
Ahmad Abdul Latief, lahir di Bandung, pada 27 Mei 2005, ia dikenal dengan nama pena Senandika. Kehadirannya di dunia literasi memberikan warna yang unik karena keberaniannya membuka sisi-sisi gelap kehidupan manusia yang sering kali diabaikan. Proses kreatifnya dimulai dari rasa gelisah melihat ketimpangan sosial dan hilangnya empati di tengah kehidupan yang penuh kekuasaan. Baginya, menulis bukan hanya sekadar hobi, tetapi merupakan proses meditasi sekaligus bentuk perlawanan terhadap kebisuan. Pengalaman menghabiskan waktu di sudut-sudut kota dan mendengarkan cerita masyarakat yang hidup di pinggiran menjadi sumber inspirasi utama bagi setiap karyanya. Ia terus bersemangat untuk berkarya demi menjaga agar api kesadaran dalam diri pembaca tidak pernah padam. Karya “Nurani yang Mati”, yang menggambarkan keruntuhan moral di kalangan orang berkuasa, serta “Api dan Dilema Pengembara”, sebuah refleksi tentang tanggung jawab dan ketidakseimbangan dalam kehidupan. Ia memiliki prinsip hidup bahwa “Keajaiban dan kutukan adalah dua sisi yang sama dari sebuah mata uang, dan keduanya harus diterima dengan bijak.”
Baginya, seorang penulis bukan hanya menulis kata, tetapi juga bertugas sebagai saksi sejarah yang memastikan bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh pihak yang menang, tetapi juga oleh mereka yang sering terpinggirkan.













Tinggalkan Balasan