Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Adab di Atas Ilmu

[Sumber gambar: https://masjidrayaaljabbar.com/]

Penulis: Abdul Wahid

Di antara sebab kemuliaan para ulama zaman dulu adalah mereka sangat memperhatikan adab. Adab terhadap orang tua, kepada guru dan kepada segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu. Ada cerita inspiratif yang menggambarkan betapa seorang ulama besar begitu menjunjung tinggi adab. Beliau adalah Imam Malik, seorang ulama besar, satu dari empat ulama madzhab dalam Islam yang termasyhur.

Saat imam Syafi’i melihat para murid imam Malik memberikan hadiah kuda-kuda yang bagus. Imam Syafi’i kemudian memuji kuda-kuda yang bagus tersebut. “Alangkah bagusnya kaki-kaki kuda itu.” Imam Malik kemudian berkata, “Kuda-kuda ini aku hadiahkan kepadamu.” Imam Syafi’i menimpali, “bukan itu maksudku, aku hanya memuji kuda-kuda yang bagus itu.” Imam Malik kembali berkata, “Aku malu naik kuda di atas tanah kota Madinah, yang dibawahnya ada jasad Rasulullah Saw.

Sungguh adab yang luar biasa dari seorang ulama kepada nabinya. Sebuah sikap yang patut dicontoh oleh kita semua selaku umat, orang awam, manusia biasa yang sarat dengan kekurangan. Adab adalah jalan meraih kemuliaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adab diartikan sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan dan akhlak. Adab merupakan cara bersikap yang benar, sedangkan akhlak adalah kepribadian yang melahirkan sikap tersebut. Adab yang baik akan kokoh jika bersumber dari akhlak yang mulia.

Bagi seorang pencari ilmu, menghormati dan menghargai gurunya adalah suatu keharusan. Guru adalah orang yang menunjukkan jalan kebenaran. Menuntun para santri dan muridnya di tengah kegelapan dunia ini. Ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Al-adab fauqal ilmi.” Pepatah ini berarti “adab di atas ilmu.” Maknanya adalah, perilaku baik dan moralitas lebih utama daripada sekadar pengetahuan, karena ilmu tanpa adab bisa berbahaya. Adab menjadikan ilmu lebih berkah dan bermanfaat. Banyak orang yang berilmu namun sedikit orang yang hidupnya sejalan dengan ilmu yang dimilikinya. Orang yang gelar akademiknya panjang dan berjejer di belakang namanya, tapi tidak merasa bersalah dan berdosa saat melakukan kemaksiatan dan perbuatan dosa. Maka, diantara penyebabnya adalah karena dalam pencarian ilmunya kurang memperhatikan adab.

Saat ini ada kecenderungan para pencari ilmu, murid dan santri, mengabaikan adab terhadap para gurunya. Berbeda dengan para santri dan murid jaman dulu. Mereka begitu hormat dan patuh pada gurunya. Jangankan untuk duduk bareng berdekatan, menatap matanya saja tidak berani. Suara direndahkan didepan guru. Berjalan untuk selalu di belakangnya dan perilaku-perilaku santun lainnya. Serbuan teori-teori pendidikan dari Barat yang terlalu mementingkan hasil daripada proses, semakin melemahkan adab di mata para murid atau santri terhadap guru dan ustaznya. Antara guru dan murid diposisikan sejajar. Ini mengakibatkan berkurangnya kesantunan. Secara spekulatif, sering disebut bahwa peristiwa dan kejadian buruk yang terjadi adalah karena sudah berkurang nya keberkahan. Dan keberkahan itu sangat berhubungan dengan adab.

Semoga catatan sederhana ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk kembali menghidupkan adab dalam kehidupan sehari-hari.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *