari kelulusan SMP hingga masa kuliah, sedangkan alur mundurnya dipakai untuk menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi saat tokoh masih kecil.

  • Latar

Menggunakan latar tempat yang beragam, dimulai dari lingkungan tinggal para tokoh di Belitong, seperti kamar kontrakan tempat Ikal, Jimbron, dan Arai sering bersantai (halaman 87), hingga SMA Bukan Main yang menjadi lokasi syuting kegiatan sekolah (halaman 111). Kehidupan malam dan sosial mereka dihabiskan di Bioskop yang jorok (halaman 9) dan labirin gang yang berakhir di gudang peti es (halaman 10). Aktivitas pekerjaan dan kehidupan masyarakat berpusat di Dermaga Magai, tempat kerumunan orang menyaksikan kuda (halaman 153), dan Pasar Magai yang gang-gang sempitnya dilewati Ikal tengah malam (halaman 242). Beberapa rumah tokoh juga menjadi latar penting, termasuk Rumah Mak Cik Maryamah yang senyap (halaman 43) dan Rumah Bang Zaitun yang penuh pernak-pernik (halaman 171), serta Pabrik Cincau tempat Jimbron menjadi relawan (halaman 69). Petualangan mereka berlanjut ke luar Belitong, diawali dari Tanjung Priok, Jakarta yang ramai (halaman 213), berlanjut ke Terminal Bus Bogor yang asing (halaman 217), hingga kamar kost di Bogor yang sederhana (halaman 223). Akhirnya, perjuangan mereka di kota diwakili oleh tempat kerja seperti kios fotokopi yang panas (halaman 226) dan Kantor Pos, tempat Ikal menyortir ribuan surat sambil menanti kabar dari Arai (halaman 230).  Latar waktu yang lengkap seperti pagi hari ditunjukkan melalui upacara apel sekolah dan adegan siswa yang terlambat (halaman 109), siang hari seringkali menggambarkan waktu pulang sekolah dan momen penting di jalanan (halaman 131), sore hari menjadi waktu santai dan momen kunjungan (halaman 31), sementara malam hari sering diwarnai dengan kegiatan mengamati kerumunan orang di luar kontrakan (halaman 93). Latar suasana yang mendominasi antara semangat dan kebersamaan dalam meraih mimpi, yang sering beradu dengan rasa putus asa saat menghadapi kesulitan hidup, menuntut adanya kerja keras yang tiada henti.

  • Sudut Pandang

Pengarang menggunakan sudut pandang campuran, narasi tokoh utama Ikal disajikan melalui perspektif orang pertama “aku”, sedangkan informasi mengenai tokoh-tokoh pendukung disajikan menggunakan sudut pandang orang ketiga pengamat.

  • Gaya Bahasa

Gaya penulisan realistis yang kaya akan metafora, imajinasi, dan semangat inspiratif. Dengan penggunaan kata-kata yang sederhana serta bahasa yang komikal dan jauh dari kata membosankan, narasi ini sukses menarik pembaca untuk merasakan diri mereka sebagai bagian dari kisah tersebut.

  • Amanat

Amanat yang disampaikan kepada pembaca, khususnya mengenai semangat hidup dan hubungan antar pribadi. Kita diajarkan untuk memiliki jiwa yang pantang menyerah artinya tidak boleh putus asa dan tidak berhenti bermimpi, serta harus meyakini bahwa usaha harus beriringan dengan doa dan tidak boleh menyerah seolah mendahului takdir sebelum mencapai tujuan. Dalam konteks sosial, novel menekankan pentingnya menjalin persahabatan dengan baik, saling membantu dan menghargai sesama, dan pentingnya memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terakhir, pembaca diingatkan bahwa keberhasilan sejati selalu menuntut adanya pengorbanan, dan kita wajib selalu bersyukur atas segala capaian dalam hidup.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Analisis Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata”

  1. Avatar خوارزمية الطيارة

    Link exchange is nothing else but it is simply placing the other person’s webpage link on your page at appropriate place and other person will also do same for you.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *