Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ambivalensi Makna Harapan dan Kehancuran dalam Novel “The Pearl” Karya John Steinbeck

[Sumber gambar: https://www.idntimes.com/]

Penulis: Nita Dede Rosita

John Ernst Steinbeck adalah seorang novelis, penulis cerita pendek, dan jurnalis asal Amerika Serikat yang lahir pada 27 Februari 1902 di Salinas, California, dan meninggal pada 20 Desember 1968. Steinbeck dikenal sebagai sastrawan realis yang karya-karyanya banyak mengangkat kehidupan rakyat kecil, ketimpangan sosial, serta perjuangan manusia dalam menghadapi kesulitan hidup. Pengalamannya tumbuh di lingkungan petani dan nelayan California memberinya pandangan mendalam tentang penderitaan kaum pekerja, yang kemudian menjadi tema utama dalam hampir seluruh karyanya.

Salah satu karyanya yang paling simbolis adalah The Pearl (1947), yang terinspirasi dari legenda rakyat Meksiko tentang seorang nelayan miskin yang menemukan mutiara besar. Melalui kisah tersebut, Steinbeck mengekspresikan kepeduliannya terhadap nasib masyarakat bawah dan mengkritik keserakahan manusia serta ketidakadilan sosial. Novel ini mencerminkan pandangan hidup Steinbeck bahwa kekayaan materi sering kali membawa kehancuran moral dan spiritual, sehingga nilai kemanusiaan sejati harus lebih diutamakan daripada ambisi duniawi.

Novel The Pearl (1947) bercerita tentang Kino, seorang nelayan yang memiliki seorang istri bernama Juana dan seorang anak laki-laki bernama Coyotito. Keluarganya sangat miskin. Salah satu keadaan yang menunjukan tentang kemiskinan mereka adalah ketika anaknya digigit oleh kalajengking dan membutuhkan bantuan medis. Mereka membawanya ke dokter, namun dia enggan  memberikan bantuan karena Kino tidak mampu membayar. Kino melakukan perjalanan kembali ke laut untuk menemukan mutiara dunia yang akan memberinya kekayaan sehingga anaknya bisa disembuhkan. Dia memang menemukan mutiara tetapi penemuan itu justru membawa keserakahan, kekerasan, dan tragedi. Mutiara itu membuat Kino menjadi orang yang serakah dan emosional sehingga membunuh banyak orang. Selain itu, keluarganya terluka berkali-kali dan harus lari dari rumah. Bahkan suatu hari putranya terbunuh karena serangan dari para perampok. Mutiara itu pada akhirnya menghancurkan keluarganya dan akhirnya Kino membawa Mutiara itu dan  melemparkannya kembali ke laut.

Dengan menggunakan pendekatan semiotik, kita dapat menafsirkan novel ini bukan hanya sebagai kisah tentang kemiskinan dan keserakahan, tetapi juga sebagai tanda yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, harapan dan kehancuran, serta manusia dan nasib.

Mutiara memiliki peran sentral sebagai tanda utama dalam novel The Pearl.Seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita berpusat pada keberadaan mutiara mulai dari penemuan dan akhirnya pembuangan. Mutiara menjadi titik awal dan akhir dari konflik yang membentuk alur novel ini. Mutiara berfungsi sebagai penanda (signifier) yang menggerakkan seluruh makna dalam teks (Ferdinand de Saussure, 1916). Hal ini  karena semua perubahan nasib, emosi, dan tindakan tokoh utama, Kino, selalu berhubungan dengan simbol tersebut. Ketika Kino menemukan mutiara, harapan dan ambisinya tumbuh. Namun seiring waktu, benda itu justru memicu keserakahan, kekerasan, dan penderitaan yang berujung pada kehancuran keluarganya. Dengan demikian, mutiara menjadi pusat makna sekaligus penghubung antara berbagai peristiwa (sekuen) yang membentuk struktur naratif novel ini.

Mutiara juga dapat dianalisis melalui tiga jenis relasi tanda, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Sebagai ikon, mutiara merepresentasikan kemurnian dan keindahan alami (Charles Sanders Peirce (1931–1958)),. Kilauannya mencerminkan kesucian dan impian Kino akan kehidupan yang lebih baik. Sebagai indeks, mutiara menandai perubahan nasib dan keadaan Kino. Sejak penemuannya, kehidupan keluarga itu berubah drastis dari kedamaian menjadi kekacauan, sehingga mutiara berfungsi sebagai petunjuk nyata atas pergeseran hidup dan moral tokoh utama. Sedangkan sebagai simbol, mutiara mewakili gagasan yang lebih abstrak yaitu kekayaan, kekuasaan, keserakahan, dan penderitaan manusia. Dalam hal ini, mutiara menjadi simbol paradoksal yaitu mengandung daya tarik sekaligus kehancuran dan mencerminkan sisi gelap keinginan manusia.

Dalam konteks representasi makna, mutiara dalam The Pearl memiliki makna yang berbeda bagi setiap tokoh dan lapisan sosial. Bagi Kino, mutiara pada awalnya melambangkan harapan dan impian. Ia melihatnya sebagai jalan untuk keluar dari kemiskinan, menyekolahkan anaknya, serta memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, makna itu segera bergeser ketika mutiara mulai menimbulkan ketamakan di sekelilingnya. Bagi para pedagang dan orang-orang di kota, mutiara justru menjadi simbol keserakahan dan kekuasaan, yang membuat mereka berusaha mendapatkan mutiara itu dengan cara apa pun. Dengan kata lain, mutiara tidak hanya menjadi benda berharga, tetapi juga cerminan moral manusia yakni mengungkapkan sejauh mana seseorang dapat dikendalikan oleh ambisi dan keinginan.

Makna mutiara dapat dipahami melalui tiga lapisan makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos (Roland Barthes (1957)). Secara denotatif, mutiara menunjuk pada suatu benda berharga, yang dicari, diimpikan dan diagungkan oleh semua orang.

And to Kino the secret melody of the maybe pearl broke clear and beautiful, rich and warm and lovely, glowing and gloating, and triumphant. …

From now they would watch Kino and Juana very closely to see whether riches turned their heads, as riches turned all people’s head. (Steinbeck, 1947/1992, The Pearl, Chapter 2, p 25-28)

Dari kutipan diatas, pemaknaan mutiara secara denotatif menjadi semakin jelas, yaitu merujuk pada suatu barang yang bernilai tinggi, dan apabila dijual, bisa mendatangkan kekayaan bagi pemiliknya. Semakin tinggi nilai mutiara, biasanya ditentukan dari ukuran dan warna, semakin tinggi juga nilai jualnya. Dengan demikian, semakin banyak keuntungan yang bisa diperoleh oleh pemiliknya.

Hal tersebut dapat terlihat dari harapan-harapan Kino untuk menjual mutiara sehingga Kino membayangkan masa depan yang lebih baik. Dia ingin pakaian baru untuk keluarganya dan dirinya sendiri, pernikahan yang layak untuknya dan Juana, dan pendidikan yang pantas untuk Coyotito. Kino percaya bahwa mutiara akan memungkinkan dia untuk mendapatkan hal-hal ini.

He looked into his pearl to find his vision. “When we sell it at last, I will have a rifle,” he said, and he looked into the shining surface for his rifle, but he saw only a huddled dark body on the ground with shining blood dripping from its throat. And he said quickly, “We will be married in a great church.” And in the pearl he saw Juana with her beaten face crawling home through the night. “Our son must learn to read,” he said frantically. And there in the pearl Coyotito’s face, thick and feverish from the medicine.

And Kino thrust the pearl back into his clothing, and the music of the pearl had become sinister in his Now the tension which had been growing in Juana boiled up to the surface and her lips were thin. “This thing is evil,” she cried harshly. “This pearl is like a sin! It will destroy us,” and her voice rose shrilly. “Throw it away, Kino. Let us break it between stones. Let us bury it and forget the place. Let us throw it back into the sea. It has brought evil. Kino, my husband, it will destroy us.” And in the firelight her lips and her eyes were alive with her fear. (Steinbeck, 1947/1992, The Pearl, Chapter 3, p. 53)

Dari petikan diatas, pemaknaan mutiara menggambarkan bahwa mutiara dapat menimbulkan kejahatan dan dosa seperti yang di ucapkan oleh Juana terhadap Kino bahwa mutiara ini seperti dosa yang akan menghancurkan kehidupan keluarga kino sehingga Juana menyarankan untuk melemparkan kembali mutiara ke laut.

Hal yang berbeda bahwa representatif dalam pemaknaan mutiara secara konotatif menyimbolkan “kejahatan” dan “dosa” seperti dalam kutipan dibawah ini. Pemaknaan konotasi mutiara digambarkan dengan adannya perubahan yang dialami Kino. Pada awalnya, mutiara adalah objek alam yang sederhana dan indah. Namun, setelah terjerat dengan pengertian nilai material ia menjadi destruktif dan berbahaya. Dengan kata lain bahwa mutiara adalah objek keindahan dan kebaikan alam yang menggambarkan kejahatan yang melekat pada manusia.

Now the tension which had been growing in Juana boiled up to the surface and her lips were thin. “This thing is evil,” she cried harshly. “This pearl is like a sin! It will destroy us,” and her voice rose shrilly. “Throw it away, Kino. Let us break it between stones. Let us bury it and forget the place. Let us throw it back into the sea. It has brought evil. Kino, my husband, it will destroy us.” And in the firelight her lips and her eyes were alive with her fear. (Steinbeck, 1947/1992, The Pearl, Chapter 3, p 75)

Dari petikan diatas, pemaknaan mutiara menggambarkan bahwa mutiara dapat menimbulkan kejahatan dan dosa seperti yang di ucapkan oleh Juana terhadap Kino bahwa mutiara ini seperti dosa yang akan menghancurkan kehidupan keluarga kino sehingga Juana menyarankan untuk melemparkan kembali mutiara ke laut.

Pergeseran makna dari denotatif ke konotatif ini memperlihatkan bagaimana Steinbeck menggunakan simbol mutiara untuk menyampaikan pesan moral universal bahwa sesuatu yang tampak indah dan menjanjikan tidak selalu membawa kebahagiaan. Justru di balik kilauannya tersimpan sisi gelap keserakahan yang dapat menghancurkan manusia itu sendiri.

Lebih jauh lagi, pada tingkat mitos, mutiara dalam The Pearl sebagai mitos kapitalisme dan keserakahan manusia. Mutiara menjelma menjadi simbol budaya yang mengandung ilusi kebahagiaan material yakni keyakinan bahwa kekayaan dapat membawa keselamatan dan kebahagiaan. Steinbeck secara kritis membongkar mitos tersebut. Mutiara yang semula dianggap membawa berkah justru menjadi sumber penderitaan, sehingga mengungkap paradoks dan ironi dalam pandangan manusia terhadap harta dan kebahagiaan.

“Everyone suddenly became related to Kino’s pearl… The priest wondered what the pearl would be worth, and the doctor thought of Paris and how he could return there.”
— (Steinbeck, 1947: p. 30–31)

Bagian ini memperlihatkan pergeseran makna mutiara dari simbol harapan menjadi simbol keserakahan sosial. Semua lapisan masyarakat mulai dari agamawan, dokter, hingga pedagang menjadi terobsesi dengan nilai ekonomis mutiara. Hal ini menggambarkan bagaimana kapitalisme bekerja sebagai sistem yang menular, mengubah relasi sosial menjadi relasi ekonomi. Dalam pandangan Roland Barthes (1957), pada tahap ini mutiara telah menjadi “mitos budaya”, karena maknanya telah dilembagakan oleh masyarakat “kekayaan dianggap sebagai tanda keberhasilan dan kekuasaan”

“And Kino drew back his arm and flung the pearl with all his might. Kino and Juana watched it go; winking and glimmering under the setting sun, it dropped into the gulf.”
— (Steinbeck, 1947: p. 90)

Adegan ini merupakan penutup dari kritik sosial Steinbeck. Ketika Kino melemparkan mutiara ke laut, ia sebenarnya menolak mitos kapitalisme dan kekuasaan materi. Mutiara kembali kehilangan makna mitologisnya, menjadi benda alam biasa tanpa nilai sosial. Tindakan Kino menandai pembersihan moral, bahwa keselamatan manusia tidak datang dari kekayaan, melainkan dari pembebasan diri terhadap ilusi material.

Berdasarkan analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa mutiara berfungsi sebagai simbol utama yang merepresentasikan perjalanan makna dari harapan menuju kehancuran, sekaligus menjadi kritik terhadap mitos kapitalisme dan keserakahan manusia.

Pada awalnya, mutiara menjadi tanda harapan dan kesejahteraan, namun perlahan berubah menjadi simbol keserakahan, eksploitasi, dan kehancuran moral. Melalui transformasi makna ini, Steinbeck menunjukkan bahwa sistem nilai materialistik telah menyesatkan manusia dari kemurnian hati dan solidaritas sosial. Puncaknya, ketika Kino melemparkan mutiara ke laut, tindakan tersebut menjadi simbol penolakan terhadap mitos kapitalisme dan pembebasan dari ilusi kebahagiaan material. Dengan demikian, mutiara dalam The Pearl mencerminkan ambivalensi makna antara harapan dan kehancuran, serta menegaskan pesan moral bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari harta, melainkan dari kemanusiaan yang murni.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *