Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Aku, Kamu, Kala Itu

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Ariyana Saputri

Kala itu, aku dan kamu belum benar-benar memahami apa arti perasaan. Aku datang ketika hatimu sedang kosong, dan tanpa rencana kita saling mengisi. Kita berbagi cerita dalam sunyi, membiarkan malam menjadi saksi bagaimana rasa hangat dan nyaman tumbuh perlahan. Tanpa sadar, kamu membuat hati kecil ini merasa berarti—sesuatu yang sebelumnya tak pernah kuharapkan.

Aku dan kamu sering berbincang tentang hal-hal remeh yang justru terasa penting. Tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk usia kita, tentang masa depan yang masih samar arahnya. Kala itu, aku percaya semuanya bisa kita lewati bersama, seolah waktu adalah kawan yang akan selalu berpihak pada kita, tak pernah lelah menemani.

Kamu pernah berkata, “Kalau suatu hari kita berubah, semoga kenangan ini tetap sama.” Aku hanya tersenyum, tak benar-benar memahami maksud kata-katamu. Bagiku, kala itu adalah tentang tawa yang sederhana, tentang bahu yang saling menguatkan, dan tentang janji yang tak pernah terucap namun terasa begitu nyata di dada.

Hari-hari berlalu dengan kebiasaan kecil yang perlahan menjadi candu. Pesan singkat sebelum tidur, tawa tanpa alasan, dan diam yang tak pernah canggung. Aku kira semua itu akan bertahan lama. Aku kira kebersamaan ini cukup kuat untuk melawan apa pun yang datang setelahnya.

Namun, suatu hari kita memilih berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Andai kamu tahu, keputusan kala itu tak pernah benar-benar kuterima. Berpisah dengan seseorang yang ingin kuajak dalam setiap proses dan pertumbuhanku bukanlah hal yang mudah. Dari perpisahan itu, aku belajar bahwa tidak semua cerita ditakdirkan berakhir bahagia—sebagian hanya ingin dikenang dengan tenang.

Kini, aku sedang berusaha menerima semuanya dengan ikhlas. Lucu ya, sampai saat ini aku masih belajar melakukannya. Aku dan kamu, kala itu, mungkin memang tidak ditakdirkan untuk selamanya. Namun kenangan yang kita punya cukup untuk mengajarkanku arti kehilangan, dan betapa berharganya sebuah kebersamaan.

Terima kasih atas semua yang telah kamu usahakan untukku kala itu. Atas hadir yang pernah tulus, atas rasa yang pernah sederhana, dan atas cerita yang pernah membuatku percaya.

Karena pada akhirnya,
aku akan selalu mengingatmu—
sebagai kamu yang pernah mengisi hari-hariku,
sebagai “kita” yang hanya hidup di kala itu.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri, di titik mana semua mulai berubah. Apakah saat kita mulai sibuk dengan dunia masing-masing, atau ketika diam menjadi lebih sering daripada tawa? Kala itu, aku terlalu percaya bahwa rasa cukup untuk menjaga segalanya tetap utuh.

Ada malam-malam panjang ketika namamu hadir tanpa diundang. Bukan sebagai luka yang marah, melainkan sebagai ingatan yang pelan-pelan menyapa. Aku belajar berdamai dengan kenangan, meski tak selalu berhasil mengusir rindu yang tiba-tiba datang.

Aku juga belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Kadang, cinta hanya singgah untuk mengajarkan arti kehilangan, lalu pergi tanpa permisi. Dan meski berat, aku mulai mengerti bahwa kepergianmu bukan sepenuhnya kesalahan siapa pun.

Kini langkahku tak lagi sama. Ada jeda yang tak terlihat, ada kehati-hatian yang tumbuh setelah kepergianmu. Namun dari semua itu, aku menjadi versi diriku yang lebih kuat—bukan karena melupakanmu, melainkan karena pernah mengenalmu.

Jika suatu hari kita bertemu kembali, aku berharap kita bisa saling menatap tanpa beban. Bukan sebagai dua orang yang pernah saling memiliki, melainkan sebagai dua manusia yang pernah saling belajar dan bertumbuh.

Dan bila semesta kembali mempertemukan kita dalam bentuk yang berbeda, biarlah itu menjadi cerita baru. Sementara yang lama, biarlah tetap tinggal sebagai kenangan—hangat, jujur, dan abadi di ingatan tentang aku, kamu, kala itu.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *