Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Elegi Nirmanusia

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Heri Isnaini

Sejak lama, manusia menempatkan dirinya sebagai pusat semesta. Dalam kosmologi klasik hingga modern awal, manusia bukan sekadar penghuni dunia, melainkan penafsir utama realitas. Segala sesuatu (alam, waktu, bahkan Tuhan) ditafsirkan melalui kesadaran manusia. Cara pandang ini dikenal sebagai antroposentrisme, yakni keyakinan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, posisi ini mulai retak. Tidak runtuh secara dramatis, tetapi terkikis perlahan, seperti batu yang dilindas air waktu. Pertanyaan mendasarnya kini bukan lagi “Apa itu manusia?”, melainkan “Apakah manusia masih relevan sebagai pusat?”

Retakan pertama muncul dari dalam filsafat itu sendiri. Pemikiran Michel Foucault mengguncang asumsi bahwa manusia adalah subjek yang stabil dan otonom. Dalam kerangka arkeologi pengetahuan, manusia justru dipandang sebagai konstruksi historis, produk dari diskursus yang terus berubah. Manusia bukan fondasi, melainkan efek. Bahkan, Foucault secara provokatif menyatakan bahwa manusia bisa saja lenyap seperti gambar di pasir yang dihapus ombak. Pernyataan ini bukan ramalan kiamat biologis, melainkan kritik epistemologis bahwa “manusia” sebagai pusat makna adalah ilusi yang sementara.

Gelombang kedua datang dari eksistensialisme. Jean-Paul Sartre memang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab atas maknanya sendiri. Namun, kebebasan itu justru membuka jurang. Manusia harus menciptakan makna dalam dunia yang tidak menyediakan makna secara inheren. Di sini, pusat itu tidak kokoh, melainkan rapuh yang bergantung pada kesadaran yang terus-menerus terancam oleh absurditas. Manusia bukan pusat yang stabil, tetapi pusat yang selalu goyah.

Retakan yang lebih radikal datang dari perkembangan teknologi dan sains kontemporer. Kecerdasan buatan, algoritma, dan sistem komputasi kini mampu melakukan banyak hal yang dulu dianggap eksklusif milik manusia, seperti menulis, menganalisis, bahkan “berpikir.” Dalam konteks ini, manusia tidak lagi menjadi satu-satunya agen rasional. Ia berbagi ruang dengan entitas nonmanusia yang semakin otonom. Dunia tidak lagi berputar di sekitar kesadaran manusia, melainkan dalam jaringan kompleks antara manusia, mesin, dan data.

Selain itu, krisis ekologi juga memperlihatkan keterbatasan posisi manusia. Alam tidak lagi dipandang sebagai objek pasif yang dapat dieksploitasi tanpa konsekuensi. Bencana ekologis, seperti perubahan iklim, kepunahan spesies, kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar dan rapuh. Dalam perspektif ini, manusia justru tampak sebagai ancaman bagi keseimbangan semesta, bukan pusatnya.

Di titik ini, kita memasuki wilayah yang sering disebut sebagai posthumanisme, yaitu sebuah cara pandang yang tidak lagi menempatkan manusia sebagai pusat tunggal. Dalam kerangka ini, manusia hanyalah salah satu dari banyak entitas yang membentuk realitas. Tidak ada hierarki absolut, yang ada hanyalah relasi.

Namun, melemahnya posisi manusia sebagai pusat semesta bukan berarti manusia menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, ini adalah undangan untuk meninjau ulang cara kita memahami diri. Jika manusia bukan pusat, maka ia adalah bagian. Jika ia bukan penguasa, maka ia adalah peserta. Dan sebagai peserta, manusia dituntut untuk lebih rendah hati tidak hanya terhadap alam, tetapi juga terhadap batas-batas pengetahuannya sendiri.

Dalam konteks ini, “nirmanusia” bukan berarti dunia tanpa manusia, melainkan dunia yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada manusia untuk memiliki makna. Ini adalah dunia tempat manusia belajar melepaskan klaim absolutnya, dan mulai mendengarkan suara-suara lain, seperti alam, teknologi, bahkan keheningan.

Barangkali, di situlah paradoksnya, ketika manusia berhenti menjadi pusat, ia justru menemukan kembali tempatnya tidak sebagai penguasa semesta, tetapi sebagai makhluk yang sadar akan keterbatasannya. Dan mungkin, kesadaran itulah yang paling manusiawi dari semuanya.

Bandung, 29 Maret 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *