Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Anak Desa Semangat Bela Negara

[Sumber gambar: https://pkk.kepulauanselayarkab.go.id/]

Penulis: Risma Anggi Yani

Di sebuah desa bernama Buninagara, berdiri sebuah sekolah sederhana: SDN Margahurip. Setiap pagi anak-anak di sana datang ke sekolah dengan seragam rapi, wajah penuh senyum, dan semangat belajar yang tak pernah padam. Walau fasilitas terbatas, semangat mereka seakan lebih besar daripada gedung-gedung megah di kota.

Setiap hari guru datang ke sekolah itu dengan tekad yang besar: menanamkan rasa cinta tanah air. Kita tahu, bela negara bukan hanya tentang berperang, tetapi juga tentang membangun generasi yang cerdas, berpikir kritis, dan berkarakter. Guru percaya, anak-anak desa pun bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga negeri di masa depan.

Hari itu, guru kelas mengajak para siswa bermain sambil belajar. Guru membacakan cerita rakyat sambil menyelipkan pertanyaan: “Mana yang benar, mana yang palsu?” Anak-anak pun bersemangat menjawab, tertawa saat menemukan “berita bohong” dalam cerita, lalu bersama-sama memperbaikinya. Dengan cara sederhana ini, guru mengajarkan mereka pentingnya melawan hoaks dan menjaga persatuan di era digital. Bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak asal menyebarkan hal yang belum tentu kebenarannya.

Tak hanya itu, guru juga mengajak mereka membuat karya. Ada yang menulis puisi tentang Indonesia, ada yang menggambar bendera merah putih, dan ada pula yang menyanyikan lagu perjuangan dengan suara lantang. Di wajah mereka terpancar kebanggaan bahwa mereka juga bisa ikut membela negara lewat kreativitas kecil yang mereka miliki.

Guru-guru di SDN Margahurip terharu melihat perubahan itu. Mereka menyadari, pendidikan bela negara bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti melatih kejujuran, menumbuhkan rasa bangga pada bangsa, dan mengajak anak-anak untuk berpikir kritis. Tak perlu senjata, cukup semangat dan cinta tanah air yang ditanamkan sejak dini.

Guru pun pulang dengan hati hangat. Guru tahu langkah kecilnya belum seberapa, tetapi dari SDN Margahurip guru-guru belajar satu hal bahwa semangat bela negara bisa lahir dari siapa saja, termasuk anak-anak desa yang sederhana, namun memiliki hati yang besar untuk negeri.

Bela negara bukan hanya tugas para tentara di medan perang, tetapi juga tugas setiap warga, termasuk anak-anak sekolah dasar. Dengan langkah kecil seperti belajar dengan sungguh-sungguh, melawan hoaks, menjaga kejujuran, dan mencintai budaya bangsa, membangun karakter bangsa dari langkah kecil, dan peran para pendidik sangat penting dalam menjaga persatuan dan keutuhan negara.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *